Adriana mengendong jenazah bayi perempuannya, yang meninggal karena tak mampu bertahan setelah 5 hari dirawat. Foto/BX/(Repro)_kompas.com

BatamXinwen, Lombok – Kesedihan terlihat jelas di wajah Adriana (26), petugas Sekretariat PPS Desa Paok Motong, Kecamatan Masbagik, Lombok Timur.

Betapa tidak, bayi mungil berjenis kelamin perempuan yang belum diberi nama, yang ditangani tim medis di Ruang NICU, Rumah Sakit Dokter Soedjojono, Selong Lombok Timur. Akhirnya meninggal dunia. Rabu (24/4/2019).

Bayi mungil tersebut hanya mampu bertahan hidup selama 5 hari.   “Saya tidak tahu lagi apa yang saya rasakan, sangat kehilangan, sedih itu sudah pasti, selama 5 bulan saya merasakan kehadirannya, membelikannya vitamin, pastilah saya sangat kehilangan, dia sudah pergi, bayi saya sudah pulang,” kata Adriana dengan nada sedih.

Dengan besar hati, Adriana mengendong bayi tercintanya ke luar ruangan perawatan, tampak terlihat tubuh petugas PPS inipun masih lemah, dan mereka berlalu bersama mobil jenazah ke rumah duka.

Petugas PPS ini akhirnya pasrah, meskipun dia berupaya membantu bayinya agar tetap bertahan hidup, namun ajal tak bisa ditentang, mereka harus berpisah. Duka petugas PPS maupun KPPS, sepanjang pelaksanaan Pemilu 2019 ini masih belum berakhir.

Sedikitnya 113 orang dilaporkan sakit, 2 orang meninggal dunia, masing-masing Sanapiah (49), Ketua KPPS Desa Jotang, Kecamatan Empang, Sumbawa, dan Surya (31) anggota KPPS di TPS 10 Dusun Nanga Doro, Desa Hu’u Kecamatan Hu’u, Dompu.

Sebelumnya diberitakan, Andriana (26) petugas Sekertariat Panitia Pemungutan Suara (PPS), hingga kini masih dirawat di Rumah Sakit Dokter Soedjono, Lombok Timur.

Kondisinya masih lemah dan harus dirawat intensif setelah melahirkan pada 18 April 2019. Sebelumnya dikabarkan, Andriana keguguran, karena kelelahan setelah menjadi petugas KPPS. Adriani masih dirawat di ruang Nifas kelas IIIE sambil menunggu kabar bayi yang baru saja ia lahirkan.

“Saya melahirkan normal. Hanya kelahiran anak saya dalam kondisi sangat lemah. Memang saya dikuret seperti pasien keguguran, karena ari-ari masih menempel di rahim. Putri saya lahir tapi sangat lemah,” katanya pada Kompas.com, Rabu (24/4/2019) melalui saluran telpon.

Dia menuturkan sejak tanggal 10 April, ia sudah mengeluarkan flek (bercak darah) usai mengikuti pelatihan sebagai petugas KPPS di Mataram seharian penuh.

“Saya mengandung anak pertama, karena kelelahan  keluar bercak darah atau flek. Kata dokter saya hanya butuh istirahat saja selama 2 hari,” tuturnya.

Waktu pemilu sudah semakin dekat membuat Andriana tidak sempat beristirahat. Termasuk saat hari pencoblosan 17 April 2019.

Andriana yang berada di sekretariat harus tetap berjaga karena proses pengiriman logistik pemilu ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) dilakukan hingga dini hari.

“Saya hanya berdua dengan rekan saya di sekretariat menjalani tugas itu. Apalagi di desa saya ada 40 TPS. Kami harus mengecek pengembalian C1 dan kotak suara sampai pagi. Sama sekali tidak istirahat. Semua harus dicek jika ada masalah. Pulang dari sana, darah segar keluar dari rahim,” katanya.

Adriana lalu di bawa keluarganya ke Rumah Sakit Risa Selong, Lombok Timur dan dirujuk ke Rumah Sakit Dokter Soedjojono, Selong. Walaupun usia kandungannya baru lima bulan, Andriana harus segera menjalani persalinan karena air ketubannya telah pecah.

Jika tidak segera dilahirkan, maka akan beresiko bagi bayi dan dirinya. Ibu muda ini akhirnya melahirkan normal dengan perjuangan keras, karena  kondisinya lemah dan kelelahan setelah menjalani tugas sebagai petugas KPPS. Hanya saja, dia harus dikuret karena ari-arinya menempel.

Saat ini, bayi perempuannya yang belum diberi nama masih dirawat inkubator di ruang NICU. Adriana berharap, walaupun bayinya lahir diusia lima bulan kehamilan, detak Jantung bayinya tetap normal.

“Masih ada detak jantungnya. Tapi kata dokter dia hanya mampu bertahan hidup 1 persen. Dua hari kedepan diprediksi dia akan meninggalkan saya untuk selamanya. Kelahirannya juga belum sempurna, saya masih mendengar detak jantungnya, itu menghibur saya,” katanya lirih.

Dia berharap apa yang dialaminya saat ini menjadi evaluasi bagi KPU untuk merubah sistem dan pola pelaksanaan Pemilu. Adriana bersama suami-nya masih terus berdoa agar putri kecilnya bisa bertahan. Selama perawatan, mereka menggunakan uang pribadi.(*)

Sumber : kompas.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here