Logo Batamxinwen.com

Dia selalu ada dalam momen-momen berbahaya: mulai Insiden Madiun 1948 hingga demonstrasi-demonstrasi mahasiswa 1966.

Oleh Hendi Johari

Batamxinwen – SABTU, 18 September 1948. Insiden Madiun meletus. Pemerintah Sukarno-Hatta menugaskan Divisi Siliwangi untuk secepatnya menangani gerakan yang dipelopori oleh  Moeso, Amir Syarifudin, Soemarsono dan tokoh-tokoh kiri lainnya. Bergeraklah batalyon-batalyon Siliwangi yang ada di bawah komando Brigade II pimpinan Letnan Kolonel Sadikin menuju Madiun.

Salah satu batalyon itu adalah Yon Kian Santang pimpinan Mayor Sambas Atmadinata. Menurut Himawan Soetanto dalam Perintah Presiden Sukarno: Rebut Kembali Madiun!, pasukan itu bergerak  melalui Tawangmangu dengan menggunakan puluhan truk. Di antara prajurit-prajurit yang siap bertempur itu, terseliplah seorang perempuan muda bernama Gadis Rasid, jurnalis dari tabloid Mingguan Siasat.

“Ia adalah pemberani; sebagai seorang wanita kadang-kadang turut dengan pasukan terdepan, berjalan kaki sehingga menghabiskan telapak sepatunya,” ujar Mayor Sambas seperti dikutip oleh A.H. Nasution dalam Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia Jilid VIII: Pemberontakan PKI 1948.

Menurut Sambas, Gadis adalah saksi satu-satunya dari kalangan sipil yang mengalami secara langsung pertempuran-pertempuran seru antara pasukan Siliwangi dengan Tentara Merah (sebutan untuk pasukan-pasukan yang tergabung dalam Front Demokrasi Rakyat). Sebagai jurnalis yang melekat (embedded), dia tahu bagaimana baik-buruknya operasi penumpasan. Termasuk harus menyaksikan berbagai pembantaian demi pembantaian akibat perang saudara itu.

Salah satu “kegilaan perang” yang tak pernah dia lupakan adalah saat dirinya ikut bergerak memasuki sebuah kampung di Madiun bernama Gorang-Gareng. Ceritanya, saat memasuki pertengahan kampung mendekati sebuah pabrik gula, tetiba Gadis dikejutkan oleh teriakan seorang prajurit di depannya.

“Tolong! Tolong! Palang Merah harap segera datang!” ujarnya.

Bukannya merasa gentar, mendengar teriakan itu, Gadis malah bergegas mengikuti para petugas Palang Merah menuju komplek perumahan pabrik gula sesuai petunjuk sang prajurit. Nampaklah sebuah rumah yang terlihat lenggang.

“Tuh lihatlah. Maaf saya harus jalan terus,” kata si prajurit.

Seperti dikisahkan Gadis dalam majalah Kartini edisi 11-24 Februari 1985, begitu sampai di rumah itu, mereka melihat pemandangan yang sangat mengerikan: tumpukan tubuh manusia disertai genangan darah yang masih segar di lantai. Ada yang sudah tidak bernyawa lagi, ada yang meraung kesakitan, ada yang perutnya tertembus peluru hingga usus-usus mereka terburai dan ada yang wajahnya sama sekali tak bisa dikenal karena dipenuhi luka dan darah.

“Lama-lama saya tak tahan juga dan segera mencari tempat yang sunyi guna menenangkan rasa gugup saya,” kenang perempuan yang lahir di Bangkinang pada 1923 itu.

Dalam suasana yang menggetirkan itu, tak lama kemudian Gadis melihat seorang lelaki muncul dari tempat persembunyian. Dia menceritakan bahwa tubuh-tubuh yang tergeletak menyedihkan itu adalah para pegawai negeri, guru sekolah, polisi dan tentara yang menolak untuk ikut Tentara Merah.

Saat para Tentara Merah itu mendengar kabar bahwa Siliwangi tengah bergerak ke arah pabrik gula, mereka langsung melarikan diri. Namun sebelum pergi, mereka secara membabibuta menembaki seluruh tawanan. Sang saksi sendiri berhasil lolos dari maut karena saat terjadi pembantaian dia berhasil sembunyi di balik sebuah meja dan pura-pura mati.

