Persediaan air bersih masyaraakat Kota Batam di Dam Tembesi. Foto: BX/fathur

Batamxinwen, Batam – PT. Adhya Tirta Batam (ATB) mendesak agar Badan Pengusahaan (BP) Batam segera mempercepat tender pengelolaan Dam Tembesi yang digadang-gadang menjadi cadangan air baku Batam.

Hal itu diungkapkan oleh Presiden Direktur PT. ATB Batam Benny Andrianto menanggapi kondisi Dam Tembesi yang sangat memprihatinkan. Terlebih saat ini Dam Tembesi diketahui masih belum dapat dioperasionalkan secara maksimal. Ia bahkan memprediksi apabila tender tidak segera dilakukan, maka Dam Tembesi hanya akan bertahan hingga tahun 2020.

“Kalau dilihat sekilas memang seperti tidak ada apa-apa. Tapi kalau dilakukan pemantauan dari udara dan masuk ke wilayah Dam Tembesi lebih dalam, baru terlihat masalah sudah ada mulai dari hulu hingga hilir Dam ini,” ujarnya, Senin (25/02/2019).

Benny memaparkan, untuk kawasan hulu Dam Tembesi saat ini, sudah diperuntukan untuk wilayah pemukiman. Di mana saat ini sudah ada pengembang, yang mulai melakukan pembangunan bahkan sudah ditempati oleh masyarakat. Hal itu akan berakibat pada kondisi dam yang tercemar limbah rumah tangga.

“Akibat penyelesaian keputusan yang lama, sekarang daerah tersebut sudah dialokasikan untuk pemukiman. Apabila nanti ada pemenang tender, tidak mungkin mereka mengusir penduduk yang tinggal di sana,” paparnya.

Kondisi saat ini bahkan semakin diperparah, dengan keberadaan tambang pasir liar yang marak terjadi di sekitar daerah tangkapan air. Bergerak ke sisi ujung dam, air di tempat tersebut sudah berwarna keruh.

Ditambah dengan perkebunan warga sekitar, yang membuat semakin ke hilir perubahan warna air sudah semakin mendekati warna hitam. Kurangnya pengawasan, serta tidak adanya hutan untuk menjadi daerah resapan membuat keadaan itu tidak bisa ditolerir lagi.

Sebelumnya Dam Tembesi ditargetkan akan memiliki kapasitas air sebesar 600 liter per detik. Perhitungan angka ini, menurut Benny, didapat jika kondisi hutan di sekitar daerah tangkapan air utuh.

Namun berbeda dengan harapan, kenyataan di lapangan saat ini kawasan Dam Tembesi justru tak memiliki kawasan hutan yang banyak. Benny juga kembali mengingatkan bahwa Dam Tembesi nantinya diperuntukkan menyuplai air bersih untuk warga di kawasan Batuaji, Tanjunguncang, dan sekitarnya.

“Kondisi Dam Tembesi lebih parah dari Dam Sei Harapan. Kalau di Dam Harapan ada pendangkalan, kalau di Dam Tembesi, daerah resapan airnya hancur. Masyarakat Batam harus mengetahui bagaimana kondisi Dam Tembesi sebenarnya, bukan hanya progres tender saja,” tegasnya.

Sementara itu, saat ini kondisi ketersediaan air di Batam sudah memasuki ambang batas. Hal ini ditambah dengan pertumbuhan penduduk Batam. Pihaknya juga menegaskan bahwa Batam memerlukan tambahan sumber cadangan air baku lain, dikarenakan kondisi Batam yang tidak memiliki sumber mata air. Untuk itu, Benny mendesak BP Batam agar segera mengambil sikap.

“Batam ini berpotensi defisit air, dan Dam Tembesi harusnya awal 2019 kemarin jalan tendernya. Tapi baru sekarang mulai lelang tendernya dengan target selesai pada April tahun ini. Kalau pelaksanaannya memakan waktu satu tahun, berarti baru siap April 2020, kira-kira nantinya banyak keluhan tidak?” tutupnya. (fathur)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here