BX/"Gojek telah melihat transaksi senilai US $ 12,5 miliar di seluruh platform" pada tahun 2018/Foto: Go-jek.com

BatamXinwen, Jakarta – Gojek, aplikasi berbagi tumpangan yang didukung oleh Google, mulai buka-bukaan mengenai kondisi keuangan perusahaan meskipun baru terbatas.

Aplikasi yang didirikan oleh Nadiem Makarim dan Kevin Aluwi ini menyatakan mearih transaksi senilai US$ 12,5 miliar atau Rp 177,5 triliun (kurs Rp 14.200) selama 2018.

“Gojek telah melihat transaksi senilai US $ 12,5 miliar di seluruh platform” pada tahun 2018, dengan pertumbuhan yang konsisten dan eksplosif,” ujar Kevin Aluwi, seperti dikutip dari Straitstimes, Kamis (24/1/2019).

Gojek berdiri pada 2011 dan mulai mengembangkan aplikasi berbagi tumpangan di Indonesia pada 2014. Gojek kemudian mengembangkan berbagai layanan platform online yang didukung oleh transportasi. Selain itu Gojek juga mengembangkan Gopay yakni dompet digital untuk transaksi di layanan Gojek maupun merchant yang bekerja sama.

Start-up ini pada minggu lalu mengumumkan bahwa mereka telah mengakuisisi saham mayoritas di perusahaan fintech Filipina Coins.ph, yang mengoperasikan dompet mobile dengan lima juta pengguna.

Situs web berita Techcrunch mengutip dua sumber anonim yang mengatakan investasi itu bernilai US $ 72 juta.

Aluwi, yang berbicara pada saat KTT PE-VC 2019 DealStreetAsia, menolak mengkonfirmasi besaran investasi, tetapi mengatakan perusahaan melihat “pembayaran sebagai bagian penting dari platform yang berkembang”.

Gojek telah mengumpulkan miliaran dolar dari investor seperti Tencent Holdings, JD.com dan Temasek Holdings dalam perebutan pangsa pasar.

Sumber mengatakan kepada Reuters pada bulan November bahwa valuasi Gojek adalah sekitar US $ 9 hingga US $ 10 miliar.

Perusahaan, yang telah meluncurkan layanannya di Singapura, Vietnam, dan Thailand pada 2018, sedang memeriksa apakah akan memperluas ke Malaysia, kata Aluwi.

Sumber: CNBC Indonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here