Dalam Swab Test Ini, Kantor Perwakilan BP Batam Bekerja Sama dengan Rumah Sakit Pelni, yang Dilaksanakan di Lobby Kantor Perwakilan BP Batam Jakarta/BX/Ist

Batamxinwen, Jakarta – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) sudah menetapkan batas atas harga tes PCR Rp 900 ribu, harga ini jauh lebih murah dibandingkan sebelum ada standar. Sebelumnya tes swab PCR bisa menelan biaya hingga Rp 1,3 juta per sekali tes.
Akan tetapi harga swab PCR di Indonesia setelah diatur pun masih jauh lebih mahal dibandingkan India yang hanya Rp 480 ribu.

Mantan Direktur Penyakit Menular WHO South-East Asia Region Prof dr Tjandra Yoga Aditama mengungkapkan perbedaan biaya uji PCR di Indonesia dengan negara lain seperti India sangat jauh. Untuk PCR di Indonesia, salah satu yang disoroti adalah harga tes yang mahal, sebelum akhirnya pemerintah menetapkan standar harga.

“Saya PCR di India sebelum berangkat, petugasnya datang ke rumah, dan biayanya Rp 480 ribu. Sampai Jakarta, saya mengetahui test PCR bisa Rp 1,3 juta,” kata Tjandra dikutip dari detik.com, Sabtu (31/10/2020).

Saat ini, tes swab PCR masih menjadi standar pengetesan untuk mencari pasien positif oleh WHO. Badan kesehatan dunia juga menetapkan standar jumlah pengetesan berdasarkan jumlah populasi. Standar ini kemudian dijadikan patokan termasuk di Indonesia, dalam meningkatkan tes mencari pasien positif dan penanggulangan Covid-19.

Bukan hanya test PCR, dia mengatakan dari harga obat-obatan pun di India jauh lebih murah dibandingkan di Indonesia. Sebelum Covid-19, ketika pulang ke Indonesia dari India, dia mengaku sering dititipi obat karena harganya jauh lebih murah.

“Sebelum Covid-19, kalau saya pulang ke Jakarta, teman-teman titip obat. Bukan hanya PCR harga obat pun jauh lebih murah, bisa setengah dan lebih dari setengahnya, dan orang-orang sudah tahu kalau India lebih murah,” katanya.

Tjandra mengatakan alasan kenapa India bisa menjual obat lebih murah adalah mereka memiliki bahan baku sendiri. Lain halnya dengan Indonesia yang sebagian besar bahan baku obat masih harus impor, salah satunya dari India.

“Itu (bahan baku) menjadi dasar penting. Kedua mungkin karena pasarnya besar sekali, jadi berlaku suplai dan demand kalau pasar besar. Saya tidak tahu kalau soal upah berpengaruh atau tidak, begitu juga soal pajak. Tapi yang pasti mereka memiliki bahan baku sendiri,” kata dia.

Sumber: CNBC Indonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here