Wahyudi, cessor Bank CIMB Niaga yang ditetapkan sebagai tersangka oleh penyidik Polsek Batam Kota. Foto: BX

Batamxinwen, Batam – Penyidik Polsek Batam Kota menetapkan satu tersangka baru dalam kasus penjualan rumah agunan di Bank CIMB Niaga. Tersangka baru itu adalah Wahyudi, seorang cessor Bank CIMB Niaga.

Menurut Kapolsek Batam Kota AKP Nidya Astuty melalui Kanit Reskrim Ipda Yustinus Halawa, Wahyudi ditetapkan sebagai tersangka atas dugaan pemalsuan surat dan penggelapan.

“Dalam kasus ini saat melakukan dugaan pemalsuan dan penggelapan posisi tersangka sebagai cessor atau selaku pembeli piutang (Cassie) atas rumah milik saudara Kurnia Fensury dari Bank CIMB Niaga,” kata Ipda Yustinus, Sabtu (17/7/2021).

Dijelaskan Ipda Yustinus, dalam kasus ini, Wahyudi disangka dalam perbuatan pidana seperti yang diatur dalam Pasal 263 ayat 1, ayat 2 KUHP, junto pas 55 ayat 1 ke 1 KUHP, dan pasal 372 KUHP.

Sebelumnya, penyidik telah menetapkan tiga tersangka dalam kasus ini. Ketiganya adalah Abdi Bakti Surbakti, Rima Lesya, dan Wilis Roro Ranasti. Abdi dijerat pasal 263 KUHP tentang pemalsuan surat junto pasal 372 KUHP tentang penggelapan. Sementara Rima dan Wilis dijerat pasal 263 KUHP junto pasal 55 KUHP. Keduanya diduga turut serta dalam dugaan pemalsuan surat yang diduga dilakukan Abdi.

Kasus ini mulai bergulir sejak Kurnia Fansury melaporkan Bank CIMB Niaga pada Februari 2021 lalu atas dugaan penjualan rumah miliknya di Beverly Park nomor 16 Blok 11, Batam Center, Kota Batam. Rumah itu ia agunkan ke Bank CIMB Niaga dengan perjanjian kredit dengan surat No.007/PK/294/2/11/12 tertanggal 27 November 2012 lalu.

Kuasa Hukum Kurnia Fensury, Nasrul, menjelaskan pihaknya melaporkan bank tersebut dikarenakan pihak terlapor diketahui melakukan penjualan rumah milik Kurnia Fansury kepada pihak ke-3 melalui sistem cessie tanpa sepengetahuan pihak pelapor.

Hal ini berawal ketika Kurnia Fensury menggadaikan rumahnya yang terletak di Beverly Park nomor 16 Blok 11, Batam Center, Kota Batam ke Bank Cimb Niaga. Perjanjian kredit tersebut berdasarkan surat No.007/PK/294/2/11/12 tertanggal 27 November 2012 lalu.

“Saat itu belum ada masalah karena pembayaran masih menggunakan auto debet dan sisa angsuran kredit klien saya tinggal Rp 33 juta lagi,” kata Nasrul.

Lanjut Nasrul, permasalahan ini bermula ketika pada 11 September 2020 secara tiba-tiba Bank Cimb Niaga melayangkan surat somasi ke-2 yang berisi harus membayarkan biaya angsuran pokok, bunga, dan denda senilai Rp 91 juta dengan batas waktu pembayaran 18 September 2020.

“Klien saya tidak mempermasalahkan hal tersebut, dirinya mau membayarkan semua biaya sebesar Rp 91 juta tersebut secara langsung saat itu. Akan tetapi saat beliau menghubungi pihak Bank Cimb Niaga (Guntur), dirinya malah disarankan untuk mengajukan permohonan keringanan pembayaran kepada Bank Cimb Niaga sebesar Rp 41 juta,” ujarnya.

Lanjut Nasrul, pada 20 September 2020 pihak Bamk Cimb Niaga menolak permohonan keringanan pembayaran seperti yang disarankan Guntur. Penolakan tersebut tertuang di dalam surat No.675 / CRSD-PA / SMT / MZ / IX / 20.

“Yang lebih tragis Bank Cimb Niaga saat itu secara sepihak juga telah mengalihkan rumah klien saya kepada pihak ke-3 (Wahyudi). Mendapati informasi yang janggal tersebut klien saya langsung berusaha untuk menyelesaikan permasalahan tersebut secara kekeluargaan, akan tetapi pihak Bank Cimb Niaga dan Wahyudi seperti terus mengulur-ulur waktu,” tegasnya.

Tidak berhenti di situ, Nasrul selaku kuasa hukum pelapor juga telah melakuman somasi sebanyak 2 kali pada tanggal 15 Desember 2020 dan tanggal 31 Desember 2020 kepada Bank Cimb Niaga dan juga sudah bertemu langsung dengan Wahyudi pada bulan Oktober 2020 sampai dengan November 2020.

“Namun tanggal 2 Februari 2020 klien saya kembali mendapati surat dari Bank Cimb Niaga tertanggal 19 Januari 2021 yang pada intinya pernyataan telah terjadi Pengalihan Hak Tagi (Piutang) dari Bank Cimb Niaga terhadap kredit klien saya,” ungkapnya.

Selain itu, Nasrul juga mendapati pesan melalui aplikasi WhatsApp-nya dari pihak Bank Cimb Niaga. Pesan tersebut berisi surat dengan No. 690 / CRAD-PA / SMT / MZ / IX / 2020 tertanggal 30 September 2020.

“Padahal saat itu klien saya tidak pernah menerima surat tersebut sama sekali. Adapun inti dari surat tersebut adalah surat pemberitahuan telah terjadi cessie kredit antara klien saya kepada Wahyudi,” tegasnya.

Selain itu, sejak Wahyudi memegang cessie kredit tersebut, Wahyudi tidak pernah menghubungi dan memberitahukan kepada kliennya selaku pemilik rumah.

Tidak hanya itu, Nasrul juga mengungkapkan bahwa diketahui Wahyudi telah menjual rumah tersebut kepada Juliana (pihak ke-4) sebesar Rp 650 juta. “Atas dasar tersebut, kami melaporkan Bank Cimb Niaga dan pihak ke-3 (Wahyudi) ke Polsek Batam Kota,” tutupnya.

Menurut Ipda Yustinus, pihaknya masih terus melakukan pengembangan terhadap kasus ini. “Karena tidak tertutup kemungkinan adanya pihak lain yang bisa ditetapkan sebagai tersangka,” ujarnya. (Shafix)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here