dr. Muhammad Askar. Foto: BX

Batamxinwen, Batam – Kami sedikit terlambat sampai di kantin kecil di pinggir jalan tak jauh dari ruang isolasi Penyakit Infeksi Emerging (PIE) RSBP Batam itu. Tempat yang kami sepakati untuk bertemu dengan seorang dokter yang dulu pernah ingin menjadi insinyur.

Kopi jahe di dalam cangkir keramik di hadapannya itu terlihat tinggal setengah. “Ayo duduk di sini. Ngopi ya, di sini kopi jahenya enak. ‘Bu, kopi jahe dua ya’,” katanya mempersilahkan kami duduk seraya memesan dua cangkir kopi.

Di kantin kecil itu hanya ada kami bertiga. Batamxinwen.com, seorang teman, dan sang dokter. Kami duduk bersemuka. Saling bertanya kabar dan kesibukan hingga isu-isu hangat seputar virus yang sedang mewabah, corona. Dua cangkir kopi pun sudah menyusul ke meja.

Dia adalah dr Muhammad Askar. Saat ini ia menjabat sebagai Wakil Direktur Medis dan Keperawatan RSBP Batam.

Namun, selain sebagai seorang dokter dan pejabat di rumah sakit, dr. Askar adalah seorang seniman. Ia sudah merekam dan memvideoklipkan lagu-lagunya dan diunggah di laman YouTube.

Ia juga memproduseri dan membintangi sendiri sebuah film telivisi. dr. Askar juga pandai menukang. Pandai membuat perabot hingga membangun rumah.

Rupanya, menjadi dokter bukanlah profesi yang ia khitahkan. Sabtu, 19 September 2020 siang, Batamxinwen.com menawar dr. Askar untuk merawikan kisah semasa kecilnya hingga saat ini.

“Setamat SMA dulu, cita-cita saya adalah ingin menjadi insinyur. Karena saya ingin kuliah itu rambutnya gondrong, pakai jins belel, baju kaos, dan sendal jepit, bawa gitar ke mana-mana.

Saya nggak mau jadi dokter. Tapi, Ayah saya ingin saya jadi dokter,” ujar dokter kelahiran Bukit Tinggi tahun 1965 ini.

Karena menuruti keinginan orang tuanya, dr. Askar pun mendaftar ke fakultas kedokteran di Universitas Negeri Andalas.

Tapi, ia juga tetap mendaftar ke fakultas tehnik di ITB. dr. Askar mampu menempuh ujian masuk di dua fakultas di universitas negeri itu dengan nilai yang baik.

Ia diterima. Tapi, di ITB ia lulus dengan status cadangan, karena ia menjadikan ITB sebagai pilihan kedua. Pilihan pertamanya adalah di Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Ia pun mulai menempuh pendidikan di fakultas kedokteran.

“Tapi, walaupun saya sudah jadi mahasiswa kedokteran, tahun berikutnya saya coba lagi daftar ke ITB. Saya tetap mau jadi insinyur. Teman-teman saya suruh pakai jins. Namun, ternyata saya ditakdirkan untuk menjadi seorang dokter,” kata sambil menyeruput kopinya.

dr. Askar menyelesaikan kuliah kedokterannya cukup lama. 11 tahun. Banyak faktor yang membuat kuliahnya terlambat rampung. Dari faktor ekonomi hingga kecintaannya pada dunia seni teater, bermusik, dan berorganisasi serta bergaul.

Ia lebih suka bergaul di pasar dan terminal. Berteman dengan preman juga pengamen. Untuk membiayai kuliahnya, dr. Askar harus bekerja. Dari mencari ikan, kepiting, untuk dijual ke pasar hingga menjadi kuli bangunan dan mengajar mengaji ia lakoni.

Selama kuliah, ia juga kerap berpindah indekos karena sering diusir karena tak sanggup membayar.

Sering tak makan hingga berhari-hari. Maklum, ia adalah anak kelima dari sembilan bersaudara yang semuanya harus dibiayai di bangku universitas. Dan, karena harus bekerja untuk bisa makan dan bayar kuliah, dr. Askar kerap meninggalkan bangku kuliah yang membuatnya harus berurusan dengan dosen.

Namun, dr. Askar terus bertekad menyelesaikan kuliahnya. Hingga akhirnya pada tahun 1995 ia menyelesaikan kuliah kedokterannya.

