Batamxinwen, Jakarta – Cukai rokok elektrik atau vape akan dinaikkan pemerintah tahun depan. Saat ini, pemerintah telah memungut cukai cairan vape sebesar 57 persen dari harga jualnya.

Direktur Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan, Heru Pambudi mengatakan rencana kenaikannya mengikuti kenaikan cukai rokok yang naik tahun depan. Tapi dia belum tahu tanggal tepatnya. Per 1 Januari 2020, cukai rokok konvensional dari hasil tembakau naik 23 persen yang bakal membuat rata-rata harga jual eceran rokok diperkirakan meningkat 35 persen dari harga jual saat ini.

“Saya kira ini in line (sejalan) saja dengan policy (kebijakan) kenaikan tarif rokok konvensional. Kalau rokok konvensional dinaikkan, ini juga akan mengikuti saya rasa pemberlakuannya pararel di 1 Januari 2020,” kata Heru di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, Rabu (13/11) malam.

Heru menjelaskan bahwa cairan vape sama dengan rokok yang merupakan produk hasil tembakau, hanya saja berbeda bentuk. Karena itu, cairan vape wajib mengikuti ketentuan perundangan yang berlaku yakni Undang-undang Nomor 39 Tahun 2007 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai.

Pada pasal 5 aturan tersebut disampaikan hasil tembakau dikenai cukai rokok berdasarkan tarif paling tinggi sebesar 275 persen dari harga dasar apabila harga dasar yang digunakan adalah harga jual pabrik. Jika menggunakan harga jual eceran maka tarif cukai rokok sebesar 57 persen dari harga dasar.

“Meskipun telah dimodifikasi dari tembakau tradisional, tetap saja masuk dari definisi tembakau. Karena itu, harus tunduk Undang-undang tentang Cukai pada aturan dan harus dikenai cukai agar konsumsi bisa dikendalikan,” tuturnya.

Pelatihan wartawan oleh Direktur Jenderal Bea dan Cukai Heru Pambudi (tengah) di Labuan Bajo, Nusa Tenggaara Timur.

Tak hanya berencana menaikkan cukai rokok elektrik, pemerintah juga penindakan pada vape ilegal. Sepanjang 2019, Ditjen Bea dan Cukai telah menindak 252 kasus vape ilegal. Dari penindakan itu, pihaknya berhasil mengamankan 1.459 liter cairan vape ilegal senilai Rp 1,78 miliar.

Tren jumlah kasus vape ilegal cenderung naik dari tahun lalu sebanyak 218 kasus vape ilegal. Dari 218 kasus itu, Ditjen Bea dan Cukai berhasil mengamankan 10.802 liter vape ilegal senilai Rp 1,58 miliar. Dengan maraknya vape ilegal, ia mengaku akan terus mengawasi peredaran vape dari pabrik hingga penjualan eceran.

“Kalau dalam suatu titik ada keputusan boleh atau tidak boleh, Bea Cukai akan menyesuaikan. Tetapi selama itu belum ditetapkan, langkahnya dua yaitu menerapkan cukai untuk vape dan berantas kalau mereka tidak bayar,” tutur Heru.

Dalam komoditas, vape masuk dalam produk hasil tembakau. Dalam daftar penindakan terhadap 10 komoditas tertinggi selama 2019. Hingga Oktober 2019, kasus pelanggaran banyak terjadi pada komoditas hasil tembakau seperti rokok dan vape.

Untuk hasil tembakau tahun ini ada 5.598 kasus. Dari ribuan kasus hasil tembakau yang ditindak tersebar di berbagai tempat mulai dari pabriknya hingga ke wilayah pemasaran.

“Ini yang kita lakukan untuk rokok konvensional khususnya di Jawa Timur itu Sidoarjo, Malang, Pasuruan, Madura. Di Jawa Tengah sumber produksi ilegal itu di Pati, Kudus, dan Jepara,” kata dia.

Sementara untuk daerah pemasaran yang ditindak Bea Cukai banyak berada di Sulawesi Selatan, Jambi, Kalimantan Timur, dan Banjarmasin.(*)

Sumber: kumparan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here