Batamxinwen, Jakarta – Tersangka kasus kepemilikan senjata ilegal dan makar, Mayjen (purn) Kivlan Zen mengalami stroke ringan saat berada dalam Rumah Tahan Pomdam Jaya Guntur, Jakarta Selatan. Kondisi itu membuat Mantan Kepala Staf Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat itu perlu mendapat perawatan medis di rumah sakit.

Pengacara Kivlan, Hendry Siahaan, menyebut dokter di Rutan Guntur sudah menyarankan agar kliennya menjalani pemeriksaan lebih lanjut di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto.

“Surat dari dokter di dalam Pomdam ke RSPAD. RSPAD lalu buat surat ke Kejari (Jakarta Selatan) surat permohonan agar Saudara Kivlan diperiksa,” kata Hendry usai menghadiri sidang praperadilan yang diajukan Kivlan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jumat (30/8).

Namun, Henry mengaku kesulitan mendapatkan izin dari Kejari Jakarta Selatan mengenai izin pemeriksaan itu. Ia merasa seakan-akan permintaan kliennya itu tak direspons dengan baik.

“Jadi gini kita sudah membuat permohonan ke pihak Kejaksaan Jakpus agar Saudara Kivlan bisa diperiksa kesehatannya di RSPAD,” kata dia.

“Tapi sampai saat ini kelihatan pihak Kajari main pingpong. Kami sebagai kuasa hukum sampai detik ini belum (mendapat) ada respons. Sementara kondisi Pak Kivlan sangat membutuhkan perawatan,” ungkapnya.

Padahal, kata Hendry, izin tersebut menyangkut masalah kemanusiaan. Ia pun kecewa kepada pihak kejaksaan yang sampai saat ini belum mengabulkan izin atas surat permohonan pemeriksaan itu. Surat itu disampaikan ke Kejaksaan Senin (26/8).

“Ini menyangkut HAM, sebenarnya Kejaksaan juga harus lebih bijaksana. Kami juga kecewa dari pihak kejaksaan yang sampai saat ini belum mengabulkan surat kami padahal itu jelas dokter sudah merujuk ke RSPAD,” pungkasnya.

Kivlan mendekam dalam Rutan Guntur karena diduga terlibat kasus pemilikan senjata secara ilegal. Perkara ini merupakan pengembangan dari tersangka kasus kerusuhan 22 Mei 2019.

Selain itu, Kivlan juga menjadi tersangka dalam kasus dugaan makar.
Kasus senjata ilegal yang ditangani Polda Metro Jaya itu digugat Kivlan lewat praperadilan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Dia mempermasalahkan penangkapannya, penetapan sebagai tersangka, penyitaan, dan penahanan.

Gugatan Kivlan sudah pernah ditolak Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada 30 Juli 2019. Namun, dia kembali menggugat dengan empat gugatan yang terpisah.(*)

Sumber: Kumparan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here