Jembatan Pelangi, Wisata Mangrove Andalan Selatpanjang

Batamxinwen, Batam – Jembatan Pelangi Wisata Mangrove menjadi objek wisata andalan Desa Banglas Selatpanjang, Kepulauan Meranti untuk menggaet wisatawan, hutan mangrove yang lebat disulap menjadi objek pariwisata yang sarat nilai edukasi.

Petang itu, saat batamxinwen mengunjungi objek wisata yang terletak di pesisir Sungai Suir, ratusan pengunjung yang didominasi warga Tionghoa memadati jembatan yang ditata apik itu.

Dari atas jembatan, pengunjung dapat melihat beragam jenis pohon mangrove yang tumbuh rindang di pinggir pantai gambut itu; tercium aroma bakau yang pekat. Pengunjung juga bisa mengenal beragam spesies pohon mangrove karena tersedia papan nama di batang pohon tertentu. Di ujung jembatan, berdiri satu pondok bertingkat dua; pemandangan hutan mangrove di kedua sisi pantai sungai dapat terlihat dengan jelas.

Samsurizal, Kepala Desa Banglas (Kanan) dan seorang warga. Foto: BX/Ependi

Menurut Kepala Desa Banglas Samsurizal, Jembatan Pelangi diresmikan Bupati Kepulauan Meranti dan Ketua DPRD Riau di penghujung tahun 2019; meskipun masih relatif baru, objek wisata mangrove tersebut saban hari dikunjungi pengunjung.

“Di hari libur seperti Imlek ini, pengunjung jauh lebih ramai,” ujar Samsurizal kepada batamxinwen di Selatpanjang, Minggu (26/1).

Menurutnya, objek wisata yang bersebelahan dengan panglong arang bakau tradisional ini didirikan untuk memperkenal perlindungan dan pengolahan hutan mangrove secara berkelanjutan kepada masyarakat, terutama kaum pelajar.

“Banyak pelajar dan masyarakat kita belum paham tumbuhan pesisir, antara lain bakau, api-api, cingcam, dan lainnya, “

Untuk mewujudkan misi edukasinya, pemerintah setempat mengratiskan retribusi masuk kepada pengunjung berstatus pelajar.

“Untuk pelajar, kami gratiskan masuk ke Jempatan Pelangi,” imbuhnya, sembari menjelaskan tiap pengunjung umum dikenakan pungutan Rp3 ribu per orang.

Selama perayaan Tahun Baru Imlek yang dimeriahkan dengan Festival Perang Air di Selatpanjang, Samsurizal menyuguhkan hiburan musik yang bisa dinikmati setiap pengunjung, termasuk masyarakat Tionghoa yang hendak menyumbangkan lagu.

“Kami pada kesempatan ini juga ucapkan selamat Tahun Baru Imlek kepada saudara kita etnis Tionghoa, gong xi fa cai,” pungkasnya.

Selain hutan bakau, jembatan warna-warni, dan tungku arang bakau, pengunjung juga dapat menikmati bukit “salju” yang letaknya tak jauh dari Jembatan Pelangi. Bukit itu sejatinya adalah tumpukan pasir kapur yang mengeras dan membentuk tumpukan tinggi. Pemandangannya cukup instagramable, sehingga bisa jadi lokasi pemotretan yang unik bagi pencinta fotografi. (Ependi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here