Foto: Istimewa

Batamxinwen, Jakarta – Kebakaran hutan di Indonesia yang telah membuat Asia Tenggara dilanda kabut asap berbahaya, dikaitkan dengan sejumlah perusahaan multinasional macam Nestle, Unilever dan P&G.

Menurut Independent merek-merek rumah tangga itu membeli minyak kelapa sawit dari pemasok yang dianggap ikut bertanggung jawab atas kebakaran hutan yang saat ini melanda Indonesia. Independent mengutip penelitian terbadu dari kelompok pecinta lingkungan Greenpeace.

Perusahaan-perusahaan tersebut, bersama dengan beberapa pedagang minyak kelapa sawit terbesar di dunia, telah membeli produk-produk dari produesn yang terkait dengan sekitar 10 ribu kebakaran. Demikian menurut analisis pengungkapan rantai pasokan oleh Greenpeace.

Semua perusahaan membeli minyak kelapa sawit dari perkebunan tertentu yang sedang diselidiki untuk kebakaran hutan pada 2019. Pengadilan juga sempat melakukan tindakan terhadap mereka untuk kebakaran hutan 2015-2018.

PBB telah memperingatkan hampir 10 juta anak-anak beresiko karena polusi udara dari kebakaran, yang telah berkobar sejak Juli dan diperkirakan telah melepaskan 360 juta ton CO2 antara 1 Agustus dan 18 September – dekat dengan total output Inggris pada 2018.

“Perusahaan telah menciptakan fasad keberlanjutan. Tetapi mereka bersumber dari pelanggar terburuk di seluruh dunia,” kata juru kampanye hutan senior di Greenpeace Indonesia, Annisa Rahmawati.

“Perusahaan-perusahaan yang bertanggung jawab atas kebakaran dan mereka yang mendapat manfaat finansial dari kebakaran tersebut harus dimintai pertanggungjawaban atas kekejaman lingkungan ini dan dampak kesehatan yang dahsyat yang disebabkan oleh kebakaran tersebut,” imbuhnya seperti dikutip dari media berbasis di Inggris itu, Sabtu (9/11/2019).

Empat pedagang minyak sawit yang disebutkan dalam laporan – Wilmar, Cargill, Musim Mas, dan Golden-Agri Resources – dikatakan telah memasok lebih dari tiga perempat minyak sawit dunia pada tahun 2015, menurut Pusat Penelitian Kehutanan Internasional yang berbasis di Indonesia.

Menurut Greenpeace ada 30 kelompok produsen yang paling terkait dengan krisis kebakaran berulang di Indonesia, yang semuanya berdagang ke pasar global. Nestle telah membeli dari 28 kelompok itu, Unilever dari setidaknya 27, dan P&G dari setidaknya 22.

Analisis rantai pasokan Greenpeace mengklaim Nestle terkait dengan produsen minyak sawit yang telah menyebabkan area deforestasi terbesar antara 2015 dan 2018, yang diperkirakan seluas 190.500 hektar.

Unilever dikatakan terkait dengan perusahaan yang dianggap bertanggung jawab atas area seluas 179.500 hektar selama periode yang sama.

Seorang juru bicara Nestle mengatakan perusahaannya sangat prihatin tentang kebakaran dan telah memantau situasi dengan cermat. Perusahaan itu berkomitmen untuk memastikan tidak ada produk mereka yang terkait dengan deforestasi.

“Kami saat ini sedang menyelidiki dan memverifikasi kejadian lahan yang ditebang melalui pembakaran, seperti yang kami lakukan untuk pembukaan hutan deforestasi lainnya,” kata juru bicara Nestle.

“Kami akan segera menghentikan pengadaan dari pemasok mana pun yang ditemukan terkait dengan aktivitas deforestasi apa pun. Sepuluh pemasok telah dikeluarkan dari rantai pasokan minyak sawit Nestle karena tidak mematuhi persyaratan Standar Sumber Daya Bertanggung Jawab kami. Ini diungkapkan kepada publik di situs web kami,” tuturnya.

Juru bicara tersebut merujuk pada data Global Forest Watch, yang mengatakan lebih dari tiga perempat dari 318 ribu peringatan kebakaran musim kabut asap ini terjadi di luar area konsesi.

“Ini menunjukkan bahwa ini dilakukan oleh produsen independen dan petani kecil yang ingin memperluas plot mereka,” ujar juru bicara itu.

”Pengalaman kami menunjukkan bahwa mencegah deforestasi membutuhkan keterlibatan dengan petani kecil. Tindakan perlu mendukung mata pencaharian dan mempertahankan masyarakat,” imbuhnya.

“Inilah sebabnya kami memberikan bantuan teknis kepada hampir 50 ribu petani kecil dan meningkatkan inisiatif untuk membantu mereka meningkatkan produktivitas tanaman dan mendiversifikasi pendapatan. Tujuannya adalah untuk membuat konservasi hutan menarik secara ekonomi, memulihkan stok kehutanan dan mempromosikan pertanian regeneratif,” ujarnya mengakhiri.

Sementara seorang juru bicara Unilever mengatakan perusahaan telah menangguhkan sumber dari sejumlah pemasok di dalam laporan dan pihaknya adalah satu-satunya perusahaan barang konsumen yang menerbitkan laporan pengaduan publik sehingga masalah tersebut dapat diidentifikasi dan ditindaklanjuti.

“Kami saat ini sedang meninjau daftar lengkap perusahaan untuk memahami segala kemungkinan tautan ke rantai pasokan kami yang diperluas dan, sejalan dengan kebijakan minyak sawit kami, akan mengambil tindakan yang sesuai,” kata seorang juru bicara Unilever.

“Pemantauan yang lebih baik membantu kita semua untuk memahami apakah kebakaran individu telah disengaja atau merupakan konsekuensi yang tidak menguntungkan dari musim yang kemarau di Indonesia,” sambungnya.

“Jika lahan terbakar kemudian ditanami, itu mungkin mengindikasikan deforestasi yang disengaja. Untuk alasan ini, kami telah meningkatkan upaya kami untuk meningkatkan keterlacakan melalui teknologi yang muncul seperti satelit, geolokasi, blockchain dan kecerdasan buatan, dan bekerja dengan perusahaan teknologi besar dan perusahaan baru untuk mengembangkan pendekatan baru yang dapat dimanfaatkan oleh seluruh industri,” tukasnya.(*)

Sumber: Sindonews

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here