Batamxinwen, Batam – Berada di zona perdagangan bebas atau free trade zone (FTZ), Batam bersama dengan Bintan dan Karimun yang merupakan bagian dari Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) terus meningkatkan eksportasi produk pertaniannya. Tercatat dari sistem otomasi perkarantinaan di Batam pada awal 2019 terjadi kenaikan jumlah ekspor dibandingkan tahun lalu sebesar 24 persen. Yaitu pada Periode Januari hingga Februari 2018 terdapat ekspor 59.224,57 ton atau senilai Rp839,17 miliar sedang pada periode yang sama pada tahun 2019 sebesar 73.425,9 ton senilai Rp936,57 miliar.

“Kita dorong pertumbuhan ini dengan bersinergi dengan seluruh elemen,” kata Ali Jamil selaku Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan) saat melepas ekspor komoditas pertanian di Dermaga Utara Pelabuhan Laut Batu Ampar, Batam, Selasa (19/3/2019) malam.

Lanjut Ali, Kementerian Pertanian RI kembali bersinergi dengan pemerintah daerah di Provinsi Kepulauan Riau, kali ini melepas ekspor komoditas pertanian berupa kakao dan kelapa bulat senilai Rp46,99 miliar dengan negara tujuan Jerman, Amerika Serikat, Estonia, Vietnam, Meksiko, dan Malaysia.

Kegiatan tersebut adalah inisiasi dari Kementan lewat Badan Karantina Pertanian dengan programnya Agro Gemilang 2019 yang bertujuan meningkatkan ekspor komoditas pertanian yang berbasis wilayah dan menambah jumlah eksportir dibidang pertanian.

“Ekspor ini harus kita ekspose, supaya masyarakat tahu bahwa kita punya potensi, ini harus digarap,” tambahnya.

Ia juga menekankan bahwa Kementan berkomitmen menjaga kualitas dan mendukung ekspor komoditas pertanian daerah agar memenuhi persyaratan SPS (sanitary dan phytisanitary) negara tujuan. Sehingga tidak terjadi penolakan saat tiba di negara tujuan. Kementan akan terus bersinergi dengan daerah untuk mendorong dan meningkatkan ekspor non migas terutama sektor pertanian.

“Lewat program Agro Gemilang ini tidak hanya itu, kita ingin ada peningkatan volume dan penambahan eksportir dan juga negara tujuan, agar nilai tambah ini bisa bermanfaat lebih banyak,” ungkapnya.

Sementara Kepala Karantina Pertanian Batam Suryo Irianto Putro menjelaskan, pada tahun 2018 terdapat 49 komoditas asal Batam yang diekspor ke berbagai negara di antaranya ampas wangi, kakao, kelapa bulat, minyak sawit, rumput laut, dan sarang walet.

Dengan 20 negara mitra dagang di antaranya Amerika Serikat, Angola, Bangladesh, Belanda, Brazil, Tiongkok, Kamboja, Kanada, Mesir Jerman, Yordania, India, Korsel, Malaysia, Meksiko, Singapura, Tanzania, dan Vietnam. ”

Keseluruhannya memiliki nilai total ekspor mencapai Rp19,32 triliun,” jelasnya.

Gubernur Kepulauan Riau Nurdin Basirun dalam sambutannya mengatakan, ekspor produk pertanian ini juga membenarkan bahwa Batam punya potensi sektor migas bidang pertanian yang cukup potensial. Menurutnya, program tersebut perlu didorong dan didukung. Pihaknya pun berjanji akan mengoptimalkan upaya yang ada melalui dinas dan lembaga penelitian agar hasil yang didapatkan petani bisa lebih optimal.

“Program ini perlu didukung, kita akan lakukan seoptimal mungkin supaya eksportir dan petani mendapat nilai tambah yang optimum selain juga jadi devisa untuk daerah,” ujarnya.

Dalam kegiatan itu, Gubernur Kepri Nurdin Basirun juga menerima aplikasi I-MACE dari Kepala Barantan RI. I-MACE atau Indonesia Maps of Agricultural Commidities Exports merupakan aplikasi yang dapat digunakan seluruh pemangku kebijakan baik pusat maupun daerah dalam memetakan potensi ekspor di wilayahnya. Aplikasi yang baru saja di luncurkan oleh Menteri Pertanian pada Rabu (13/3) di Makassar ini diharapkan mampu menjadi tools bagi landasan pengambilan kebijakan peningkatan ekspor produk pertanian di daerah.(fathur)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here