Secangkir Kopi dan Musik adalah Kerinduan Thekopikepress

Perindu menikmati secangkir kopi dan live musik di Thekopikepress. Sabtu (22/2). Foto: Ferdi, BX Rivaldi

Batamxinwen, Batam – Ruangan kedai itu cukup luas, hiasan dindingnya terpampang foto-foto musisi lawas. Ditambah lagi susunan meja dan bangku terbuat dari kayu palet. Sesekali terdengar alunan musik live dari para perindu. Tak lupa canda, tawa, santai bersama para sahabat karib turut juga mencairkan setiap sudut suasana ruangan itu.

Semua orang tentu pernah mengalami kerinduan. Ia perlu bertemu untuk mengobati kerinduannya. Rindu itu beragam serta beragam cara pula untuk mengobatinya. Bisa bertemu langsung lalu menyeruputnya yaitu kopi strong one merupakan solusi terbaik bagi pelanggan Thekopikepress.

Kopi dan musik memiliki keterkaitan erat bagaikan dua sisi mata uang yang tak dapat dipisahkan. Melalui secangkir kopi semua orang dapat berkumpul bercengkerama bercerita lika-liku kehidupan sosial atau pun bermain musik bersama. Begitulah kira-kira gambaran interaksi sosial yang terjadi di Thekopikepress.

“Bisa saja yang pada awalnya belum saling mengenal. Lalu, akhirnya saling mengenal di kedai kopi ini, secara langsung kami ingin mengumpulkan para perindu Kota Batam atau sebutan nama para pelanggan kedai kami yang sering mengopi dan bermain musik bersama-sama,” ujar Ferdi, Owner Thekopikepress, Jumat (28/2).

Nanang Ferdiansyah, sapaan akrabnya. Ia lebih dikenal dikalangan penikmat kopi sebagai tukang reparasi gitar, pemain bass, sekaligus sarjana akutansi yang memiliki usaha Papadi Batam Guitar Works dan Thekopikepress. Beralamat Jalan Tiban III, Patam Lestari, Sekupang Batam.

“Ia bercerita sejarah awal berdiri Thekopikepress yang terinspirasi dari Wapress yang berada di Kebayoran Jakarta Selatan. Kenapa sih, Kota Batam yang sudah maju begini, tidak memiliki kedai kopi tempat tongkrongnya para seniman-seniman untuk berkarya atau berdiskusi tentang literasi seni budaya yang ada Kota Batam.  Padahal jika dilihat potensi Kota Batam sangat kuat sekali untuk menjadi destinasi wisata surganya para pelancong. Terutama pada bidang seni dan budaya, apalagi Kota Batam berbatasan langsung dengan negara Singapore dan Malaysia,” ujar Ferdi, Owner Thekopikepress, Jumat (28/2).

Dari kutipan wawancara di atas terlihat jelas ada harapan Ferdi untuk Kota Batam ini maju di bidang seni budaya. Ada suatu fenomena menarik saat berada di Thekopikepress. Para pemuda dan pemudi sangat betah untuk nongkrong berjam-jam menikmati secangkir kopi sembari menikmati pertunjukan live musik. Ruangan itu seperti memberi daya tarik kepada para perindu untuk menghilangkan sesaat batas-batas sosial di antara mereka. Lalu, melebur menjadi satu saat berada di Thekopikepress. Tentu perilaku itu tergambar melalui sikap keterbukaan owner mengajak siapa saja untuk bergabung bermain musik secara bersama-sama.

Sepertinya ruang-ruang publik sosial seperti Thekopikepress menjadi salah satu alternatif yang dibutuhkan oleh generasi milineal saat ini. Tujuannya agar para milineal itu dapat mengekspresikan diri, serta menjalin silaturahmi sesama para pemuda–pemudi Batam. Thekopikepress buka pada pukul 11.00 wib siang hingga pukul 00.00 malam.

Menurut Kinoy seorang pelanggan tetap Thekopikepress, “ciri dari Thekopikepress itu ialah apresiasi seni, serta suasana kekeluargaannya terasa sekali. Kalau rasanya kopinya sama saja dengan kedai kopi lainnya. Paling ada beberapa kopi yang diracik sebagai pembeda dengan kedai kopi lainnya. Cuman kalau di sini, harganya lebih merakyat dari pada kedai kopi lainnya,” ujar Kinoy, pelanggan tetap Thekopikepress, penikmat kopi, barista, dan musisi Kota Batam, Jumat (28/2).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here