Himni Batam Minta Perkimtan Bertanggungjawab Atas Tewasnya Martina Hulu 

Korban tewas , Ucap Martina Hulu, beberapa waktu usai kecelakaan tertimpa pohon hingga tewas

Batamxinwen, Batam – Himpunan Masyarakat Nias (Himni) Batam meminta Dinas Perumahan Rakyat, Permukiman dan Pertamanan (Perkimtan) Kota Batam untuk bertanggungjawab atas meninggalnya salah satu warga mereka Ucap Martina Hulu (29).

Wanita itu tewas  tertimpa pohon di jalan raya kawasan Industri Villa Panbil, Minggu (31/2/2021) lalu.

Dalam rapat dengar pendapat (RDP) di ruang rapat Komisi I DPRD Kota Batam, Jumat (19/2/2021), didengarkan bersama sama penjelasan dari Dinas Perumahan Rakyat, Permukiman, dan Pertamanan (Disperkintam) Batam, Himpunan Masyakarat Nias (Himni) Batam, dan Unit Lakalantas Polresta Barelang mengenai kejadian tersebut.

Wakil Ketua Komisi I DPRD Batam, Harmidi Umar Husein mengatakan kejadian tewasnya Ucap Martina Hulu pihak yang harus bertanggung jawab adalah Disperkimtan Batam.

Menurutnya, lantaran kasus serupa sudah dua kali terjadi dalam empat tahun terakhir di Kota Batam.

“Hasil pemeriksaan Satlantas Polresta Barelang juga menyatakan kesalahan ada di kelalaian Perkimtan yang akhirnya menyebabkan pohon itu tumbang dan memakan korban jiwa,” ujarnya.

Selain itu, Harmidi juga menyayangkan dengan absennya Kepala Dinas Perkimtan, Eryudhi Apriadi dalam RDP itu.

Sehingga ia menilai, tidak ada pertanggungjawaban dari pihak Disperkintam Batam atas kejadian tersebut.

Tak hanya itu, Harmidi mengatakan sejak kejadian itu, pihak Disperkintam Batam tidak pernah menjumpai atau sekadar basa-basi berkomunikasi dengan pihak keluarga korban.

“Selanjutnya, RDP lanjutan akan kembali digelar pada Senin (22/2/2021) mendatang,” jelasnya.

Sementara itu, Wakil Ketua DPC Himni Kota Batam, Tomas Yeferson Lature mengatakan pihaknya sangat menyesali sikap dari Disperkimtan, karena sejak kejadian itu, mereka tidak pernah membangun komunikasi dengan pihaknya.

“Artinya, mereka sama sekali tidak pernah mengucapkan belasungkawa kepada pihak keluarga. Etika mereka tidak ada sama sekali. Padahal yang meninggal itu adalah manusia,” ujarnya.

Menurutnya, Disperkimtam Batam juga seakan menganggap hal itu bukan permasalahan mereka, dan bukan hasil dari kerja mereka.

“Kita juga menduga terdapat bekas potongan pada pohon tumbang yang menimpa Ucap Martina Hulu. Disperkintam Batam tidak menyelesaikan proses pemotongan itu. Sehingga, pohon itu patah dan menimpa keluarga kami. Itu akibat ulah mereka, ada kelalaian dalam hal ini,” jelasnya.

Ia berharap, ada semacam pengertian dari Disperkimtan Batam tetapi ia enggan jika disebut pihak Himni meminta sesuatu hal. Menurutnya RDP itu ada disebabkan karena tidak adanya etika dari Disperkintam Batam sejak awal.

“Kami berharap Disperkintam Batam memberikan perhatian khusus kepada pihak keluarga korban. Kalau ini tidak tuntas, kami akan tempuh jalur hukum,” tegasnya. (Shafix)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here