Arnita Rizqie Zamharis dan Khairani Zamharis bersama kedua orangtuanya, Zamharis dan Lusi Ernita. Foto: koleksi pribadi Arnita

Batamxinwen, Batam – Sejak empat bulan lalu, Arnita Rizqie Zamharis, sisiwi kelas 8 SMP Mummadiyah Plus bersama adiknya, Khairani Zamharis, siswi kelas 5 SD di sekolah yang sama, mulai suka ngevlog. Mereka juga banyak melihat video-video vlogger seusia mereka, yang kebanyakan berisi tentang budaya-budaya barat luar, salah satunya, yang paling digemari milenial saat ini, segala sesuatu yang berasal dari Negeri Gingseng, Korea.

Melihat kenyataan kebanyakan milenial saat ini yang menggandrungi budaya luar, Arnita bersama adiknya, Khairani, jadi tertantang untuk membuat vlog. “Kami mau buat vlog yang isinya tentang budaya sendiri. Kebetulan saya suka menyanyi lagu-lagu Melayu dan menari tarian Melayu,” ujar anak dari pasangan Zamharis dan Lusi Ernita itu pada Batamxinwen.com ditemui di rumahnya di bilangan Batamcentre, Sabtu, 17 Oktober 2020 malam.

Melalui Ayahnya yang punya hubungan erat dengan organisasi masyarakat Melayu, sebuah lagu Melayu berjudul “Budi yang Baek” pun diciptakan khusus untuknya oleh seorang pencipta lagu Melayu di Batam, Abdul Razak Al Bentani. Arnita pun mulai rekaman dan membuat video klip untuk lagunya itu. “Trailer video klipnya sudah Arnita unggah ke YouTube. Video fullnya sebentar lagi akan diunggah,” ujarnya.

Kecintaan Arnita kepada budaya Melayu sudah sejak ia masih duduk di bangku Taman Kanak-kanak. Ia sering meraih juara I dan II di beberapa perlombaan Tari Kreasi Melayu hingga lomba fashion show. Sederet piala sejumlah lomba juga terpajang di rumahnya. Tak heran jika saat ini Arnita dan Khairani, adiknya, ingin membuat konten vlog yang berisi tentang budaya Melayu. Hobi sekaligus mempertahankan budaya sendiri.

Anita dan Khairani dengan sederet piala. Foto: koleksi pribadi Arnita
Tangkapan layar trailer lagu berjudul “Budi yang Baek” yang dinyanyikan Arnita Khairani Zamharis.

Arnita mengaku, hobi barunya itu, didukung sepenuhnya oleh kedua orang tuanya. Dengan catatan, tidak mengganggu waktu belajar dan sekolah, serta membuat konten-konten positif yang bermanfaat untuk orang lain, dan tetap selalu berbagi dengan sesama. “Mama sama papa selalu mendukung, kok. Buktinya, kami dibelikan semua perangkat pendukung untuk ngevlog, termaksud paket data. Tapi ya tetap nggak boleh ganggu belajar,” ujar Arnita diamini Khairani.

Bahkan, kata Arnita, jika vlognya nanti menghasilkan uang, ia berniat akan menggunakan pendapatannya itu untuk berbagi pada sesama yang membutuhkan seperti yang sudah ia lakukan beberapa waktu ke belakang. Dua gadis kecil ini rela menyisihkan uang jajannya untuk ditabung kemudian dibelikan sembako untuk dibagi-bagikan kepada orang-orang yang membutuhkan.

Sementara itu, Zamharis, pria yang bekerja di sub unit Anti trafccking Polda Kepri ini, mengaku, tidak melarang anak-anaknya untuk mengembangkan kreativitasnya dengan membuat vlog. “Selama itu positif tidak masalah. Apalagi kalau niat mereka adalah untuk mempertahankan budaya sendiri. Saya sebagai orang tua hanya bisa mendukung dan memantau apa yang mereka lakukan agar tetap positif sambil mengarahkan mereka membuat konten-konten yang informatif. Walaupun harus mengeluarkan biaya lebih bagi mereka,” kata Zamharis sambil tertawa.

Mau lihat aksi Arnita dan Khairani saat ngevlog? Kunjungi Arni Chanel di https://youtu.be/ZIm850q-8F8. Dukung gadis-gadis ini untuk membuat vidoe-video yang menghibur dan tetap mempertahankan budaya sendiri. (red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here