Dibalik Kerennya Musisi Batam Berapa Honor Mereka

Ilustrasi pertunjukan musik Flam Percussion ISI Padangpanjang. Jumat (13/3/2020).

Batamxinwen, Batam – Celana model pensil, kaos berwana hitam bergambar wajah rock legenda, rambut dicat beragam warna, asesoris menghiasi lengan tangan. Dari gelang perak hingga gelang karet melingkar di pergelangan tangan. Pokoknya keren habis. Rata-rata penampilan anak band begitu. Namun, ada juga musisi yang penampilan rapi. Berambut klimis, sepatu mengkilap, pakai kemeja bagi pria, bagi wanita memakai dress, dan sepatu beragam merek. Sekali lagi pokoknya keren habis.

Apakah tahu, berapakah penghasilan musisi di Kota Batam? Ternyata penghasilan tak sekeran penampilannya saat berada di panggung. Hanya cukup buat ongkos, beli rokok, sekali makan dan minum seadanya. “Band saya sudah keren tampil dipanggung, tahu nggak bayarannya berapa? cuma Rp 35.000,” ujar Dipa salah satu personil band yang sering tampil dari panggung ke panggung di Batam.

Jumat sore pada pukul 16.00 wib bertempat di kopi Sel, seorang pemusik bernama Dayat sekaligus pekerja kantoran berdomisili di Batam Center. Bersedia untuk ditanyai mengenai seputar perkembangan dunia musik yang ada di Kota Batam.

Ia pun bercerita pahit manisnya selama menjadi seorang musisi, baik seputar pengalaman mengisi event musik seremoni wedding, seremoni gathering, dan seremoni lainnya. Ada perbincangan yang menarik dibahas saat itu, yaitu tentang budget/anggaran pembayaran seorang musisi. “Dari dulu hingga saat ini, pembayaran musisi memang belum ada standarisasi atau tolak ukur yang tepat. Biasanya pembayaran musisi masih dilakukan secara kesepakatan kekeluargaan atau pertemanan semata, sehingga terkadang dapat merugikan para musisi sendiri maupun musisi lainnya,”katanya.

Di era milineal saat ini pun, masih ada pembayaran musisi sebesar seratus ribu rupiah hingga seratus lima puluh ribu rupiah dalam satu kali pertunjukan musik. Menurut  Dipa, Dayat, Kahar, dan Mey biaya anggaran itu, kurang wajar diberi kepada para musisi. “Sebenarnya teman-teman musisi sudah sepatutnya mendapat apresiasi pembayaran yang sewajarnya, sesuai dengan proses latihannya; meliputi biaya latihan sewa studio, biaya transportasi, dan biaya-biaya makan, minum, rokok, dan lain sebagainya,” ujar Dayat, Jumat (6/3/2020).

Dayat juga bercerita pengalaman bermusik bersama teman-teman yang tak terlupakan hingga saat ini. Yaitu ketika mengisi live musik akustik secara reguler pada suatu kafe di Kota Batam. Mereka cuma diberi makan dan minum secara gratis. “Apresiasi dari para pemilik kedai kopi itu sebatas makan dan minum, menurut Dayat itu adalah pengalaman yang tak terlupakan sampai saat ini,” katanya.

Begitu juga dengan pengalaman Dipa seorang repoter sekaligus pemusik di Kota Batam. Ia bercerita, pernah “mengisi live musik di kafe pada waktu kuliah delapan kali pertunjukan musik selama satu bulan. Satu kali pertunjukan musik dibayar Rp 187.500 dibagi lima orang pemusik, satu orang pemusik mendapat Rp 37.500, berarti selama satu bulan dibayar Rp 1.500.000,” katanya.

Masih cerita yang sama, juga dialami oleh kelompok musik Nunsense yang bermusik pada salah satu kedai kopi di Kota Batam. Apri sang vokalis bercerita. “Bahwa mereka dibayar Rp 1.500.000, delapan kali pertunjukkan musik dua sesi setiap akhir pekan sabtu dan minggu. Tak lupa sepiring nasi goreng dan segelas teh obeng, menu wajib usai pertunjukan musik.”

Selain itu, ada juga musisi bernama Kahar. Ia seorang pianis Kota Batam yang belajar sejak SMP, SMA, hingga kuliah seni musik di UNPAS. Ia juga pernah merasakan apa yang dirasakan oleh teman-teman musisi khususnya di Batam. “Selayaknya para teman-teman musisi harus memiliki seorang manajer yang mengurusi setiap kelompok musiknya. Baik dari segi promosi, tawar menawar budget, kontrak, hingga hal-hal teknis pertunjukkan musik, dan sebagainya,” ujar Kahar, Jumat (13/3/2020).

Melalui pengalaman teman-teman musisi/seniman, memang sampai saat ini, permasalahan budget/anggaran belum ada standar yang pasti atau yang menjadi tolak ukur secara regulasi. Sifatnya masih dapat dilakukan secara tawar menawar. Kalau pun ada tolak ukur pembayaran musisi yang pasti biasanya standar UMK atau upah minum kerja yaitu sebesar Rp 4.100.000 terkadang bisa lebih di atas UMK. Dengan syarat band-band tersebut, merupakan pemusik profesional di bidang hiburan musik di hotel, restoran, pub, dan kafe. Dengan jam terbang bermusik sudah di atas rata-rata memiliki manajemen seni dan seorang manajer.

Sementara Mey seorang dosen seni tari mengatakan “memang benar sampai saat ini standarisasi pembayaran seniman/musisi belum ada yang pasti secara regulasi. Namun, untuk di daerah Yogyakarta biasanya paling minim sekali, satu kali pertunjukan seni perorang dibayaran Rp 500.000,” ujar Memey, Jumat (13/3/2020).

Cerita tentang budget, kontrak kerja musisi dengan pihak manajemen hotel, kafe, atau event seni pertunjukan musik selalu menjadi topik perbincangan dikalangan musisi. Hal bukanlah suatu fenomena yang baru di Indonesia. Fenomena ini sudah sering terjadi sudah menjadi rahasia umum juga dikalangan musisi-musisi daerah terutama di Kota Batam.

Namun, ada beberapa organisasi nirlaba seperti “Koalisi Seni, KAMI atau Kami Musik Indonesia, dan FESMI atau federasi Serikat Musisi Indonesia,” dilansir dari instagram. Mereka mencoba menjembatani mengajak para musisi yang ada di daerah-daerah untuk bergabung bekerjasama merumuskan kontrak musisi, advokasi, dan HAKI.

Memang sampai saat ini, untuk musisi di Kota Batam permasalahan budget belum ada standarisasi yang tepat. “Namun setidaknya standar umum sekali pertunjukan musik minimal sebesar Rp 300.000 hingga Rp 500.000,” ujar Kahar. Namun, terkadang ada juga musisi yang menurunkan harga sendiri tanpa berfikir panjang apa yang telah dilakukannya, berefek pada musisi-musisi lainnya. Bahwa, nilai karya seni itu lahir melalui suatu proses latihan panjang. Melalui ide, proses mencipta atau mengaransemen suatu lagu atau musik hingga mengalami perdebatan yang berujung kesepakatan. Maka lahirlah yang namanya suatu karya seni musik.

Semoga melalui beragam komunitas-komunitas seni musik yang ada di Kota Batam dapat bekerjasama. Mengadakan lokakarya seni mengenai manajeman seni, budget musisi, hingga kontrak musisi. Tujuannya tak lain untuk menyejahteraan musisi-musisi yang ada di Kota Batam.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here