Ini Penjelasan Dofan Teman Satu Kamar Napi Tewas di Rutan Batam

Dofan (kaus biru) menceritakan kondisi teman sekamarnya, Siprianus, sebelum akhirnya meninggal di rumahsakit.

Batamxinwen, Batam -Seorang warga binaan di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas 2 A Batam, Siprianus Apiatus Bin Philipus meninggal dunia di Rumahsakit Umum Daerah Embung Fatimah Batuaji Kota Batam, Sabtu (10/4/2021) lalu karena sakit. Namun belakangan pihak keluarga menduga kalau mendiang tewas  akibat sebab lain.

BACA JUGA : Napi di Rutan Batam Meninggal Dunia, Keluarga Minta Autopsi

Kabar meninggalnya Siprianus Apiatus Bin Philipus, juga sampai ke telingan seorang warga binaan Rutan Kelas II A Batam, Dofan Fernandes. Dofan adalah teman satu kamar dari mendiang Siprianus.  Ditemui Senin (12/4/2021), Dofan menceritakan bagaimana kondisi mendiang sebelum meninggal bahwa sebelum meninggal, Siprianus  mengeluh kepada Dofan kalau dirinya sakit  sejak 2 hari sebelum meninggal.

“Saya dan dia (Siprianus) kan juga teman satu kelompok makan, pada saat itu saya tanya dia kenapa tidak makan? dia bilang perut sama ulu hatinya sakit, saya bilang sama dia makanlah, kalau tidak makan nanti tambah sakit. Tapi ketika dia makan, dia nampak mual dan muntah-muntah. Nah disitulah awal mulanya,” ujar pria yang disapa Dofan ini ketika dijumpai awak media, Senin (12/4/2021) di Rutan Kelas II A Batam.

Melihat hal tersebut, lantas dirinya langsung memanggil petugas Rutan dan melaporkan hal itu. Petugas tersebut langsung datang memberikan obat kepada Siprianus. Sayangnya  setelah minum obat itu, Siprianus masih tetap muntah-muntah.

“Pas hari Jumat (9/4/2021) malamnya,  dikasi lagi obat oleh petugas. Tapi dia masih tetap muntah-muntah. Selanjutnya, diberikan lagi obat oleh petugas dan dia saya lihat agak mendingan kondisinya, karena langsung tidur pada hari itu,” bebernya.

Setelah itu, pada pagi harinya, Dofan mengatakan, Siprianus kembali mulai muntah-muntah lagi, dan langsung dibawa ke klinik. “Balik dari klinik dia disuruh istirahat ke kamar oleh petugas. Sampai di kamar dia mintak bantu kerokan sama teman, orang kita juga Flores alasannya masuk angin dia bilang,” ungkap Dofan.

Kata dia, pascakerokan itulah baru kondisi, Siprianus semakin drop. Dofan  yang merupakan rekan satu kamarnya mulai risau dan kembali  melaporkan kondisi ini ke petugas perihal hal tersebut.

“Sabtu (10/4/2021) pagi datanglah petugas klinik untuk membawa, Siprianus ke rumah sakit. Setelah itu saya tidak tahu lagi bagaimana. Tiba-tiba saja kami dapat kabar bahwa Siprianus sudah meninggal dunia,” jelasnya.

Disinggung mengenai pihak keluarga Siprianus yang menduga  ada  penganiayaan atas meninggalnya narapidana ini, Dofan membantahnya.

“Kalau soal ada bekas merah-merah di badannya itu memang bekas kerokan bukan penganiayaan, karena tidak ada ribut-ribut di dalam Rutan, apalagi sampai ada perkelahian,” ucapnya.

Selain itu, menurut Dofan, apabila memang ada penganiayaan atau keributan yang dialami oleh Siprianus,  Dofan dan kawan kawan satu kamarnya  tidak mungkin tinggal diam.

“Kami pasti akan membela yang dia (Siprianus) karena merupakan teman satu kampung. Tidak mungkin, Siprianus dianiaya di sini karena Danton kamar kita saja juga orang Flores, tidak mungkinlah kita diam saja melihat dia dianiaya,” tegasnya.

Keluarga Duga Ada Penganiayaan

Sebelumnya diberitakan, Siprianus Apiatus Bin Philipus, narapidana Rutan Kelas II A Batam (27), meninggal di RSUD Embung Fatimah, Batuaji, Kota Batam, Sabtu (10/4/2021).

Menurut Kepala Pengamanan Rutan Kelas II A Batam, Ismail, awalnya, Siprianus dilarikan ke klinik rutan karena mengeluh sakit. Namun, karena kondisinya memburuk, sekitar pukul 10.00 WIB, Siprianus kemudian dilarikan ke RSUD Embung Fatimah. Sekitar dua jam berada di rumah sakit, Siprianus dinyatakan meninggal dunia.

“Kemudian kita langsung beritahukan kepada keluarganya,” ujar Ismail ditemui di Instalasi Forensik RS Bhayangkara, Minggu (11/4/2021).

Namun, keluarga Siprianus melalui kuasa hukumnya, Natalis Zega dari Peradi Batam Raya, mengatakan, pihaknya menduga ada penyebab lain dari kematian Siprianus. Ada dugaan penganiayaan. Dugaan penganiayaan itu muncul setelah pihaknya menemukan memar di tubuh Siprianus.

“Kami sudah melaporkan kejadian ini ke pihak kepolisian dan meminta agar dilakukan autopsi untuk mengetahui penyebab kematian,” ujar Natalis.

Untuk diketahui, Siprianus merupakan narapidana dalam kasus tindak pidana pengeroyokkan. Ia dihukum selama 1 tahun 6 bulan dan sedang mengajukan pembebasan bersyarat. (shafix)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here