Ketua PWI Kepri: Siapapun tak Bisa Menghalang-halangi Tugas Wartawan

Chandra Ibrahim , Ketua PWI Kepri koleksi pribadi)

Batamxinwen, Batam – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kepri menegaskan  sikapnya terkait kejadian tidak mengenakan yang dialami oleh wartawan Liputan 6.com bernama Ajang Nurdin. Ajang  dicekik dan dipiting pada saat hendak melakukan wancara cegat (door stop) Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi di Rusun BP Batam Tanjunguncang, Batuaji, Batam.

Ketua PWI Kepri, Candra Ibrahim ketika dikonfirmasi menegaskan siapapun tidak boleh menghalang-halangi tugas wartawan dalam meliput karena dilindungi oleh UU Pers.

“Wartawan juga bekerja dalam rangka memerangi hoax yang banyak beredar di tengah masyarakat. Sebab itu hargai ketika mereka bekerja sesuai UU,” tegasnya.

Menurutnya, sebaiknya pengawal Menhub atau siapapun yang melakukan tindakan tersebut, lebih humanis dalam menjalankan tugas.

“Jika Menhub tidak berkenan wawancara door stop, sebaiknya diinformasikan saat wartawan diundang. Wartawan ke situ kan diundang, bukan datang begitu saja,” jelasnya.

Diwartakan sebelumnya, berdasarkan kronologis kejadian, saat itu Ajang hendak mewancarai atau melakukan door stop Menhub Budi Karya Sumadi usai meninjau Rusun BP Batam. Belum sempat mengajukan pertanyaan, Ajang langsung didorong pada bagian lehernya oleh salah satu ajudan Budi Karya Sumadi. Setelah itu, petugas lain yang tidak diketahui dari instansi mana, langsung  memiting sembari menyeret Ajang menjauh dari rombongan Menhub RI tersebut.

“Bro, wawancara nanti di pelabuhan [Pelabuhan Ferry Batam Center],” katanya setelah melepas pitingan.

Menurut pengakuan Ajang, dia tidak mengetahui kalau Budi Karya Sumadi tidak dapat diwawancarai saat itu. Berdasarkan jadwal kunjungan kerja Menhub RI itu di Batam pun, tidak disebutkan sama sekali bahwa door stop dilarang.

Tindakan intimidasi ini jelas bentuk kekerasan terhadap jurnalis dan mengancam kebebasan pers di Batam dan secara luas di Indonesia.

Atas kejadian yang dialami rekan kami, Ajang Nurdin, maka AJI Batam menyatakan sikap:

1. Mengecam intimidasi yang dilakukan secara arogan oleh oknum pengamanan Menteri Perhubungan terhadap Ajang Nurdin kontributor Liputan6.com.

2. Mengimbau semua pihak untuk menghargai, memahami kerja-kerja jurnalisme dan menghormati kebebasan pers di Batam, dan di seluruh Indonesia secara umum. Kami   mengingatkan bahwa dalam menjalankan tugasnya jurnalis dilindungi oleh undang-undang. Pasal 18 UU Pers No. 40 tahun 1999 menyatakan, “Dalam melaksanakan profesinya wartawan mendapat perlindungan hukum.” Penghalang-halangan upaya jurnalis untuk mencari dan mengolah informasi pun, dapat dipidana dalam pidana kurungan penjara selama 2 tahun atau denda paling banyak Rp500 juta.

3. AJI Batam menegaskan jurnalis harus dilindungi dalam melaksanakan tugas peliputan demi mencari kebenaran yang hakiki bagi masyarakat, meskipun mendatangkan kebencian dari pihak tertentu.

AJI Batam berharap kejadian yang menimpa Ajang Nurdin tidak terulang lagi bagi jurnalis lain di Batam dan di Indonesia di masa mendatang. (Shafix)

x

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here