Batamxinwen, Jakarta – Tentang imunisasi saat ini semua negara di dunia melakukannya secara rutin. Ya, semua negara di dunia yang jumlahnya lebih dari 190 negara termasuk negara-negara muslim! Negara-negara di dunia juga terus menerus melaksanakan program imunisasi, baik itu negara berkembang maupun negara maju yang memiliki tingkat sosial ekonomi tinggi.

Tak cuma melakukan imunisasi secara rutin dan terus menerus, banyak negara yang sampai membuat kebijakan-kebijakan khusus untuk mendukung pemberian imunisasi pada semua anak. Jerman misalnya.

Pemerintah Jerman baru saja mengeluarkan aturan baru demi mencegah penyebaran campak di negaranya. Aturan baru ini adalah perintah imunisasi atau vaksinasi yang wajib dilakukan untuk semua anak di Jerman.

Aturan ini disahkan pada 17 Juli 2019 dan akan mulai diberlakukan per 1 Maret 2020. Nantinya, orang tua yang ingin menyekolahkan anaknya harus menunjukkan bukti bahwa anak mereka telah mendapat imunisasi.

Orang tua yang tidak bisa menunjukkan bukti mengenai imunisasi anak bakal didenda hingga 2.500 euro atau sekitar Rp39 juta. Selain itu, anak mereka akan dilarang masuk ke sekolah.

Aturan yang sama juga berlaku bagi para guru, perawat anak, dokter, dan orang dewasa lain yang bekerja di fasilitas medis atau komunitas. Mereka harus menunjukkan bukti telah mendapat imunisasi untuk mencegah berbagai penyakit menular. Para pencari suaka dan pengungsi pun diminta untuk menunjukkan bukti imunisasi, jika ingin masuk ke dalam penampungan di Jerman.

“Kami ingin melindungi semua anak dari infeksi campak,” ujar Jens Spahn, Menteri Kesehatan Jerman, seperti dilansir IFL Science.

Ini merupakan langkah Jerman menjaga negerinya dari wabah campak. Sebab, pada 2018, tercatat ada 82.596 kasus campak baru yang terjadi di sana.

Jerman menjadi salah satu negara Eropa yang paling buruk mengalami dampaknya. European Centre for Disease Prevention and Control (ECDC) melaporkan bahwa ada 651 kasus campak baru di Jerman.

Dengan aturan baru ini, pemerintah berharap bisa meningkatkan tingkat vaksinasi di Jerman di atas 95 persen. Angka itu berdasarkan rekomendasi dari Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) untuk menciptakan ketahanan menyeluruh terhadap campak.

Penyebab utama mewabahnya campak di Eropa adalah akibat kegagalan melakukan vaksinasi. Meski banyak faktor di balik terjadinya wabah, masalah rasa tidak percaya terhadap vaksin akibat internet dianggap menjadi salah satu kontributor terbesar.

Rasa tidak percaya itu adalah akibat sebuah riset palsu yang menghubungkan vaksin campak, gondok, dan rubella (MMR) dengan autisme. Riset ini dipimpin oleh Andrew Wakefield yang terbit pada 1998.

Riset ini telah ditarik dari umum dan dibuktikan salah. Wakefield telah dilarang bekerja sebagai dokter di Inggris dan diputuskan bersalah atas pemalsuan data, eksploitasi anak, dan konflik kepentingan.(*)

Sumber: kumparan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here