Walaupun cukup lama menyelesaikan kuliahnya, dr. Askar mampu menunjukkan kualitasnya. Sebelum lulus, tahun 1994 ia dipercaya oleh Ibnu Sina Pekanbaru untuk membuat klinik Ibnu Sina di Air Molek, Kabupaten Indragiri Hulu, Riau. Ia merintis klinik itu dari nol.

Dari mencari karyawan dan membeli semua peralatan hinggga klinik tersebut menjadi rumah sakit. Lalu, ia dipanggil untuk bertugas ke Muaro Labuh, Solok Selatan, perbatasan Jambi dari tahun 1995-1997. Kemudian, ia pindah ke Pariaman, Sumatera Barat hingga tahun 1997. Pada tahun 1998 ia pindah ke Batam menjadi honorer di RSBP Batam yang dulu bernama RS Otorita Batam.

“Waktu saya masuk ke sini direkturnya itu allmarhum dr. Hakim. Dulu saya bertugas sebagai dokter umum. Jumlah dokter saat itu masih sedikit. Jumlahnya hanya 40 orang.

Zaman itu dokter umum harus bisa menghadapi semua kasus karena keterbatasan tenaga. Tapi, dokter umum yang bersertivikasi yang boleh menangani,” ujarnya.

Pada tahun 2000 dr. Askar sudah berstatus sebagai pegawai negeri penuh. Pada tahun 2006 ia sudah mengepalai semua dokter umum di rumah sakit.

Beberapa tawaran untuk menduduki jabatan struktural ditolaknya. Pada tahun 2009 ia tak bisa menolak tawaran dari dr. Alaida yang menjabat sebagai direktur saat itu sedikit memaksa untuk melanjutkan kuliah S2 jurusan manajemen rumah sakit.

Ia lulus pada tahun 2011. Barulah pada tahun 2013 ia tak bisa menolak menduduki jabatan struktural sebagai kepala bidang. Tapi jabatan itu tak lama ia duduki. Tahun 2015 mundur dari jabatan itu dan kembali menjadi dokter umum di rumah sakit dan mengembangkan medical check-up.

Hingga pada awal tahun 2020 ia diminta menjadi Wakil Direktur Medis dan Keperawatan RSBP Batam. Di luar jabatan struktural, dr. Askar cukup aktif dalam berbagai organisasi.

Salah satunya, tahun 2007, ia melihat dinamika perkembangan dokter umum di dunia kedokteran di Indonesia kewenangannya secara hukum medis dibatasi oleh kewenangan dokter spesialis. Lalu, ia membentuk Perhimpunan Dokter Umum Indonesia (PDUI) Provinsi Kepri bersama dokter-dokter dari Surabaya, Medan, Jakarta dan Makasar.

“Akhirnya kami proklamirkan PDUI. Saya ditunjuk sebagai ketua PDUI dua periode,” kenangnya.

Kini, profesi yang dulu tak pernah menjadi khitahnya ini, menjadi profesi yang ia cintai.

Profesi yang membawanya ke puncak ketenangan jiwa karena bisa membantu banyak orang. Ia juga mencintai puisi. Ia banyak menghasilkan puisi di kala hatinya gundah. Baginya, puisi adalah salah satu caranya berkomunikasi dengan Tuhan YME. Melalui puisi ia kerap menuangkan kegelisahaan yang ia temui dalam kehidupan sehari- hari.

Saat mencipta puisi pula ia menemukan jawaban dari kegelisahannya. Tak heran jika puisi-puisi yang ia ciptakan selalu berisi tentang ketuhanan seperti dalam penggalan puisi yang ditulisnya pada Desember 2008 di bawah ini:

gelisah dan resah menghisap diri
sungguh tak pantas menghadap ilahi

berjumpa sang Khaliq di akhirat nanti
dengan bekal yg ada di diri

sungguh dunia ini menipu
melalaikan hamba menghabiskan usia

pencarianku akan kedamaian yang hakiki

terbentur tembok ilmu yg tak ada dalam diri

ya Rabbi kosongkanlah dunia ini dari dalam hati

hanya Nur cahaya kasihMu yang kunanti

luapkan hati ini dengan iman kepadaMu
butakan mata ini akan selainMu

ya Robby bentangkan jalan menuju Engkau

sinari dengan Nur Mu yg maha suci
hanya RidhoMu yang aku cari

“Saya sangat suka puisi. Tapi, puisi yang saya ciptakan tidak pernah saya publikasikan. Puisi hanya salah satu cara saya berkomunikasi dengan Tuhan dan merenungi diri saja,” ujarnya. (red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here