Kantor Pengadilan Agama Kelas I Batam, Sekupang. Foto: BX/bintang

Batamxinwen, Batam – Sepanjang Januari hingga September 2019 tercatat 1.183 perempuan di Batam mengajukan gugatan cerai ke Pengadilan Agama Kelas I Batam.

Jumlah perempuan yang mengajukan gugatan cerai ini berbanding jauh dengan jumlah laki-laki atau pihak suami mengajukan talak cerai yang jumlahnya hanya 374 perkara.

“Permohonan perceraian masih didominasi oleh pihak perempuan, kami mencatat ada sebanyak 1.183 perkara cerai gugat dan 374 perkara cerai tolak. Jadi total perkara perceraian yang masuk hingga September 2019 sebanyak ,1.557 perkara,” kata Barmawi, Humas PA Kelas I Batam, Selasa (8/9) sore.

Menurut Barmawi, faktor ekonomi masih menjadi alasan teratas perempuan mengajukan gugatan cerai. Alasan berikutnya adalah masalah orang ketiga atau perselingkuhan.

Usia perempuan yang mengajukan gugatan cerai ini juga tercata didominasi perempuan berusia muda dan usia pernikahan yang masih tergolong muda juga.

“Rata-rata yang mengajukan perceraian, usia pernikahan mereka masih tergolong sangat muda. Banyak di Angara yang menikah di usia muda dan diperkirakan secara emosional mereka belum stabil,” kata Barmawi.

Faktor lain, lanjut Barmawi, perceraian terjadi karena kurangnya bimbingan pranikah.

“Tidak adanya bimbingan membuat keributan mudah terjadi, rumah tangga itu sangat bergantung pada pembekalan awal sebelum calon pengantin melangsungkan pernikahan,” jelasnya.

Dari 1.557 perkara gugatan cerai dan talak cerai itu, setengahnya sudah sudah diputuskan Pengadilan Agama. Setengahnya lagi masih dalam proses persidangan dan dalam proses mediasi.

Jumlah perkara perceraian pada 2019 ini hanya sedikit lebih tinggi dibanding tahun 2018 lalu yang berjumlah 1.495 perkara. (Bintang)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here