Pertunjukan Adat Pernikahan Masyarakat Nias Meriahkan HUT Kabupaten Karimun ke-19 di Coastal Area

Pertunjukan budaya adat pernikahan masyarakat Nias meriahkan acara HUT Karimun ke-19 yang digelar pada Sabtu (13/10) di Coastal Area. Foto/BX/Salemo Zagoto,IST

BatamXinwen, Karimun – Pertunjukan budaya adat pernikahan masyarakat Nias meriahkan acara HUT Karimun ke-19 yang digelar pada Sabtu (13/10) di Coastal Area. Ribuan orang pada acara yang dikemas pemkab dalam pawai budaya nusantara, memikat hati. Karena pertunjukan budaya itu, terbilang unik dari pada suku-suku lainnya yang ada di situ.

Sebab, dalam pertunjukan, pemeran pengantin perempuan ditandu oleh beberapa orang pria. Ketua Paguyuban Masyarakat Nias Indonesia (PMNI) Kabupaten Karimun yang menggagas pertunjukan itu, Soginoto Daeli mengatakan, pertunjukan tersebut, sebagai bentuk kecintaan pada budaya leluhur.

“Budaya atau adat pernikahan oleh masyarakat Nias, sampai saat ini masih dilestarikan. Kendati demikian, momen HUT Karimun yang ke-19 ini, kami turut memeriahkan dengan pawai budaya bertujuan untuk memperlihatkan, bahwa kami cinta Karimun. Kami ingin terbuai dalam bercengkaraman antar suku bangsa yang ada,” papar pria yang akrab disapa Ama Leoni Daeli itu.

Dia menjelaskan singkat, acara Sabtu itu dikemas dalam bahasa Nias : Famasao  Ono Alawe Ni’owalu, dalam artian bahasa Indonesia: Mengantar pengantin perempuan ke rumah pengantin laki-laki.

Dalam sebuah tradisi pernikahan Nias yang masih diletarikan sampai saat ini, adat demi adat pernikahan masih dilestarikan. Awalnya, pra pernikahan dalam suku Nias, pihak laki-laki terlebih dahulu bertandang ke rumah pihak perempuan.

Singkatnya, setelah saling cocok antara kedua belah pihak, maka selanjutnya adalah acara pematokan jujuran. Sebagaimana dalam budaya Nias, jujuran perempuan amat lah mahal. Bahkan, adat pernikahan Nias salah satu termahal se-Sumatra Utara (Sumut).

“Nah, pihak keluarga besar perempuan mematok besaran jujuran adat (Dalam bahasa Nias : bosi hada,red). Dan ketika itu usai, maka kedua belah pihak harus melewati beberapa alur atau tata cara adat. Misalkan fame afo atau pemberian sekapur siri oleh pihak laki-laki kepada perempuan. Dan masih ada poin-poin adat lagi,’’ jelas Daeli.

Singkat cerita, usai seluruh rangkaian adat usai, maka pengantin perempuan siap dibawa ke rumah pengantin perempuan. Dengan cara ditandu. Biasanya, sepanjang apa pun perjalanan dari rumah pengantin perempuan ke rumah pengantin laki-laki, pengantin perempuan harus lah di tandu oleh beberapa pria pilihan yang muda dan energik dari pihak pengantin laki-laki.

“Jika diturunkan, maka pihak pengantin laki-laki akan kena sanksi adat. Bisa belasan ekor babi. Ini adalah bentuk kekayaan adat nusantara yang harus kita lestarikan,” katanya.

Ama Leoni memaparkan, pengantin perempuan ditandu, memiliki makna yang cukup mendalam dalam pengertian masyarakat Nias. Bahwa, perempuan itu adalah emas dan mahal harganya. Sehingga harkat dan martabat perempuan pertunjukan lewat simbol ditandu saat pesta adat pernikahan.

--------------------Lanjutkan baca artikel yang sama di bawah ini-----------------
Pemeran pengantin perempuan saat ditandu oleh beberapa pria pilihan dalam adat Nias. Foto merupakan pertunjukan budaya adat pernikahan masyarakat Nias meriahkan acara HUT Karimun ke-19 yang digelar pada Sabtu (13/10) di Coastal Area. Foto/BX/S. Zagoto,IST

Sementara itu, salah satu tokoh pemuda dan juga satu diantara pengurus PMNI S. Zagoto SM mengatakan, sangat bangga adat daerahnya bisa ditampilkan dalam gelar budaya nusantara di Karimun. “Ini adalah bentuk nilai-nilai sejarah leluhur yang harus diestarikan. Tak boleh tidak, kalau bukan kita yang lestarikan siapa lagi. Kami apresiasi juga buat Pemkab Karimun,” kata Zagoto.

Baca Juga : https://www.batamxinwen.com/sanggar-tari-pbs-tingkatkan-minat-tarian-nusantara/

Di tempat yang sama, Sekjend PMNI Kabupaten Karimun Persetia Waruwu SH mengatakan, saat digelar pawai budaya adat Nias, membawa berbagai perlengkapan pada saat pesta adat pernikahan. “Seperti gong atau faritia dalam bahasa Nias, bola nafo atau tempat sekapur siri, dan beberapa lainnya,” ungkapnya.

Dalam pemeran pesta adat masyarakat Nias itu di Karimun diakui terdapat beberapa kekurangan. “Kita menggunakan pemeran. Tentu, ini kekurangan ke depan, mari kita menjadikan sebagai barometer untuk menyempurnakan ke depan. Tentu, tak luput juga bantuan dan bimbingan seluruh elemen di Karimun dan Pemkab,” katanya.(*/ag)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here