Pemred Batamxinwen saat berbincang dengan majikan Aufa. Foto: Bintang/ BX

Batamxinwen, Batam – Kondisi perempuan muda berusia 22 tahun bernama Aufa itu nampak masih trauma, saat ditemui ketika hendak membuat laporan ke Polsek Batamkota, Sabtu (23/11/2019).

Dia tampak lemas, luka lebam di sekitar pelipis mata masih terlihat jelas. Saat itu perempuan mungil dengan rambut sebahu itu mengaku kepada petugas baru berhasil kabur dari cengkeraman keji majikannya.

“Saya dianiya majikan Pak,” adu Aufa kepada petugas.

Ya. Kepada polisi, gadis asal Palembang itu mengaku dianiaya majikan perempuannya berinisial Ve. Aufa juga mengaku, selama ini dirinya sering mendapat perlakuan kasar sejak 6 bulan terakhir. Dimana saat dirinya telat bangun tidur, atau salah membersihkan sesuatu pasti dipukul.

Saat melapor itu, Aufa menunjukkan bekas luka bocor di bagian kepala atas. Pelipis mata kanan bengkak, kata Aufa dipukul majikan menggunakan centong. Kemudian lengan kirinya juga memar dan bengkak.

Cerita Aufa, Sebelum kabur itu, dia awalnya disuruh tutup pintu gerbang oleh majikan. Saat itulah Aufa mendapat kesempatan untuk kabur. Korban jalan kaki sampai ke luar perumahan elite Dutamas.

Lanjutnya Di jalan ketemu dengan tukang ojek, diboncenglah. Kepada tukang ojek tadi Aufa minta tolong untuk diantarkan ke kantor polisi. Sialnya Aufa bukan dibawa ke kantor polisi malah dibawanya ke Ocarina, Batamkota.

“Saya dibawa ke tempat sepi, mau digitukan (perkosa). Tapi berhasil kabur dengan loncat dari motor. Syukur saya tak dikejar,” kata dia, lalu sampailah di Polsek Batamkota.

Aufa mengaku, kerja di rumah itu lewat salah satu penyalur di Batam yaitu PT AUB. Bekerja dengan kontrak satu tahun dan baru berjalan delapan bulan belakangan ini.

Majikannya (Ve) saat Batamxinwen mencoba melakukan konfirmasi mendatangi kediamannya, saat itu ditemui oleh suaminya dan dia membantah cerita Aufa tersebut

“Tak ada itu, tanya aja kepolisi,” ketusnya

Lanjut, Kuasa Hukum dari penyalur Aufa, Gandhi Hartawan mengatakan, saat ini pihak korban dan majikan telah sepakat berdamai menyelesaikannya masalah secara kekeluargaan. Jalan itu dipilih, karena Aufa saat ingin melanjutkan perkara mengingat jasa – jasa majikannya dulu.

“Mereka sudah didamaikan, dan sekarang korban juga sudah dipulang ke kampung halamannya,” ujarnya, Selasa (26/11).

Kata Gandhi, kenapa dipulangkan ke kampung halaman, itu karena permintaan Aufa sendiri dan mengingat kontrak antara dia dan majikan saat itu memang tak lama lagi habis. Ikatan kontrak yang diteken dengan agen penyalur PT AUB selama setahun.

Lalu lanjut Gandhi, semua hak Aufa juga sudah ditunaikan oleh sang majikan, mulai dari gaji hingga THR. Dari situ diketahui wanita malang tersebut diupah Rp 2,3 juta setiap bulannya.

“Semua hak yang belum dibayarkan sudah selesai, dan kasus ini juga tidak lanjut,” pungkasnya. (Bintang)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here