Beragam Etnis Menyatu Dalam Rentak Joget OMPS

Pertunjukan musik OMPS di Pantai Melayu Batu Besar Nongsa. Senin (2/3/2020). Foto: Ihsan BX.

Batamxinwen, Batam – Musik mampu menyatukan perbedaan. Mengajak semua yang mendengarnya untuk larut dalam perasaan yang sama, seusia genre musik yang dimainkan tanpa memandang etnis pendengarnya. Semua bergerak seirama berjoget bersama. Menyatukan ragam etnis dalam musik rentak joget dapat ditemui dalam setiap pertunjukan musik Orkes Melayu Pancaran Senja (OMPS).

Kelompok musik Melayu tradisi itu sangat bersahaja, murah senyum, ramah sekali, saat bertemu dengan orang baru bertamu ke rumahnya. Mereka adalah orang-orang tradisi yang jujur dalam bermusik tradisi Melayu. Setiap alunan nada dan perpaduan ketukan pada rentak musik Melayu, dapat memberi dayak tarik kepada setiap penontonnya. Saat telinga penonton mendengar rentak joget itu, maka kaki-kaki itu tidak dapat diam begitu saja. Rasanya ingin segera bergerak seirama berjoget bersama rentak joget.

Bagi masyarakat kampung Melayu dan sekitarnya, rentak joget dalam pertunjukan musik OMPS sudah tidak asing lagi. Namun, tidak semua warga Batam tahu, kalau pertunjukan musik OMPS dapat mempersatukan beragam etnis yang ada di Kota Batam. Menurut Rahman, pimpinan OMPS. Kami sering memainkan musik rentak joget di Pantai melayu Batu Besar Nongsa ini, sebab antusias dan apresiasi para penonton masyarakat Batam untuk berjoget sangat luar biasa. Saya melihat ada beragam etnis yang datang ke sini.

Setiap hari Minggu pagi, pertunjukan musik OMPS sering diadakan pantai kampung Melayu Batu Besar Nongsa. Biasanya pantai selalu ramai dikunjungi oleh masyarakat Batam bersama keluarganya. “Selain itu  pengunjung masyarakat Batam dan dari luar Batam juga senang datang ke sini, bisa dari Singapore Malaysia untuk menyaksikan OMPS kami,”ujar Anwar sang vokalis, Senin (2/3/2020).

Mereka berekreasi rehat sejenak dari rutinitas pekerjaan sehari-hari. Adapun daya tarik pantai Melayu, seperti pemandangan laut, pasir pantai, memberi kebebasan kepada pengunjung untuk berenang di tepi pantai. Tak lupa kuliner jenis sea food udang, kerang, kepiting, serta minuman es kelapa, sembari menikmati pertunjukan musik OMPS.

Pengunjung yang memasuki Pantai Melayu biasanya dikenai uang karcis sebesar Rp 5.000 yang dibayar kepada istri, anak, atau cucu Rahman sebagai pengelola pantai. Biaya masuk ke Pantai Melayu digunakan sebagai uang kebersihan, serta perawatan Pantai Melayu. Perawatan-perawatan itu seperti pondok-pondok tempat pengunjung beristirahat menikmati suasana pantai. Pantai Melayu mempunyai dua arah sudut pandang, arah sudut pandang mata ke laut dan arah sudut pandang mata ke panggung pertunjukan musik.

Sementara, untuk sudut pandang mata ke arah panggung pertunjukan musik lokasinya berupa lapangan pasir pantai dengan ukuran panjang 100 meter dan lebar 10 meter. Lapangan pasir Pantai Melayu berfungsi bagi pengunjung beserta keluarga untuk berlesehan menggunakan tikar. Selain itu, apabila ada pengunjung atau penonton yang ingin berjoget ketika OMPS sedang pertunjukan musik. Maka, panggung pertunjukan dapat dimanfaatkan oleh penonton,”Ujar Rahman, Senin (2/3/2020).

Rahman sengaja membagi lokasi-lokasi tempat yang berada di Pantai Melayu, supaya pengunjung pantai merasa nyaman ketika berada di pantai Melayu. Hal ini menjadi strategi Rahman dengan menempatkan lokasi-lokasi tertentu pada tempatnya. Tujuannya, agar para pengunjung yang ingin menikmati laut ada tempatnya, dan pengunjung yang ingin menikmati pertunjukan musik Melayu ada juga tempatnya.

Salah satu ciri Pantai Melayu ialah, selalu ramai dikunjungi oleh masyarakat Batam pada libur nasional atau pada hari minggu. Pantai Melayu ini menjadi salah satu favorit tempat rekreasi yang dikunjungi, sebab pantai ini mempunyai ciri pertunjukan musik tradisi Melayu oleh OMPS yang dapat dinikmati secara langsung oleh masyarakat Batam.

Menurut Anwar, setiap pertunjukan OMPS baik di Pantai Melayu maupun di acara-acara pernikahan dan pemerintahan Kota Batam selalu memainkan empat rentak, yaitu rentak langgam, rentak inang, rentak zapin, dan rentak joget. Pada bagian rentak joget inilah yang menjadi ciri dari identitas kami, sehingga sampai saat ini, kami sering diundang oleh masyarakat Batam,” katanya.

