Candi Muara Takus memiliki stupa tertitinghi di Asia. Foto: Dok. Tim JNSP

Batamxinwen, Riau – Tim Jelajah Negeri Sahabat Polri (JNSP) terus mengeksplorasi kekhasan Provinsi Riau. Setelah sebelumnya hadir dalam kegiatan Kumpul Bareng Sekuter se-Sumatera (KBSS) di Pekanbaru yang syarat dengan nuansa budaya Melayu, kali ini tim JNSP bergerak menuju Kabupaten Kampar. Tujuan utamanya adalah mendatangi situs bersejarah Candi Muara Takus.

Terletak di muara Sungai Kampar Kanan, tepatnya di desa Muara Takus, Kecamatan XIII Koto Kampar, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Muara Takus ini jaraknya lebih kurang 150 kilometer dari kota Pekanbaru.

Tiba di kawasan candi sekitar pukul 14.15 WIB, tim JNSP sudah ditunggu Bhabinkamtibmas Polsek XII Koto Kampar Bripka Andi W dan juru pandu Candi Muara Takus Suhaimi Zain. Ketika itu Bripka Andi tengah makan siang dengan ditemani beberapa warga.

Sambil beristirahat sejenak di halaman warung yang menghadap kawasan candi, Suhaimi mengatakan tim JNSP terbilang beruntung, karena bisa bertemu langsung denganĀ  Niniuk Datuok Ghajo Du Balai ketutunan, ketua adat yang memiliki gelar Pucuk Negeri Desa Muara Takus, Pucuk Kadatuan Andiko 44, Pucuk Kadatuan Alam Minang (minanga tamuan), dan Pucuk Kadatuan Srivijaya.

“Gelaran beliau sebelum Islam adalah Sah Hyang Datu Pamuncak Penguasa Maha Raja Diraja Alam Pulau Varca,” tutur Suhaimi sambil mengarahkan pandangannya ke laki-laki berusia 48 tahun yang duduk bersama dengan rombongan tim JNSP.

Tak berlama-lama, Suhaimi langsung mengajak tim JNSP berkeliling kawasan candi. Kamipun mengitari kawasan candi

Sebagai warga asli Sungai Kampar Kanan, Suhaimi mengaku bangga bisa menjadi bagian dari Candi Muara Takus yang memiliki sejarah panjang peradaban manusia di masa lalu. Ia menjelaskan kalau kawasan ini dulunya adalah pusat peradaban Hindu Budha, kota utama dari daerah yang meliputi sembilan negara di masa sekarang.

Alasan utamanya adalah Candi Mahligai, candi berbentuk stupa menjadi stupa tertinggi di Asia. Di beberapa daerah seperti Muaro Jambi sempat ditemukan stupa yang serupa dan dibangun. Di atas tanah, hanya saja ukurannya jauh lebih kecil.

“Stupa di Borobudur itu tinggi, tapi dia dibangun tidak langsung di atas tanah, di Burma (Myanmar) dan India juga begitu, itu artinya memang di sini (Candi Muara Takus) adalah pusat kota pada masa itu,” kata Suhaimi.

Tahun 2018 lalu, mahasiswa jurusan Arkeologi asal Jambi melakukan pengukuran panjang tanggul tanah yang mengitari kawasan Candi Muara Takus ini. Dari pengukuran tersebut didapat angka 6.663 meter panjang tanggul.

Suhaimi sendiri mengaku juga pernah melakukan pengukuran, dimana ia melakukan pengukuran dengan menghitung jumlah langkah kakinya. “Hitungan saya ada 6.163 langkah. Pas di titik mulai, jadi kita juga sudah hitung,” kata Suhaimi lagi.

Tidak itu saja, Suhaimi juga menjelaskan bahwa banyak penelitian, utamanya dari peneliti luar negeri yang memperkirakan peradaban besar telah sejak lama terbangun di daerah ini.

Di abad ke 3 tahun 32 masehi, seorang biksu muda asal Tiongkok Fa Huang telah belajar di sini. Dimana setiap tahunnya ada tak kurang dari 2.000 pembelajar datang belajar di kawasan Candi Muara Takus. Kondisi tersebut, kata Suhaimi, tentu didukung oleh sistem penataan logistik, pemukiman, dan tata wilayah yang besar.

Kompleks candi ini sindiri dikelilingi tembok berukuran 74 x 74 meter di luar arealnya terdapat pula tembok tanah (tanggul kuno) berukuran 1,5 x 1,5 kilometer yang mengelilingi kompleks ini sampal ke pinggir sungai Kampar Kanan.

Kawasan Candi Muara Takus merupakan cagar budaya berupa kompleks percandian berlatar belakang Buddhisme yang terbuat dari bata. Di kawasan ini terdapat 4 (empat) buah candi (Mahligai, Tua, Bungsu, dan Palangka), yang bentuk konstruksi candinya menyerupai genta dan stupa yang merupakan ciri khas dari Budha Gautama, tapi kalau dilihat dari Candi yang lain seperti bentuk Candi Mahligai dapat dianggap sebagai masa peralihan dari Ciwaistis ke Budhistis, dengan adanya symbol Pallus dan Yoni, kalau dari kejauhan bentuknya tak ubah seperti menara yang linggais.

Kawasan candi Muara Takus memiliki bentuk arsitektur yang sama juga dengan kawasan candi muara jambi, keduanya merupakan peninggalan kerajaan Melayu kuna. Arsitek bangunan Candi Muara Takus ada kemiripan dengan arsitektur bangunan Candi ACOKA di India, seperti terlihat pada Kapitel, Roda dan Kepala Singa dan ada juga persamaan dengan Candi yang ada di Myanmar, demikian juga dengan Candi Bihar Mahal di SUMUT dan teras-teras atasnya mirip dengan Candi Borobudur di Jawa Tengah.

Candi Muara Takus adalah situs candi tertua di Sumatera dan merupakan satu-satunya situs peninggalan sejarah yang berbentuk candi di Riau.(***)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here