Bright PLN Batam Ungkap Alasan Pemadaman Akhir-akhir Ini

Batamxinwen, Batam – Kondisi kelistrikan Batam diwarnai pemadaman listrik sejak Maret lalu. Adanya hal ini juga kerap mendapat keluhan dari masyarakat Kota Batam, baik melalui media sosial maupun langsung melalui call center. Menanggapi keluhan masyarakat ini, Direktur Operasi Bright PLN Batam, Awaluddin Hafidz buka-bukaan soal penyebab padamnya listrik yang belakangan terjadi di Batam.

“Ini terjadi karena ada pembangkit besar yang rusak, kemudian cadangan daya listrik kita menipis, dan ada pembangkit yang kadang-kadang mengalami gangguan. Inilah yang mengakibatkan munculnya padam,” ujarnya, Sabtu (13/04/2019).

Menurutnya saat ini, secara keseluruhan sistem kelistrikan Batam-Bintan saat ini memiliki kapasitas pembangkit sebesar 567,5 MW. Ada tiga lokasi pembangkit terbesar. Pertama PLTU Tanjungkasam dengan kapasitas 140 MW. Kemudian IPP DEB/MEB 2×75 MW ditambah gas turbin 17 MW, dan ketiga, PLTG Tanjunguncang dengan kapasitas 120 MW ditambah beberapa PLTD.

Beban kelistrikan Batam-Bintan sendiri, pernah mencapai beban puncak sebesar 462 MW. Namun jika kondisi cuaca normal berkisar 30-31 derajat, dengan kelembaban sedang, rata-rata beban puncak sekitar 440-450 MW. Dimana dengan kapasitas 560 MW ini sebenarnya Bright PLN Batam memiliki cadangan besar lebih dari 100 MW.

Namun, sejak Oktober tahun lalu, PLTGU yang dimiliki PLN Batam tak bisa beroperasi maksimal. Lantaran salah satu gas turbinnya rusak. Akibatnya, daya mampunya turun sekitar 50 persen atau berkurang sekitar 60 MW. Saat ini masih dalam proses perbaikan.

“Kebetulan itu masih di bawah kontraktor pembangunan. Sekarang dalam pemesanan material. Insya Allah Mei sudah bisa beroperasi,” lanjutnya.

Kemudian awal April lalu, salah satu pembangkit DEB milik swasta, mengalami kerusakan yang mirip dialami PLN Batam. Malah kerusakannya relatif lebih parah. Dan normalnya, untuk perbaikan butuh waktu setahun lebih.

“Namun mengingat pemilu, dan cadangan kelistrikan kita menipis, kita mendorong DEB mencari alternatif lain. Dia harus sewa mesin, tapi mesinnya tidak ada di Indonesia. Awalnya akan sewa dari Kanada, tapi tak jadi, akhirnya sewa dengan Inggris,” paparnya.

Di pembangkit ini, ada 2 komponen pembangkit yang rusak. Satu komponen sudah datang baru-baru ini. Satu komponen lagi masih dalam perjalanan. Diperkirakan pada 24 April mesin di pembangkit swasta ini sudah bisa kembali beroperasi dengan baik.

“Jadi memang kondisi sekarang mulai Maret, April, cadangan daya listrik kita sangat menipis. Sehingga ketika terjadi lonjakan beban di sisi pengguna. Atau panas di Batam naik lebih dari 33 derajat, beban akan naik, sehingga cadangan kita kurang,” tuturnya.

Kemudian dari sisi pembangkit, lanjutnya, ada pembangkit yang sudah berumur alias tua, dan bisa saja terjadi gangguan. Gangguan inilah yang berakibat pada padamnya listrik. Awaluddin menyebut satu contoh kasus.

“Pada Minggu ini kita dapat pasokan batubara dari Sumatera dan Kalimantan. Dalam perjalanannya, batubara terpapar hujan. Saat dibongkar ke boiler, jadi masalah. Menyebabkan kemampuan pembangkit turun. Seharusnya 55 MW, turun menjadi 40 MW. Itu yang kita alami,” tutupnya. (bintang)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here