ilustrasi

Batamxinwen, Washington – Presiden Donald Trump dilaporkan menyetujui penjualan 66 pesawat jet tempur F-16 Fighting Falcon Viper (V) Block 70 terbaru senilai USD8 miliar (Rp113,6 triliun) kepada Taiwan. Langkah ini bisa memantik kemarahan China yang saat ini sedang bersitegang dengan Amerika Serikat (AS).

Sumber administrasi Trump dan Capitol Hill membocorkan persetujuan Trump tersebut, meski secara resmi langkah itu belum disampaikan kepada Kongres.

Senator Partai Republik Marco Rubio asal Florida memuji pemerintah Trump karena bergerak maju soal kesepakatan dengan Taiwan perihal penjualan jet-jet tempur Lockheed Martin tersebut.

“Itu langkah penting dalam mendukung upaya bela diri Taiwan,” kata Rubio dalam sebuah pernyataan.

“Ketika pemerintah China dan Partai Komunis berusaha untuk memperluas jangkauan otoriternya di kawasan itu, sangat penting bahwa Amerika Serikat terus meningkatkan hubungan strategis kami dengan mitra demokrasi kami Taiwan melalui dukungan yang teratur dan konsisten,” lanjut Rubio, yang merupakan anggota dari Komite Hubungan Luar Negeri dan Intelijen Senat.

Pernyataan Rubio ini diamini Senator Ted Cruz asal Texas, yang memuji Presiden Donald Trump karena membantu meningkatkan keamanan AS dan Taiwan dengan usulan penjualan 66 jet tempur F-16V.

“Dengan China membangun militernya untuk mengancam kita dan sekutu kita—dan Tentara Pembebasan Rakyat membidik ribuan rudal di Taiwan dan mengerahkan pesawat tempur di sepanjang Selat Taiwan—sekarang, lebih dari sebelumnya sangat penting bahwa Taiwan memiliki dukungan yang diperlukan untuk membela diri,” kata Cruz, memuji Trump karena bertindak “tegas” untuk memajukan transfer pesawat tempur.

Jika persetujuan Trump itu juga direstui Kongres, maka itu akan menjadi penjualan pertama jet tempur Amerika kepada Taiwan sejak 1992.

Meski para Senator telah membocorkan persetujuan Trump, namun Departemen Luar Negeri AS masih enggan berkomentar. “Kami mengetahui laporan media tentang kemungkinan penjualan pesawat tempur F-16 ke Taiwan. Departemen tidak mengomentari usulan penjualan (peralatan) pertahanan sampai itu secara resmi diberitahukan kepada Kongres,” kata departemen tersebut melalui seorang juru bicara, seperti dikutip South China Morning Post, Sabtu (17/8/2019).

Beijing sangat menentang perjanjian jual beli senjata antara AS dengan Taiwan. Beijing masih menganggap Taiwan sebagai provinsi China yang membangkang. Washington sendiri merasa berkewajiban untuk mempertahankan pulau yang memerintah diri sendiri itu berdasarkan ketentuan “Taiwan Relations Act” atau “Undang-Undang Hubungan Taiwan” yang sudah berumur 40 tahun.

Hubungan AS dan China saat ini sedang tegang dalam berbagai masalah, seperti perang dagang, krisis di Hong Kong, masalah Taiwan hingga masalah Laut China Selatan di mana AS menuntut kebebasan navigasi di wilayah laut internasional tersebut.(*)

Sumber: Sindonews

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here