ist

Batamxinwen, Jakarta – Terjadinya kontroversi Gojek yang membuat pengusaha taksi Malaysia protes, akhirnya dijelaskan oleh Kementerian Transportasi setempat.

Menurutnya Kabinet Mahathir hanya memberikan persetujuan untuk konsep ‘layanan ojek online (ojol)’ bukan memberi izin perusahaan tertentu beroperasi.

Jawaban ini disampaikan oleh Menteri Transportasi Malaysia Anthony Loke ketika diminta wartawan mengklarifikasi kenapa mengizinkan Gojek masuk Malaysia dan bukan mendorong Dego Ride, perusahaan ojek online lokal.

Anthony Loke mengatakan Kabinet Mahathir belum membuat keputusan untuk mengizinkan Gojek, ride-hailing asal Indonesia, untuk beroperasi di sini.

“Ada banyak kebingungan dalam masalah ini. Biar saya perjelas lagi, Kabinet belum menyetujui Gojek untuk beroperasi di sini (Malaysia),” ujar Anthony Loke, seperti dikutip dari New Straits Times, Senin (9/9/2019).

“Kami hanya menyetujui sistem e-hailing sepeda motor untuk beroperasi, dan Gojek adalah salah satu perusahaan e-hailing. Kami tidak memberikan persetujuan apa pun kepada Gojek. GoJek, seperti perusahaan lain, perlu mematuhi hukum untuk memberikan layanan seperti itu di negara ini.”

Asal tahu saja, Dego Ride adalah layanan ojek online milik pengusaha Malaysia. Layanan ini pertama kali diluncurkan pada 2016 dengan menawarkan layanan dengan harga 2,5 ringgit atau setara Rp 8.433 untuk 3 Km pertama. Layanan ini beroperasi di daerah Lembah Klang.

Namun, pada Januari 2017, Wakil Menteri Transportasi Abdul Aziz Kaprawi, mengatakan Kementrian Transportasi tidak pernah mengeluarkan lisensi untuk operator layanan sepeda motor karena melanggar peraturan lalu lintas negara.

Tahun lalu, Anthony Loke juga tak mengizinkan layanan ojek online beroperasi di Malaysia karena faktor keamanan mengingat tingginya jumlah kecelakaan sepeda motor.(*)

Sumber: CNBCIndonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here