ist

Batamxinwen, Jakarta – Penggunaan internet di Hong Kong berpeluang dilarang untuk meredam demonstrasi yang terus memanas sejak tiga bulan belakangan.

“Di tahap ini, pemerintah akan mempertimbangkan segala cara untuk menghentikan kerusuhan. Kami tidak menutup kemungkinan untuk melarang internet,” ujar seorang anggota dewan eksekutif Hong Kong, Ip Kwok-him, seperti dilansir AFP.

Internet sendiri merupakan media para demonstran untuk menghimpun kekuatan sebelum turun ke jalan. Melalui berbagai jejaring sosial, para demonstran menyatukan pikiran untuk menyusun rencana aksi.

Mereka juga menggunakan kekuatan internet untuk menyatukan pikiran dan aspirasi yang bakal mereka suarakan melalui demonstrasi.

Awalnya, mereka hanya menyuarakan penolakan atas rancangan undang-undang ekstradisi yang memungkinkan tersangka satu kasus diadili di luar wilayah Hong Kong, termasuk China.

Namun belakangan, mereka juga menuntut agar pemimpin eksekutif Hong Kong, Carrie Lam, mengundurkan diri. Pada akhirnya, mereka menuntut Hong Kong benar-benar lepas dari China.

Ketika bentrokan antara pengunjuk rasa dan aparat semakin sering terjadi, mereka juga berbagi metode perlindungan diri melalui jagad maya.

Pergerakan melalui media sosial ini pun menjadi inspirasi bagi mahasiswa Indonesia yang belakangan ini menggelar demonstrasi untuk menolak sejumlah rancangan undang-undang kontroversial.

Mereka mengunggah sejumlah artikel dan video yang menunjukkan taktik pedemo Hong Kong dalam menghadapi polisi saat berunjuk rasa, termasuk cara menghindari dampak tembakan gas air mata, peluru karet, hingga meriam air.

Sebuah video berisi teknik dan tips menghadapi gas air mata saat berdemo yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia bahkan dengan cepat menjadi viral di media sosial. Video itu telah dilihat lebih dari 1 juta warganet.

Sejumlah warganet Indonesia turut menyebarkan video itu dengan keterangan “dapat ditiru” hingga “tips dari Hong Kong.” (*)

Sumber: CNNIndonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here