“Rentak joget itu juga bukan hanya sekedar rentak atau genre musik Melayu. Namun, ia rentak yang dapat membuat orang-orang bergairah untuk berjoget lambak atau berpasang-pasangan,” Anwar vokalis dan MC OMPS, Senin (2/3/2020).

Pertunjukan Rentak Joget

Pertunjukan musik OMPS rutin dilaksanakan pada hari Minggu pukul 10.00 pagi di Pantai Kampung Melayu Besar Nongsa. Biasanya persiapan yang dilakukan sebelum pertunjukan, gotong royong sesama pemusik membawa sound system dan perlengkapan alat musik dari rumah Rahman menuju panggung pertunjukan musik di Pantai Melayu. Setelah itu, dilakukan pengecekan sound, pengesetan alat musik sesuai formasi masing-masing. Adapun instrumen musik OMPS seperti; gitar akustik, gitar bass, akordion, gendang bebano, tamborin, biola, dan seorang vokalis sekaligus MC. Sementara, konsep musikal; nada diatonos, birama empat perempat, enam perdelapan, dan tak lupa lagu ataupun syair pantun Melayu bisa cerita, cinta dan kasih sayang, ataupun nasehat.

Anwar seorang vokalis sekaligus pembawa acara memberi kata pembukaan selamat datang untuk pengunjung Pantai Melayu. Ketika pembukaan telah usai. Maka instrumen musik pun dimainkan sebagai pembuka. Permainan ini, biasanya bersifat improvisasi Anwar sebagai pemberi kode kepada pemusik OMPS lainnya melalui kesepakatan kapan memainkan rentak langgam, mak inang, zapin, dan joget, serta kapan berakhirnya permainan rentak. Dari segi pertunjukan musik Orkes Melayu Pancaran Senja bersifat longgar, santai, menikmati permainan tidak ada aturan formal.

Peristiwa ini dilihat melalui susunan posisi duduk pemusik tidak ada aturan baku. Sesuai dengan keinginan pemusik, maka situasi santai hadir menciptakan suasana keakraban, kekeluargaan antara sesama pemusik dan penonton, sesekali pujian sesama pemain musik terucap sebab merasakan kepuasaan dengan lagu atau syair Melayu yang dimainkan oleh OMPS.

Pada bagian awal pertunjukan musik, biasanya OMPS memainkan lagu-lagu rentak mak inang atau bertempo sedang sesekali memainkan rentak langgam. Suasana masih keadaan tenang, namun anggota tubuh pemusik seperti kepala, badan, kaki sudah mulai bergerak kecil menikmatinya. Sementara, penonton masih duduk santai pada tempat duduk yang berada di depan panggung pertunjukan, sembari bernyanyi kecil untuk dirinya mengikuti lagu-lagu rentak mak inang yang sedang dimainkan OMPS. Begitu juga tubuh penonton juga mengalami musikal dengan menciptakan gerak-gerik kecil seperti kepala, badan, tangan, kaki pada saat duduk mendengar rentak mak inang OMPS.

Pada bagian kedua, suasana semakin ramai, tempo permainan sudah mulai cepat sebab OMPS mulai memainkan rentak joget terus menerus, sehingga penonton bersemangat, antusias, dengan canda tawa baik dari pemusik maupun dari penonton, serta ingin berjoget di depan panggung pertunjukan. Pada awalnya penonton duduk santai menyaksikan pertunjukan OMPS, namun seketika mulai berjalan berlahan-lahan ke depan panggung pertunjukan. Terkadang langsung berjoget tanpa ada  paksaan dari siapa pun.

Ketika pertunjukan musik OMPS sedang berlangsung seorang pemain musik, penyanyi, atau pun penonton akan mengalami situasi klimaks pada bagian interlude atau bagian tengah lagu rentak joget, apabila pemusik benar-benar menikmati, meresapi, menghayati lagu rentak joget. Pemain akan meresapi, menghayati dan benar-benar menikmati alunan musik. Sehingga ia melebur menjadi satu dalam rentak joget. Pemain akan mengalami klimaks dalam durasi lima sampai enam detik. Peristiwa klimaks saat pemusik meresapi suasana rentak joget merupakan sublimasi diri atas permainan rentak joget, dan peristiwa ini memberi daya tarik bagi penonton yang beragam etnis itu.

Efek dari rentak joget dapat dilihat dari aspek psikomotorik gerak. Tubuh bergerak berjoget berpasangan penuh semangat dalam hitungan satu kali delapan,”ujar Suci Anggraini guru seni Senin (2/3/2020). Kaki kiri bergerak satu langkah ke depan dengan ayunan tangan kanan, begitu juga kaki kanan bergerak ke depan bersamaan ayunan tangan kiri. Joget bersifat fleksibel dan spontanitas bisa dilakukan sewaktu-waktu oleh siapa saja tanpa persiapan latihan tergantung gaya masing-masing penonton. Sementara ekspresi wajah senyum, tertawa, senda gurau, sesama pemusik dan penonton merupakan nilai estetis dari rentak joget.

Masyarakat Batam yang terdiri dari beragam etnis dapat melebur menjadi satu melalui pertunjukan musik rentak joget OMPS. Seolah-olah mereka melepaskan ke-etnikannya masing-masing walaupun hanya kurung waktu sesaat. Perbedaan etnis itu dirayakan dalam kesamaan dalam satu kekuatan rentak joget berjoget lambak atau berpasang-pasangan menyatukan semua ragam.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here