ist

Batamxinwen, Jakarta – Pemerintah Indonesia sedang fokus memperluas perdagangan bebas dengan negara lain untuk menggairahkan investasi di dalam negeri. Hal ini sebagaimana yang dilakukan Vietnam. Negara itu punya sejumlah langkah menarik investasi mulai dari lahan gratis, perizinan yang cepat, stabilitas politik, produktivitas tenaga kerja, hingga terbuka dengan perdagangan bebas.

Deputi Bidang Pelayanan Penanaman Modal Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Husen Maulana mengatakan keunggulan Vietnam dibanding Indonesia dalam menggaet investasi ialah karena negara ini memiliki banyak kerja sama perdagangan bebas (free trade agreement) dengan negara maju. Misalnya saja, beberapa bulan lalu, Vietnam sudah meneken FTA dengan Uni Eropa, sedangkan Indonesia masih tahap pembahasan alot.

Dengan demikian investor di Vietnam diuntungkan saat menjual barang ke luar negeri alias ekspor. Mereka tak perlu membayar bea masuk di negara tujuan ekspor sehingga produk bisa berdaya saing.

“Vietnam punya banyak FTA, mungkin salah satu pertimbangan kenapa mereka ke sana, karena punya banyak FTA negara maju. Ada keuntungan yang diperoleh perusahaan itu di Vietnam pastinya tarif menjual produk ekspor bisa 0%,” katanya Kamis (5/9/2019) seperti dikutip dari detikcom.

Ia menjelaskan, dalam menentukan lokasi investasi, pemilik modal biasanya menimbang lahan, upah buruh dan produktivitas. Vietnam menawarkan kemudahan lahan karena lahan itu dikuasai negara. Investor yang butuh lahan bisa dipenuhi dengan cepat, yang terjadi di Indonesia sebaliknya.

“Menurut saya lahan menjadi pertimbangan utama mereka ke sana (Vietnam),” ujarnya.

Pemerintah Indonesia sedang berupaya menggalakkan pembentukan perdagangan bebas dengan negara lain, tahun ini akan ada tiga perdagangan bebas akan dirajut.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan sampai saat ini Indonesia baru melakukan 14 perjanjian perdagangan dan pada akhir tahun akan menambah 3 perjanjian lagi. Perjanjian ini akan efektif pada 2020 mendatang.

“Sampai hari ini sudah 14 dalam 3 tahun, sampai akhir tahun, Insya Allah ada 3 lagi. Total ada 17 perjanjian dan review perjanjian perdagangan yang ada,” kata Enggar dalam konferensi pers usai rapat koordinasi Pengembangan Industri Manufaktur di Gedung BI, Jakarta, Rabu (5/9/2019).(*)

Sumber: CNBCIndonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here