Begini Pesan ABI Jelang Konferensi Dunia di Skotlandia Terkait Perubahan Iklim

Founder ABI, Hendrik Hermawan

Batamxinwen, Batam – Menjelang digelarnya even COP26 (Conference on Parties) di Glasgow, Skotlandia pada November mendatang, perkumpulan Akar Bhumi Indonesia (ABI) menyampaikan pesan khusus kepada para petinggi dunia terkait pentingnya menjaga lingkungan tersebut.

Berikut pesan khusus ABI yang dituliskan langsung oleh Founder ABI, Hendrik Hermawan sebagaimana dilansir dari akun Facebook @sangparamora pada Minggu (24/10/2021).

Event COP26 (Conference on Parties), COP terbesar setelah Paris Agreement 2015 ini diprakarsai Inggris dengan mengundang seluruh negara yang tergabung dalam UNFCCC (United Nation framework convention on climate change), NGO, tokoh-tokoh dunia dan lokal yang bergerak bersama dalam upaya pengendalian perubahan iklim.

Perubahan iklim, pemanasan global, efek gas rumah kaca, emisi karbon, penggurangan kenaikan suhu dibawah 2 derajat merupakan topik yang menunjukan keseriusan negara di dunia dalam upaya menyelamatkan bumi dari kehancuran.

Berabad-abad lamanya manusia merusak bumi, generasi ke generasi tanpa disadari mengeksploitasinya tanpa menyadari bahwa hal tersebut berdampak terhadap kemampuan generasi masa depan dalam pemenuhan kebutuhan hidupnya.

Industrialisasi yang marak di tahun 1750 an (revolusi industri) hingga sekarang telah memicu krisis lingkungan pada bumi, rumah umat manusia.

Tidak adil rasanya ketika sebagian kecil negara mengalami dampak buruk dari negara-negara lain, sebut saja naiknya air laut di Kiribati, meksiko, pantai pantura, kalimantan barat ataupun beberapa titik pesisir di Batam.

Ibaratkan pesta makan-makan di restoran, piring-piring kotor, serpihan gelas yang berantakan terhampar di sana dan datang kasir (UNFCCC) memberitahukan dan bertanya,

“Climate change’s bills is printing, so who gonna pay it?”

Lalu ada tamu yang nyletuk, kebetulan tamu itu tidak ikut menikmati hidangan,

” Just take a look your choice, the prize.”

Hampir semua manusia di planet ini memberikan kontribusi terhadap kerusakan alam, bahkan di saat kita duduk sambil berselancar di dunia maya pun kita telah menambah emisi karbon akibat aktivitas pabrik handphone ataupun pembangkit listrik yang masih berbahan fosil.

Tapi kita masih memiliki waktu dan kesempatan untuk menahan efek perubahan iklim. Dalam catatan perubahan iklim bukanlah hal pertama dialami bumi, namun kali ini penyebabnya adalah akvitas manusia bukan force major.

Bumi sebagai rumah bersama, akhirnya mengharuskan semua negara memberikan kontribusi untuk pengendalian perubahan iklim dimana Indonesia juga menjadi negara-negara pertama yang menyerahkan target NDC (nationally determined contributions) yang diupdate setiap 5 tahun sekali.

“It’s not about who take a big part but how you can do the best part in beating down climate breakdown”.

Berkenaan dengan event tersebut, Environmental Justice Foundation (EJF), sebuah NGO rekanan kami yang berpusat di London telah mengirim invitation letter kepada Akar Bhumi Indonesia untuk menghadiri perhelatan akbar dalam upaya dunia menghadapi climate breakdown.

EJF sendiri mengenal ABI salah satunya dari gencarnya advokasi lingkungan yang dilakukan ABI di Batam. Tidak peduli rakyat, birokrat, politikus, mafia, bahkan pendirian Sekolah Negeri dihentikan karena tidak terpenuhinya unsur lingkungan dalam pembangunanya.

Sebuah kehormatan bagi NGO Akar Bhumi Indonesia (ABI) mendapat undangan sekaligus pendanaan keberangkatan dari NGO Environmental Justice Foundation.

Berbagai upaya dilakukan dimasa pandemi covid-19 namun demikian, kebijakan redlight bagi warga Indonesia yang diberlakukan United Kingdom mengagalkan kehadiran EJF perwakilan Indonesia dan ABI dalam ajang pertemuan tingkat tinggi yang diadakan di Glasgow, Skotlandia pada tanggal 1 sd 10 November 2021.

Bahkan kami telah berupaya untuk “nyisip” atau bergabung DELRI (delegasi RI) agar mendapatkan kemudahan entry visa, namun rencana Presiden RI untuk turut hadir dalam pertemuan tersebut membuat prosedurnya lebih berat.

Akhirnya ketidakhadiran ABI di event COP26 diwakili dengan reportase yang akan ditayangkan di salah satu session acara tersebut.

Dalam pesan pendek, kami menyampaikan bahwa dukungan NGO Akar Bhumi Indonesia terhadap program UNFCCC dan pemerintah terhadap upaya pengendalian perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development).

Sebagai NGO yang menjadi pilar ke-4 negara (social control) maka ABI tidak akan segan atau ragu-ragu untuk mengkritik kebijakan pemerintah atau berupaya untuk menghentikan kegiatan yang tidak pro pada lingkungan sesuai protokol Kyoto.

Kami juga menyampaikan bahwa dalam rangka mengejar pembangunan atau rehabilitasi hutan dan lahan, beberapa masalah masih terjadi namun pemerintah juga butuh waktu untuk berjalan sesuai aturan dunia yang telah diratifikasi.

Segala upaya baik itu edukasi, sosialisasi, advokasi dan rehabilitasi sedang dilakukan secara pararel baik oleh pemerintah maupun NGO demi mempercepat tercapainya tujuan.

Indonesia sebagai pemilik hutan mangrove terluas di dunia dan hutan tropis terluas ke-2 di dunia menanggung beban moral yang cukup tinggi yang mana menjadikan Indonesia sebagai andalan untuk menahan efek buruk perubahan iklim.

Mangrove dianggap obat mujarab (panasea) untuk mengobati bumi yang sakit karena perubahan iklim, dalam mitologi yunani dewi Panasea adalah dewi penyembuh. Jumlah penduduk yang besar juga menjamin ketersediaan tenaga penanam.

Harapan kami dengan konsep ABI dalam menanam pohon, “one earth one heart” atau “sebumi sehati” maka siapapun dibelahan bumi ini dapat memberikan sumbangsih bagi bumi hanya dengan media handphone. Kami menyediakan situs menanam pohon yang dapat diakses dan termonitor.

” As fear as skandinavia countries and Micronesia Countries in facing the climate breakdown coz of melting the pole, Indonesia is archipelagos country.”

Saat ini manusia telah kehilangan rumah karena naiknya permukaan air laut dan menenggelamkan daratan, namun generasi masa depan akan menuai dampak yang lebih mengerikan yakni kehilangan peradaban. Mari bersama-sama sehati sebumi, bumi bukan warisan kita saat ini tapi warisan untuk generasi nanti. (Shafix)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here