Foto : internet

Batamxinwen, Batam – Suasana di sebuah kedai kopi di bilangan Batam Center, pada Rabu (29/05) sore tidak terlalu ramai. Obrolan para pengunjung masih membicarakan seputaran pilpres. Mereka terdengar begitu semangat menceritakan calon Presiden pilihannya masing-masing.

Di antara penikmat kopi di siang bulan puasa itu, tepatnya di tengah kedai kopi tersebut, duduk perempuan muda bertubuh langsing berkaos ketat berwarna coklat, dengan dandanan sederhana, sedang risau memikirkan rezeki yang belum juga menghampiri. Ya, sebab, enam hari lagi lebaran.

“Tahun ini sepi sekali. Tak kayak tahun-tahun kemarin. Baju lebaran pun belum terbeli,” Keluh Wulan (nama samaran) pada Batamxinwen.com

Wulan adalah seorang perempuan yang berusaha mengais rezeki dari birahi para lelaki hidung belang. Dia banyak mengenal wanita pemuas syahwat, dari situlah pundi-pundi rezekinya dapat terisi selama ini.

Perannya hanya sebagai penghubung birahi antara lelaki hidung belang, dan perempuan-perempuan yang menukar elok tubuhnya dengan lembar-lembar rupiah.

“Sekarang sepi, Tidak seperti dulu. Cewek-cewek itu banyak banting harga, ditawar rendah pun terpaksa mereka terima. Daripada tak dapat duit, yang penting mereka harus setoran,” kata perempuan berkulit sawo matang ini sambil menghembuskan asap rokok kretek yang di hisapnya.

Kata dia, dua tahun lalu, ia bisa mengantongi uang paling sedikit Rp 500 ribu dalam satu kali kencan yang ia hubungkan. Wulan mengaku punya enam kenalan perempuan yang siap kapan saja melayani pria hidung belang. Dimana setiap harinya, keenam perempuan itu minimal bisa berkencan satu kali dalam sehari.

“Sekarang boro-boro sekali sehari, seminggu sekali belum tentu,” katanya sambil mematikan rokoknya.

Menurut Wulan, saat ini Kota Batam yang terkenal dengan industri sekaligus hiburan malamnya, sudah tidak segemerlap dulu. Batam sudah kehilangan daya tariknya. Salah satunya, sebagai hiburan malam yang menjadi destinasi bagi para pengusaha luar kota, bule-bule luar negeri atau apek-apek singapura.

“Mungkin karena situasi ekonomi sekarang ya bang, apa-apa susah. Orang luar pun ke Batam jadi malas. Akhirnya rezeki kami jadi ikut-ikutan malas,” ujarnya sambil menyeruput kopi hitamnya.

Bila dulu, perempuan-perempuannya berani menolak tawaran tarif pada proses tawar menawar, kini, mereka harus pasrah dan menerima tawaran yang rendah sekali pun untuk sekali kencan layanan semalaman ataupun layanan birahi dalam waktu singkat.

“Kalau dulu, saya pasang tarif Rp 2,5 juta untuk kencan semalaman, sekarang ditawar Rp 1,5 juta pun mau tidak mau harus diterima,” kata dia.

Dari Rp 1,5 juta, lanjutnya, perempuan-perempuan itu juga harus menyetor 20 persen kepada pihak pengelola tempat hiburan malam yang menaunginya.

Celoteh kegelisahan Wulan yang hingga enam hari sebelum lebaran ini juga menjadi kegelisahan yang sama bagi perempuan-perempuan pemuas syahwat, yang berharap rezeki dari lelaki-lelaki berhidung belang berkantong tebal. Yang kiranya juga sedang gelisah karena roda ekonomi tidak berputar seperti yang diharapkannya. (Bintang)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here