Covid-19
Covid-19

Batamxinwen, Jakarta – Ilmuwan China mengatakan virus corona atau COVID-19 tidak akan musnah, melihat konsesus yang berkembang di seluruh dunia bahwa patogen ini kemungkinan akan kembali bergelombang seperti penyakit flu.

Menurut ilmuwan tersebut, tidak mungkin virus baru akan menghilang begitu saja, layaknya SARS yang berkembang 17 tahun lalu, yang menginfeksi beberapa orang tanpa menimbulkan gejala yang jelas seperti demam.

Sekelompok peneliti virus di China mengatakan, kelompok pembawa asimptomatik ini menyulitkan karena mereka turut menularkan virus tanpa terdeteksi.

Dengan SARS, mereka yang terinfeksi menjadi sakit parah. Begitu mereka dikarantina, virus itu berhenti menyebar.

Sebaliknya, China masih menemukan lusinan kasus virus corona yang tidak bergejala setiap hari, meskipun mereka telah mampu mengendalikan pandemi ini.

“Ini sangat mungkin menjadi epidemi yang hidup berdampingan dengan manusia untuk waktu yang lama, menjadi musiman dan berkelanjutan dalam tubuh manusia,” ujar Jin Qi, direktur Institute of Pathogen Biology di institut penelitian medial top Tiongkok, Akademi Ilmu Kedokteran, dikutip Times of India, Selasa, 28 April 2020.

Sebuah konsesus sedang berkembang di antara para peneliti dan pemerintah di seluruh dunia bahwa virus ini tidak mungkin musnah.

Beberapa ahli kesehatan menyatakan, virus telah menyebar melalui populasi yang lebih kecil, sedangkan di sisi lain negara-negara seperti Swedia malah memutuskan untuk menghentikan lockdown.

Anthony Fauci, direktur Institut Alergi dan Penyakit Menular Nasional AS (NIAID), mengatakan pada bulan lalu bahwa COVID-19, penyakit yang disebabkan oleh virus dapat menjadi penyakit musiman, seperti yang telah dibuktikan oleh kasus-kasus yang sekarang muncul di negara-negara di belahan bumi selatan, yang baru memasuki musim dingin.

Lebih dari 3 juta orang telah jatuh sakit dan lebih dari 210 ribu orang tewas karena pandemi global ini.

Sementara beberapa orang, termasuk Presiden AS Donald Trump telah menyatakan harapan bahwa penyebaran virus ini akan melambat ketika suhu di negara-negara belahan bumi utara meningkat pada musim panas, para pakar di China mengatakan, mereka tidak menemukan bukti untuk ini.

“Virus ini peka terhadap panas, tetapi pada suhu 56 derajat Celcius selama 30 menit dan cuaca tidak akan pernah sepanas itu. Jadi secara global, bahkan selama musim panas, kemungkinan kasus turun secara signifikan kecil,” kata Wang Guiqiang, kepala departemen penyakit menular di Peking University First Hospital. (*)

Sumber: Viva

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here