Menjaga Tradisi Melayu Tetap Hidup di Ujung Usia

Rahman sedang menikmati permainan viul/biola saat pertunjukan Orkes Melayu Pancaran Senja, Sabtu (22/2/2020), Foto: Ihsan BX.

Seorang seniman pria tua itu bernama Rahman, dengan sapaan akrabnya Atuk Anjang dikalangan seniman Batam. Ia tinggal di Kampung Tua, Kampung Melayu, Batu Besar Nongsa. Semangat bermusiknya tak pernah memudar walaupun sudah memasuki usia senja. Saat ini sang seniman telah berusia 75 tahun. Untuk mengisi hari tuanya ia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah saja dengan kemampuan fisiknya yang tak muda lagi. Namun, dalam hal seni musik tradisi Melayu ia tetap sang maestro. Berikut wawancara eksklusif Batamxinwen bersama sang seniman Rahman, Sabtu 29 Februari 2020 di Kampung Tua Kampung Melayu Batu Besar Nongsa Batam.

Sejak kapan Atuk bermain musik? Saya sejak kecil sudah menekuni dunia musik hingga saat ini, terutama musik-musik Melayu. Pada awalnya saya belajar main gitar terlebih dahulu, lalu ikut main bersama kelompok musik joget waktu itu kira-kira tahun 1960’an.

Kapan Atuk memiliki kelompok musik sendiri? Saya pertama kali mempunyai kelompok seni musik qasidahan terlebih dahulu sekitar tahu 1998. Pada waktu itu nama grup kami Bunga Rampai waktu masih tinggal di Pulau Ngenang. Lalu pada tahun 2005 saya berserta keluarga pindah domisili di Kampung Melayu Batu Besar Nongsa Batam.

Bagaimana sejarah Atuk mendirikan kelompok musik Orkes Melayu?  Ketika saya domisili di Kampung Melayu Batu Besar, saya sering berkesenian. Masyarakat di sini senang dan sering datang ke rumah saya. Pada awalnya masyarakat di sini lebih mengenal grup Atuk Anjang. Dengan formasi awal instrumen gambus, gendang bebano, dan akordion. Lalu, kami merubah nama Orkes Melayu Pancaran Senja. Pada tahun 2006 kami diundang untuk pertunjukan event pemerintah Kota Batam. Pada waktu itu, ada mantan wali Kota Batam Ahmad Dahlan. Ia menonton kami sedang pertunjukan musik. Dikarenakan pemusik kami senja semua, maka beliau sebut nama yang cocok untuk grup ini, Orkes Melayu Pancaran Senja. Dari situlah berawal nama grup kami ini.

Di mana saja Orkes Melayu Pancaran Senja sering melakukan pertunjukan seni? Kami sering mentas di pantai melayu pada hari minggu jam 10.00 wib sampai jam 17.00 wib. Di pantai ini memang khusus buat pertunjukan musik kami. Hampir semua masyarakat Batam sudah mengenal kami. Mereka tahu tempat kami bermusik dan hari apa saja kami bermain musik. Selain itu, kami sering juga diundang oleh diacara pemerintahan Kota Batam dan acara-acara pernikahan masyarakat Kota Batam.

Bagaimana bentuk pertunjukan Orkes Melayu Pancaran Senja? Pertunjukan kami itu, lebih kepada musik-musik tradisional Melayu yang diwarisi oleh orang-orang tua kami dahulu. Misal, kami sering memainkan rentak inang, rentak langgam, rentak zapin, dan rentak joget. Rentak ialah ketukan dasar pada suatu lagu Melayu yang memiliki durasi yang dimainkan secara bersama-sama. Biasanya pada bagian rentak joget ini, para penonton selalu bersemangat untuk berjoget lambak atau berpasang-pasangan sembari bercanda tawa selama dipanggung pertunjukan.

Bagaimana respons masyarakat kampung Melayu Batu Besar Nongsa dengan adanya kelompok musik Orkes Melayu Pancaran Senja? Kalau masyarakat di sini senang dan gembira terutama yang tua-tua, sebab mereka bisa bernostalgia melalui musik kami. Apalagi setiap kami latihan musik pada hari Rabu malam atau hari yang kami sepakati. Mereka pasti berdatangan mampir ke teras rumah Atuk, hanya untuk menonton atau ikut bergabung bermain musik juga terkadang. Kalau anak-anak muda pada awalnya kurang merespons seni musik melayu yang ada di Kampung Melayu Batu Besar ini. Mereka malu dan merasa ketinggalan zaman ketika bermain musik Melayu. Namun, ada jugalah dua atau tiga anak muda yang kadang ikut bergabung bermain musik bersama kelompok Orkes Melayu Pancaran Senja ini.

Harapan Atuk melalui Orkes Melayu Pancaran Senja selanjutnya apa? Kami mau memajukan seni budaya Melayu yang ada di Kota Batam ini. Sebab di Kota Batam ini banyak juga yang tak mengenal dengan seni budaya Melayu yang lama. Salah satu Orkes Melayu Pancaran Senja. Jadi, kami ini ingin menghidupkan kembali dan mengulang kembali kisah-kisah lama melalui Orkes Melayu Pancaran Senja. Harapan kami para pemuda-pemudi Kota Batam dapat ikut apresiasi dan partisipasi sama kelompok kami, bila perlu ikut bergabung bermain musik bersama orkes Melayu Pancaran Senja di Kampung Melayu Batu Besar Nongsa Batam, sehingga ada generasi muda penerus kami”ujar Rahman, menutup wawancara kali ini, Sabtu (29/2/2020).

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here