BX/Ilustrasi/Pencatat Meteran Air

Batamxinwen, Batam – Konsesi pengelolaan air antara BP Batam dengan PT Adhya Tirta Batam (ATB) berakhir pada November 2020 mendatang.

Namun Badan Pengusahaan (BP) Batam memastikan kontrak ATB tidak akan diperpanjang lagi setelah konsesi berakhir.

“Tim masih mempersiapkan proses pengakhiran (konsesi ATB). Karena kami tidak akan perpanjang lagi kontrak ATB,” kata Kepala BP Batam, Lukita Dinarsyah Tuwo, 15 Februari 2018 lalu seperti dikutip beberapa wartawan media lokal di Batam.

BP Batam sudah melakukan beberapa kajian sejak dini sebelum konsesi pengeloaan air dibutuhkan.

Laporan yang komprehensif dibutuhkan sebagai gambaran jelas bagi masyarakat Batam bagaimana sistem pengelolaan air terbaru setelah konsesi berakhir.

Baik buruknya pengelolaan air bersih di Batam ternyata juga sangat tergantung oleh perusahaan mitra yang justru menjadi ujung tombak ATB di lapangan.

Namun, sayangnya, ATB justru jadi korban perusahaan mitranya sendiri. Batamxinwen.com menelusuri dugaan ‘permainan’ perusahaan jasa mitra oleh ATB.

Perusahan yang bergerak di bidang jasa pencatat meteran air diduga mempekerjakan ‘hantu’ untuk meraup untung lebih.

Penelusuran Batamxinwen.com menemukan sejumlah nama yang tercatat di ATB sebagai tenaga pencatat meteran air. Namun, faktanya, sosok nama yang tercatat itu tidak pernah ada.

Di PT Bone Mitra Abadi (BMA) salah satu mitra ATB, Supervisor Divisi Pencatat meteran, Sumanto mengaku, pihaknya memperkerjakan 32 pekerja harian lepas pencatat meteran air.

Menurut Sumanto, 32 orang pencatat meteran itu dipekerjakan untuk mencatat 170 ribu meteran air ATB.

Namun, faktanya, Batamxinwen menemukan pekerja harian lepas yang dipekerjakan hanya belasan saja. Tak lebih dari 20 orang.

Artinya, pihak perusaahaan menyuruh satu pencatat meteran air mengerjakan lebih dari yang ditargetkan. Ini tentu berpengaruh pada akurasi catatannya.

Nama-nama karyawan yang tercatat di ATB sebagai tenaga pencatat, di lapanganan, kewajibannya dilakukan orang lain. Inilah yang disebut ‘hantu’ pencatat meteran air.

Sumber Batamxinwen.com mengatakan, anehnya, para pekerja harian lepas pencatat meteran air ini dalam bekerja, mereka terikat kontrak kerja yang isinya mereka dibayar sesuai UMK.

“Tapi kenyataannya mereka dibayar jauh di bawah UMK. Kalau pekerja harian lepas kan tidak pakai kontrak,” ujar sumber yang minta namanya untuk tidak disebutkan ini.

Lanjutnya, jika ATB melakukan verifikasi terhadap nama-nama para pencatat meteran air ini, ketika rapat dengan ATB, pihak PT BMA akan menggunakan ‘hantu’.

“Ya mereka akan cari orang lain yang disuruh mengaku sebagai orang yang namanya tercatat di ATB,” katanya.

Batamxinwen.com sedang berupaya melakukan konfirmasi dan akan menyingkronkan nama-nama fiktif dari data yang didapat Batamxinwen.com kepada pihak ATB. Hasil konfirmasi akan dimuat dalam beirita berikutnya. (jkf)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here