Seorang pekerja memperlihatka kopra yang dijemur di Desa Galung, Kecamatan Kalukku, Mamuju, Sulawesi Barat, Senin (21/8). Menurut warga harga kopra mengalami penurunan dari Rp15.000 menjadi Rp10.000 per kilogram akibat adanya permainan harga di tingkat pedagang pengepul. ANTARA FOTO/ Akbar Tado/foc/17.

Batamxinwen, Jakarta – Kopra atau daging buah kelapa yang dikeringkan berhasil merangsek pasar luar negeri perdananya pada hari ini, Minggu (10/5). Di tengah kesulitan kargo yang tertunda akibat Corona, Buton Utara, Sulawesi Tenggara berhasil mengekspor kopra putih sebanyak satu kontainer 20 ft berisi 12 ton kopra.

Menteri Desa, PDT, dan Transmigrasi, Abdul Halim Iskandar, menyatakan ini peristiwa penting bagi desa di tengah pandemi Covid-19.

“Ekspor perdana 12 ton kopra ini akan diikuti ekspor-ekspor berikutnya minimal 100 ton per bulan,” jelasnya dalam keterangan tertulis, Minggu (10/5).

Adapun nilai eskpor saat ini berkisar Rp 110 juta. Kemudian pada bulan-bulan berikutnya akan meningkat di atas Rp 1,2 miliar per bulan. Kopra putih akan dikirim ke Cina, dan segera ditambah dengan ekspor ke India dan Bangladesh.

Ekspor dijalankan langsung oleh Badan Usaha Milik Desa Bersama (Bumdesma) kepada mitranya di luar negeri. Bumdesma didirikan oleh Bumdes-Bumdes tiap desa.

Business model yang dikembangkan berupa fasilitasi dari PT Inacom yang digandeng Kementerian Desa PDTT. Codiac.id selaku mitra pendampingan Inacom.id memberdayakan para petani kopra sejak dari perbaikan pengolahan lahan, pengelolaan kebun kopra yang lebih terfokus, hingga pengolahan kelapa lebih lanjut.

Teknologi yang dipraktikkan ialah solar dryer dome. Inacom juga turut menjaga kualitas kopra putih Buton Utara hingga meningkat sampai berkualitas ekspor. Hasil kopra petani dibeli Bumdes dan Bumdesma, yang kini bertindak sebagai pemodal awal dengan kekayaan dari dana desa dan sumbangan lain. Lewat upaya ini, pendapatan para petani kini meningkat.

Sebelumnya, harga yang diterima petani ialah Rp 500 per butir kelapa. Kini, kopra putih meningkatkan pendapatan mereka senilai rata-rata Rp 1.200 per butir kelapa. Artinya terjadi peningkatan hampir tiga kali lipat.

Berbagai mitra luar negeri yang semula berbisnis dengan Inacom kemudian dikenalkan kepada Bumdesma. Pada titik inilah muncul kontrak jual beli langsung antara mitra luar negeri dan Bumdesma Buton Utara.

Sesungguhnya ekspor kali ini dimulai dari pertemuan Gus Menteri dengan Bupati Buton Utara, Abu Hasan, pada 9 Januari 2020. Topik pertemuan saat itu ialah meningkatkan kapasitas produksi dan pemasaran bagi produk-produk unggulan desa-desa di Buton Utara.
Kemudian Direktorat Jenderal Pembangunan Daerah Tertinggal menindaklanjutinya dengan mengajak berbagai perusahaan swasta langsung mendatangi desa-desa di sana. Kini, telah berhasil diekspor kopra putih olahan, namun masih ada rencana ekspor lanjutan.

Sebagai tambahan informasi, potensi Buton Utara yang dikembangkan lebih lanjut bersama-sama berbasis industri dan korporasi desa mencakup komoditas mente (7.000 ha), kelapa 6.500 ha (melalui industri coconut oil, VCO dan kopra putih), rumput laut 1.000 ha eksisting berikut tambahan perluasan potensial 7.000 ha, serta beras organik varietas lokal hitam dan merah seluas 1.000 Ha.(*)

Sumber: Kontan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here