Ahli Ungkap Salah Urus Lahan Gambut Sebab Banjir Besar Kalsel

Batamxinwen, Jakarta – Ahli Kehutanan dan Lingkungan Bambang Hero Saharjo membeberkan beberapa faktor penyebab banjir besar yang menerjang Kalimantan Selatan (Kalsel). Salah satunya terlalu banyak lahan gambut yang tidak diperhitungkan dalam pembuatannya.

“Ketika musim kemarau lahan gambut jadi penyelamat agar tidak terjadi kebakaran hutan, namun justru bisa jadi bumerang kalau membuatnya tidak diperhitungkan dengan debit air di musim hujan,” ujar Bambang kepada CNNIndonesia.com, Selasa (19/1).

Ia menjelaskan lahan gambut sangat membantu untuk kestabilan ekosistem hutan, karena kekeringan lahan yang terjadi di hutan bisa diatasi salah satunya dengan optimalisasi lahan gambut.

Untuk itu peran pemerintah harus lebih ekstra untuk mengurus lahan gambut yang ada di seluruh wilayah di Indonesia untuk meminimalisir bencana-bencana yang terjadi, salah satunya banjir di Kalsel.

“Karena gambut ini sensitif ya dia benar-benar diurus. Kalau tidak, justru ini bisa menjadi bencana yang merugikan masyarakat nantinya,” katanya

Di samping itu, Ia juga menggarisbawahi peran pemerintah dan regulator terkait pengurusan perizinan dan alih fungsi lahan yang kerap menyasar ekosistem hutan di Indonesia.

Illegal logging, pertambangan dan pengalihan fungsi hutan yang dijadikan industri perkebunan harus diperhatikan untuk kestabilan ekosistem hutan yang disesuaikan dengan penataan ruang dan pembangunan yang berkelanjutan.

Bambang juga menyayangkan kebakaran hutan yang kini masih sering terjadi di hutan Kalimantan yang sudah sejak tahun 80-an telah melahap paru-paru dunia.

Pada tahun 1982 terjadi 3,6 juta lahan yang terbakar, membengkak di tahun 1997 menjadi 10 juta hektar, hingga pada tahun 2019 Ia menilai masih ada kebakaran hutan yang terjadi di Kalimantan.

Namun Bambang berharap dengan adanya bencana alam di Kalsel bisa menjadi perhatian serius bagi pemerintah untuk melakukan perubahan yang dimulai secara konsisten untuk melindungi hutan di Indonesia.

“Mudah-mudahan apa yang terjadi ini tidak diselesaikan dalam waktu seminggu saja, tapi harus konsisten berkepanjangan. Jangan coba-coba bermain dengan alam,” ujarnya.

Koordinator Kampanye Walhi Edo Rakhman juga memberikan pandangan serupa terkait banjir yang menenggelamkan hampir 10 Kabupaten/Kota di Kalimantan selatan.

Ia menambahkan alih fungsi lahan hutan menjadi pertambangan batu bara dan kelapa sawit menjadi penyebab hilang kestabilan alam, terlebih di Kalimantan Selatan terdapat pegunungan Meratus yang rencananya akan dijadikan tempat eksplorasi tambang oleh pihak swasta.

“Di Kalsel itu terdapat pegunungan satu-satunya yang masih tersisa, ini menjadi penyangga ekosistem alam di Kalimantan selatan. Kalau dijadikan tambang dan dikeruk, habislah semua,” tuturnya kepada CNNIndonesia.com, Selasa (19/1).

Lebih lanjut Ia menilai, hampir setengah dari lahan hutan yang ada di Kalimantan sudah diambil alih korporasi untuk di alih fungsikan menjadi lahan usaha yang tidak memperhitungkan dampak kerugian masyarakat kedepannya.

“Hampir setengah dari sisa hutan diambil alih korporasi. kalau semua di eksploitasi dan jadinya gundul apakah harusnya slogan Indonesia paru-paru dunia itu harus dipertahankan?,” ujarnya.

Disamping itu Ia berharap kepada pemerintah untuk lebih serius menangani fenomena-fenomena alam yang perlahan muncul dan merugikan masyarakat. Fenomena ini menjadi sinyal untuk pemerintah agar bijak dalam membuat regulasi dan memberikan ketegasan kepada pihak pengusaha yang berpotensi merusak alam. (***)

Sumber : CNN Indonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here