Foto: Para demonstran berlari untuk menembus barikade di terminal Bandara Internasional Hong Kong Minggu(1/9). (REUTERS/Kai Pfaffenbach)

Batamxinwen, Jakarta – Kekacauan politik selama berbulan-bulan di Hong Kong melumpuhkan bisnis di kota itu. Akibatnya pekerja restoran merasakan kepedihan karena kehilangan pekerjaannya.

Seperti dikutip detikcom dari CNN, Minggu (8/9/2019), sejak Juni setidaknya sudah 700 pegawai restoran yang kehilangan pekerjaan.

Tak hanya itu, mereka yang selamat dari PHK pun tetap dibayang-bayangi ketidakpastian. Banyak restoran sudah meminta karyawan mereka untuk mengambil cuti tanpa bayaran. Hal itu menurut juru bicara serikat pekerja yang mewakili sekitar 9.000 anggota.

Selain restoran, hotel-hotel besar juga meminta pekerjanya untuk tinggal di rumah sementara tanpa bayaran. Hal itu karena bisnis perhotelan melambat.

“Kalian semua tahu situasi yang dihadapi Hong Kong sejak awal Juni 2019 dengan protes,” kata manajer umum properti Claus Pedersen.

Berdasarkan keterangan Michael Chan, seorang organisator di Serikat Umum Karyawan dan Industri Hotel, kelompoknya telah menemukan bahwa sebanyak 14 hotel sudah meminta pekerjanya untuk mengambil cuti yang tidak dibayar.

Kondisi tersebut disebabkan anjloknya okupansi hotel. Jika biasanya okupansi hotel bisa menyentuh 70% hingga 80%, sekarang ini telah mendekati 50%, dan pada satu titik bahkan anjlok hingga hanya 20%.

Sumber: detikfinance

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here