BP Btam
Logo BP Batam

Batamxinwen, Batam – Badan Pengusahaan (BP) Batam bersikukuh agar PT Adhya Tirta Batam (ATB) menyerahkan seluruh asetnya sebelum konsesi berakhir.

Dalam rapat dengar pendapat DPRD Batam, Jumat (25/9), serta dihadiri Manajer Sumber Daya Air, Limbah dan Lingkungan BP Batam, Ibrahim Koto menyebutkan, termuat aturan bahwa jelang berakhirnya kerja sama, pihak perusahaan penerima konsesi wajib menyerahkan semua fasilitas lama maupun baru dalam keadaan baik dan berfungsi dalam perjanjian konsesi.

Ibrahim menambahkan, perkara ini dapat berbuntut panjang apabila hak dan kewajiban ke dua belah pihak dalam konsesi belum terpenuhi.

Untuk itu, pihaknya menilai, dituntut semangat bersama untuk menyelesaikan sengketa ini dengan segera.

Seperti diketahui, PT ATB mengelola air bersih di Batam selama 25 tahun sejak tahun 1995 dan berakhir pada 14 November 2020

“Kami sangat merespon investasi, tapi tentunya setelah jalin kerja sama akan ada evaluasi, yakni yang dilihat adalah sikap kooperatif dan koordinasi yang baik.

Pihak BP Batam berhak mengambil sikap atas hasil evaluasi yang diperoleh,” ucapnya.

Sementara Kepala BP Batam, Muhammad Rudi, menyatakan pihaknya telah mendorong Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) untuk audit atas proses pengakhiran kerjasama dengan PT ATB.

Dari hasil laporan pemeriksaan BPKP, tambahnya, didapat kesimpulan bahwa seluruh aset yang didapat dari pelaksanaan perjanjian kerjasama konsesi, termasuk semua aplikasi yang sedang digunakan PT ATB dalam pengelolaan air harus diserahterimakan kepada BP Batam.

“Karena BP Batam adalah pemerintah, dan kedua, air ini adalah hajat hidup orang banyak,” tegas Rudi.

Pihaknya berharap, sengketa ini tidak sampai menghambat distribusi air bagi masyarakat Kota Batam, sebab, kebutuhan akan air terus berjalan baik sebelum maupun sesudah perjanjian konsesi BP Batam dengan PT ATB berakhir.

Tanggapan ATB

Tarik ulur nasib pengelolaan air di Batam jelang konsesi ATB berakhir kian menjadi polemik.

Presiden Direktur PT Adhya Tirta Batam (ATB), Benny Andrianto Antonius mengatakan, ATB akan mengembalikan 107 ribu sambungan air beserta sejumlah aset lama yang bukan milik ATB jelang berakhirnya konsesi.

Seperti diketahui, PT ATB mengelola air bersih di Batam selama 25 tahun sejak tahun 1995 dan berakhir pada 14 November 2020.

Dalam awal perjanjian menurut Benny, BP Batam hanya memberikan tugas bagi PT ATB untuk mengelola dan melayani 107 ribu sambungan air pelanggan di Kota Batam.

Seiring berjalannya waktu, dengan berbagai ekspansi yang dilakukan oleh PT ATB, sambungan air bertambah menjadi kurang lebih 295 ribu.

Menurutnya, terdapat sejumlah kewajiban yang harus dibayarkan oleh BP Batam apabila aset-aset baru milik PT ATB juga turut diserahkan kepada pengelola baru, beserta dengan 188 ribu sambungan air lainnya.

“Kelebihannya yang 188 ribu itu masih pelanggan PT ATB,” tegas Benny, Minggu (27/9/2020).

Apabila penyelesaian hak dan kewajiban atas pengalihan aset baru belum dilakukan, Benny akan mengusulkan alternatif solusi lain, yakni pengelolaan air dapat dibagi menjadi dua.

Dari enam Water Treatment Plant (WTP) di Kota Batam, lima di antaranya dapat langsung dialihkan dan dikelola oleh PT Moya Indonesia selaku pemenang tender pengelolaan air selama transisi konsesi berakhir.

“Silahkan operasikan lima WTP, saya yang Duriangkang saja,” ujar Benny.

Sumber: Tribunbatam.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here