Setelah menyaksikan kejadian itu, Gadis sempat merasa trauma. Bayangan mayat bergelimpangan dan suara orang merintih-rintih seolah tinggal di dalam benaknya. Situasi itu berlangsung berhari-hari dan membuatnya tak nyaman.

“Beberapa malam setelah (kejadian) itu, saya selalu mimpi menakutkan,” ujarnya seperti yang pernah disampaikan kepada Ami Wahyu dalam majalah Femina No.16 Tahun 1987.

Namun bukan berarti situasi itu menjadikan Gadis kapok. Alih-alih menghindar, sejak itu dia malah kerap terlihat dalam berbagai palagan di era Perang Kemerdekaan (1945-1949), termasuk saat dirinya harus masuk ke “sarang” para gerilyawan Republik di wilayah Cianjur utara. Laporan-laporan Gadis pun tak pernah absen mengisahkan kondisi rakyat kecil di tengah peperangan dan perjuangan mereka untuk lepas dari cengkaraman penjajahan.

Nama Gadis kemudian berkibar sebagai jurnalis perempuan mumpuni di zamannya. Usai perang, petualangan ibu dari Ratna Apisa itu terus berlanjut. Saat bertugas itulah, berbagai negara dia pernah kunjungi termasuk Uni Sovyet dan Amerika Serikat, dua negara yang menjadi biang Perang Dingin.

Ketika Presiden Sukarno menerapkan sistem demokrasi terpimpin, Gadis merasakannya sebagai masa-masa suram bagi karier kewartawanannya. Dia merasa tidak cocok jika harus larut dalam jargon “pers terpimpin” dan “pers nasakom”.

“Saya memutuskan untuk berhenti menjadi wartawan dan mencari hidup yang lebih aman dan tenteram,”ungkapnya dalam Wartawan Wanita Berkisah.

Tetapi jurnalis tetaplah jurnalis. Panggilan untuk meliput dan menulis tetiba muncul kembali dalam dirinya ketika Indonesia digonjang-ganjing berbagai demonstrasi pasca Insiden Gerakan 30 September 1965.

“Diam-diam saya menjadi asisten beberapa wartawan luar negeri yang beroperasi di sini. Di antaranya adalah Christians Science Monitor, New York Times dan UPI,” ungkap Gadis.

Memasuki 1966, terjadi pengusiran besar-besaran yang dilakukan oleh Presiden Sukarno terhadap jurnalis-jurnalis asing terutama dari Amerika Serikat. Hanya 3 jurnalis Barat yang tinggal di Jakarta. Mereka adalah Fred Emery dari London Times, Don North dari Canada Broadcasting  dan John Hughes dari Christians Science Monitor. Untuk ketiganya, Gadis pernah sangat berjasa besar.

Kendati hanya seorang asisten, kerja-kerja jurnalistik Gadis selalu dilaksanakan secara maksimal. Bahkan bisa dikatakan, untuk narasumber-narasumber utama, dialah yang kerap mewawancarainya secara langsung. Tentu saja itu bisa terwujud karena akses jejaring Gadis yang sangat luas di kalangan para politisi dan jenderal-jenderal Indonesia.

Tidak hanya mewawancarai, Gadis pun termasuk sangat rajin turun meliput berbagai demonstrasi mahasiswa. Tak jarang saat melakukan tugas itu, dia harus menyerempet-nyerempet bahaya seperti harus rela ikut kena gebuk popor bedil para serdadu dari Resimen Tjakrabirawa.

Hasil liputan kolaborasi itulah yang kemudian dibaca banyak orang di Eropa dan Amerika Serikat. Bahkan berkat laporan-laporan dari Indonesia itulah, pada 1967, John Hughes berhasil meraih Pullitzer Prize, penghargaan bergengsi untuk karya-karya jurnalistik kelas dunia. Belakangan Hughes membukukan kumpulan hasil reportase-nya itu dalam sebuah judul: Indonesian Upheaval (Pergolakan Orang-Orang Indonesia).

Bayangkan jika Hughes tak memiliki asisten selincah Gadis Rasid…

(Seumber: historia.id)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here