Wadirkrimum Polda Kepri, AKBP Arie Dharmanto, saat ekspose di Polda Kepri, Selasa (10/12). Foto: Bax/jkf

Batamxinwen, Batam – Seorang paman bernama Junan (48) terpaksa harus berurusan dengan Kepolisian Daerah (Polda) Kepulauan Riau (Kepri). Pasalnya, dia dengan sengaja memisahkan BM (8), keponakannya dari ibu kandungnya sendiri Muniroh (47)

Wadirkrimum Polda Kepri, AKBP Arie Dharmanto mengungkapkan, kasus ini pertama kali diketahui berdasarkan laporan ibu korban, Muniroh pada, Sabtu (28/11) lalu.

“Tersangka dan korban masih ada hubungan kerabat. Muniroh ini kakak ipar pelaku, dan korban BM (8) adalah anak lelaki dari abang kandungnya yang sudah meninggal,” kata Arie Dharmanto saat konferensi pers ‘Tindak pidana mengambil anak dibawah umur dari kuasanya yang sah’, di Mapolda Kepri, Selasa (10/12) sore.

Dijelaskan Arie, kasus ini bermula pada (28/12) lalu, dimana tersangka Junan berupaya melakukan tipu muslihat dengan mengajak kakak ipar dan keponakannya untuk sarapan di sebuah rumah makan.

Setelah menunaikan sarapan, tersangka meminta izin kepada Muniroh untuk membawa si anak pergi berbelanja ke sebuah mall. Demi memuluskan aksinya, Junan mengiming-imingi korban BM dengan tambahan uang saku dan jam baru.

“Korban awalnya tidak curiga, mereka juga masih aktif berkomunikasi lewat sambungan telepon dua jam pasca si anak dibawa,” Jelas Arie.

Namun, pada tiga jam berikutnya kata Arie, korban mulai merasa ada yang aneh. Sebab, nomor telepon Junan tiba – tiba tidak dapat dihubungi lagi. Pikiran negatif pun muncul, hari itu juga dia melaporkan anaknya yang dibawa lari pamannya ke pihak kepolisian.

Menerima laporan itu, Subdit IV langsung bergerak menindak lanjuti kasus tersebut, dengan melakukan upaya pencarian pada tersangka dan korban dengan mendatangi setiap pusat perbelanjaan yang ada di Batam.

“Setelah terlacak, kami lakukan upaya negoisasi dengan mendatangi rumah Junan di Sukajadi. Karena awalnya mengira ini hanya kasus keluarga,” tambah Arie.

Namun sayangnya lanjut Arie, tersangka tidak kooperatif dan malah berdalih tidak mengetahui dimana posisi BM. Akhirnya, tersangka dibawa ke Polda Kepri untuk diintrogasi.

“Di kantor pun tersangka masih belum mengaku, akhirnya Subdit IV Polda Kepri melakukan pengecekan ke seluruh stasiun, terminal dan bandara,” jelasnya.

Beruntung, upaya itu membuahkan hasil. Dimana pada 30 November salah satu CCTv bandara berhasil merekam tersangka membawa korban sudah dalam penguasaan hendak diberangkatkan ke Medan.

“Ternyata sampai di Medan, si anak langsung dibawa ke Pematang Siantar dan dititipkan ke rumah otang tua tersangka atau nenek korban,” sambungnya.

Subdit IV Polda Kepri mengetahui itu langsung berkoordinasi dengan pihak kepolisian setempat, P2TP2A dan KPAID untuk melakukan penyelematan terhadap anak agar dapa memepertemukannya kembali kepada orang tuannya.

“Akibat perbuatannya tersangka diancam┬áPasal 330 ayat 1 dan ayat 2 dengan ancaman hukuman penjara paling lama lima belas tahun, dan kasus ini masih kami dalami untuk motifnya,” pungkas Arie. (Bintang)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here