Suaasana di pusat penjualan ponsel Lucky Plaza.Foto: BX/ Adit

Batamxinwen, Batam – Rencana Kementrian Perindustrian yang akan menerbitkan aturan verifikasi dan kontrol nomor identitas asli ponsel (International Mobile Equipment Identity/IMEI) membuat para pedagang ponsel illegal atau ponsel black market (BM) di Batam terancam kehilangan omset yang cukup besar.

Pasalnya, selama ini, Batam terkenal dengan peredaran ponsel BM nya. Bahkan, Batam juga disebut-sebut sebagai surganya ponsel BM berbagai merek.

“Kalau handphone BM juga dilarang, bisa tutup toko kami. Karena kondisi sekarang ini jual handphone BM saja susah lakunya, apalagi yang bergaransi,” ujar Gerry seorang pemilik counter handphone di Lucky Plaza pada Batamxinwen.com, Jumat (5/7).

Gerry berharap pemerintah meninjau kembali kebijakannya sebelum memberlakukan aturan verifikasi dan kontrol nomor identitas asli ponsel yang berarti melarang peredaran ponsel BM.

“Melarang peredaran handphone BM saat situasi ekonomi Batam sedang terpuruk anjlok seperti sekarang ini, sama saja mematikan pedagang kecil seperti kami,” ujarnya.

Menurut Gerry, ponsel BM bukanlah ponsel yang Bari diproduksi dari pabriknya. Ponsel BM yang beredar di pasaran merupakan ponsel rekondisi yang sparepartnya diambil dari ponsel-ponsel yang sudah rusak.

“Makanya ponsel BM lebih murah tapi ponselnya tidak bergaransi pabrik. Garansi hanya dari toko yang menjualnya,” ujar Gerry.

Sejumlah pedagang ponsel yang ditemui Batamxinwen.com di Lucky Plaza dan di beberapa pusat penjualan ponsel di bilangan Nagoya dan Jodoh juga mengatakan half serupa yang disampaikan Gerry.

Setahun ke belakang, peredaran ponsel BM di counter-counter penjualan memang sudah banyak berkurang. Hal itu disebabkan para pedagang ponsel BM beralih ke penjualan secara online.

Namun, walaupun skenario sistem DIRBS terkait barang-barang Black Market akan terbit pada 17 Agustus 2019 mendatang, ponsel-ponsel BM tipe anyar seperti Samsung S10e dan S10 masih terpajang di sejumlah counter di Lucky Plaza.

“Harga S10e sekitar Rp 8,5 juta,” sebut seorang penjaga counter di Lucky Plaza. (Adit)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here