Kolaborasi Sape’ Dayak Bersama Kelompok Musik Nunsense Memecahkan Suasana

Pertunjukan musik kolaborasi Krisko Sape dan Nunsense sedang berlangsung. Sabtu (7/3/2020). Foto: Hasan/Ihsan BX.

Batamxinwen, Batam – Pada hari Sabtu malam minggu, tanggal 8 Maret 2020. Pandora Market Batam Center menggelar pertunjukan musik. Di mana event itu menyajikan; live musik dan kompetisi games Mobile Legends. Pada pergelaran event ini, ada suatu momen pertunjukan musik yang menggabungkan musik tradisi Sape Dayak dengan kelompok musik akustik Nunsense.

Tepat pukul 19.00 wib, event movement 2020 dibuka oleh seorang MC pria. “Latar belakang event pada malam ini, ialah suatu wujud dukungan panitia kepada generasi milineal Batam untuk berekspresi dalam hal kegiatan positif. Salah satunya games dan live musik akustik,” ujar MC movement Sabtu (7/3/2020).

Selang beberapa saat, MC tadi memanggil penyanyi muda bernama Syakillo yang menyajikan live musik akustik. Ia bernyanyi diiringi oleh seorang pemain gitar akustik, dan seorang pemain Cajon. Pada pertunjukan Syakillo komposisi musiknya cukup menarik untuk diperhatikan sebab menghibur para penonton dengan membawakan lagu-lagu populer masa kini.

Selanjutnya, pertunjukan musik dari seorang seniman muda bernama Krisko yang menyajikan permainan Sape’ dari suku Dayak Borneo. Sape’ merupakan musik tradisi suku Dayak yang badannya menyerupai perahu terdiri dari dua sampai empat dawai pada alat musik Sape’ tradisi. Pada perkembangannya dawai Sape’ bisa enam, tujuh, delapan, dan seterusnya.” Cara memainkannya dipetik menggunakan jari. Badan sape biasanya terdiri dari ornamen ukiran burung enggang dan tari-taring hewan buruan yang melambangkan kebesaran suku Dayak,” ujar Krisko, pemain Sape’ Sabtu (7/3/2020).

“Konon katanya, Sape’ diciptakan oleh seorang pemuda yang selamat dari kecelakaan sampan yang karam, dan dia terdampar di sebuah pulau di tengah sungai. Di tengah kesendiriannya, dia tiba-tiba mendengar suara musik yang disinyalir berasal dari dasar sungai. Merasa mendapat ilham dari nenek moyang, pemuda ini mencoba membuat alat musik dengan bunyi yang sama ketika pulang ke rumahnya,” Ujar Krisko.

Pada malam ini, Krisko hanya memainkan dua karya musik populer yang sudah ada untuk menjadi musik latar pada permainan Sape’nya. Ia terlihat menikmati permainan, begitu juga dengan penonton yang turut hadir ikut hanyut dalam alunan Sape’. Sesekali penonton itu ikut bernyanyi bersama sebab lagu yang dimainkan Krisko sangat familiar bagi para penonton.

Setelah usai pertunjukan musik Sape’, selanjutnya pertunjukan musik dari kelompok Nunsense yang menyajikan live musik akustik masa kini yang mengikuti trend, seperti musik-musik party, lagu EDM atau Electronic Dance Music, dan lagu-lagu populer Indonesia maupun Barat.

Para personil Nunsense sedang mempersiapakan instrumennya masing-masing saat di atas panggung. Lalu, selang beberapa saat, diawali dari genjrengan seorang pemain gitar, kemudian disusul seorang pemain bass dengan ciri khas cabikannya yang padat. Sementara pemain perkusi  ketukannya menyusul masuk perlahan-lahan dan tak lupa fill in sesekali dimainkan pada ritem yang sedang berjalan itu. Irama terkesan energik sehingga seperti genre musik funk, sungguh irama itu mencairkan suasana pada malam ini.

Tak lupa, seorang vokalis memasuki arena panggung, lalu memperkenalkan satu demi satu para pemusiknya saat intro musik berlangsung. Kelompok musik Nunsense itu membawakan dua belas lagu. Dua lagu urutan satu dan kedua merupakan kolaborasi dengan Krisko Sape’. Yaitu lagu Fix You dan Don’t Look Back in Anger. Dari sajian dua lagu itu, terlihat para penonton sangat familiar dengan kedua lagu itu, mereka pun merasa nyaman dan larut dalam kolaborasi musik ikut bernyanyi bersama.

Menurut Kinoy, “kolaborasi kelompok musik Nunsense bersama pemusik tradisi Sape’ Krisko; pada event kali ini, merupakan kesepakatan bersama. Tujuannya tak lain sebagai daya tarik pada penonton yang hadir pada malam ini. Kami ingin menampilkan pertunjukan musik yang berbeda dari yang lainnya. Kolaborasi ini juga melalui kesepakatan seperti; pemilihan nada untuk beberapa lagu yang disajikan yang sesuai dengan nada diatonis. Sebab, Sape’ sendiri memiliki nada-nada musikal khas suku Dayak, tidak semuanya lagu populer Barat atau populer Indonesia dapat dipadukan dengan Sape” ujar Kinoy, gitaris Nunsense, Sabtu (7/3/2020).***

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here