Asen alias Hasan, narapidana kasus pembunuhan yang menjadi otak penyelundupan narkoba di Lapas Khusus Narkotika, Tanjungpinang. Foto: Tribunnews.com

Batamxinwen, Batam – Enam tahun lalu, Asen alias Hasan, divonis 20 tahun penjara atas pembunuhan seorang model remaja yang masih duduk di bangku kelas 2 SMK Permata Harapan pada 9 Mei 2014. Selama di penjara di Lembaga Pemasyatakatan Barelang, Asen mulai melirik bisnis haram. Yaitu peredaran gelap narkoba jenis sabu di lingkungan penjara.

Asen pun mulai menjalankan bisnisnya pada tahun 2017. Untuk memuluskan penyelundupan sabu ke penjara, Asen bersekongkol dengan Suryawati, istrinya sendiri. Suryawati tidak sendirian dalam upayanya menyelundupkan sabu. Ia memanfaatkan anaknya yang masih balita untuk menghindari kecurigaan petugas lembaga pemasyatakan.

22 September 2017, Asen merencanakan penyelundupan 5,49 gram sabu melalui Suryawati. 5,59 gram sabu itu oleh Suryawati dibagi menjadi dua paket yang dibungkus dalam dua plastik kecil. Dua paket sabu itu kemudian ia masukan ke dalam pampers yang dipakai anaknya untuk menghindari pemeriksaan petugas.

Namun, petugas yang memeriksa dan mengawasi setiap pengunjung yang membesuk narapidana tidak kalah awas. Petugas menggeledah semua barang bawaan dan tubuh Suryawati serta anaknya karena gerak gerik yang mencurigakan. Kecurigaan petugas pun terbukti, dua paket sabu dalam pampers disita petugas. Asen dan istrinya pun diseret ke meja hijau. Pada 24 Mei 2018, Majelis Hakim Pengadilan Negeri Batam menjatuhkan vonis tujuh tahun penjara subsider enam bulan, dan denda sebesar Rp 1 miliar pada Asen.

Terlibat dalam peredaran gelap sabu di penjara di Batam, Asen kemudian dipindahkan ke Lembaga Pemasyarakatan Khusus Narkotika, Tanjungpinang. Di lapas narkotika ini, Asen justru kembali merencanakan penyelundupan sabu ke dalam lapas. Kali ini jumlahnya jauh lebih banyak dari sebelumnya. 406 gram. Sabu yang akan ia selundupkan itu berasal dari seorang rekannya di Malaysia yang ia akui bernama Prabu Mogahan. Asen pun mengatur rencana penyelundupan. Ia kemudian meminta Wawan Safandri, orang suruhannya, untuk menerima sabu dari seorang bernama Holdan, kurir suruhan Parbu, setibanya di Batam. Lalu, sabu itu dibawa Wawan ke lapas untuk diserahkan kepada Asen.

Namun, penyelundupan yang direncanakan Asen terendus petugas hingga berhasil digagalkan. Asen pun kembali diseret ke meja hijau. Kali ini, hukuman penjara Asen bertambah selama 14 tahun penjara. Dua kali gagal menyelundupkan sabu dan hukumannya bertambah, tak membuat Asen kapok. Asen kembali berusaha menyelundupkan sabu untuk ketiga kalinya. Namun, kali ini jumlahnya hanya 50 gram. Melalui orang suruhannya yang bernama Hermius Mauate, Asem mendapatkan sabu dari seseorang yang disebut bernama Agam di bilangannTanjungpiayu pada 11 Maret 2020 lalu. Apes, sebelum sabu itu diantarkan kepada Asen, Hermius dibekuk anggota Direktorat Narkoba Polda Kepri.

Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Negeri Batam, Herlambang Adhi Nugroho mengatakan, saat ini, proses hukum keterlibatan Asen sebagai narapidana yang mengendalikan penyelundupan narkoba ke dalam lapas untuk ketiga kalinya sedang dalam proses menunggu tuntutan dari Kejaksaan Agung. “Jadi saat ini Kejaksaan Negeri (Kejari) Batam dalam perkara ini telah berkomunikasi dengan Kejaksaan Agung (Kejagung) untuk memberikan tuntunan hukuman yang pantas kepada Asen,” ujar Herlambang, by pada Batamxinwen.com, Jumat 11 September 2020.

Namun, walaupun telah berulangkali menjadi otak penyelundupan sabu ke dalam lapas, menurut Herlambang, barang bukti sabu yang dikendalikan Asen tergolong sedikit sehingga Asen lolos dari ancaman hukuman mati seperti yang diatur dalam Peraturan Jaksa Agung (PERJA).

Saat ini, atas pembunuhan dan penyelundupan sabu yang dilakukannya, Asen harus menjalani hukuman penjara selama 41 tahun. Kini, Asen sedang menunggu tambahan hukuman atas penyelundupannya yang ketiga. (JP)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here