Sekda Meranti Ajak Peran Aktif RT/RW Atasi Stunting

Batamxinwen, Kepulauan Meranti – Sekretaris Daerah Kepulauan Meranti Yulian Norwis mengajak jajaran RT/RW serta tokoh masyarakat untuk berperan aktif mendukung Pemerintan Daerah mengatasi stunting (kekurangan gizi) pada balita di Kepulauan Meranti. Menurutnya, tanpa peran serta dan dukungan masyarakat, penuntasan masalah stunting, yang menjadi isu nasional saat ini, tidak akan optimal.

“Saya harap RT/RW dan tokoh masyarakat serta ulama dapat mendukung upaya Pemda mengentaskan stunting di Kepulauan Meranti. Dengan cara menyampaikan lewat pertemuan dan dakwah agama bagaimana cara menghidari stunting bagi ibu hamil dan balita 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK),” ujarnya saat membuka kegiatan Stop Stunting yang dilaksanakan oleh UPT Puskemas Selatpanjang, bertempat di Ballroom Hotel Grand Meranti, Selasa (10/12).

Dijelaskan Sekda, Pemerintah Kepulauan Meranti sesuai intruksi yang disampaikan oleh Pemerintah Pusat berkomitmen menuntaskan  masalah stunting. Apalagi Meranti telah ditunjuk sebagai salah satu locus (lokasi) penuntasan masalah stunting di Provinsi Riau.
Ditunjuknya Meranti sebagai locus penuntasan stunting karena kabupaten termuda di Riau ini berada pada kawasan perbatasan.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Meranti, sebanyak 1.170 balita di Meranti menderita stunting atau 12 persen dari total balita Se-Kabupaten Meranti.

Meski secara angka tergolong cukup besar namun diakui Kepala Dinas Kesehatan Meranti dr. Roswita, jumlah balita penderita stunting di Meranti masih di bawah rata-rata nasional yang mencapai 30.8 persen.

Saat ini, Pemkab Meranti, telah membentuk Tim Satgas Penuntasan Stunting yang berkoordinasi dengan OPD/Dinas terkait, pihak kedesaan, kecamatan serta kader posyandu untuk melakukan pendataan dan penanganan cepat.

Adapun strategi penanganan akan difokuskan pada desa-desa yang memiliki angka stunting di atas 20 persen.

“Karena kita sudah ditetapkan sebagai locus penuntasan stunting di Provinsi Riau, saya harap kader posyandu, tokoh agama di Majelis Taklim dapat mensosialisasikan kepada para ibu hamil dan memiliki balita tentang definisi stunting dan cara menanganinya, sehingga tidak ada lagi balita di Meranti yang menderita stunting,” jelasnya lagi.

Dan kepada para ibu hamil dan memiliki balita berusia 1000 HPK (hari pertama kehidupan), diimbau untuk memeriksakan kehamilan dan membawa balitanya secara rutin ke posyandu dan puskemas sehingga perkembangan janin dan balita dapat dipantau. Andai kata terindikasi stunting dapat segera dilakukan penanganan.

“Kami berharap kepada Para ibu dapat memeriksakan perkembangan janin dan balitanya, sehingga memudahkan pihak kesehatan untuk melakukan intervensi spesifik dan intervensi sensitif dalam upaya mengantisipasi masalah stunting,” papar Sekda.

Intervensi spesifik adalah upaya untuk mencegah dan mengurangi masalah gizi secara langsung. Sementara Intervensi sensitif berkaitan dengan air bersih dan sanitasi untuk menghidari ibu hamil dan balita dari kuman penyakit yang menjadi salah satu faktor penyebab stunting.

Terakhir kepada Camat, Kades dan Lurah, Sekda Meranti meminta kepada Camat, Kades dan Lurah setempat turun langsung ke lapangan bersama kader posyandu untuk memantau kondisi kesehatan masyarakat, khususnya ibu hamil dan balita.

“Tujuannya agar stunting dapat diantisipasi dan diatasi,” pungkas Sekda.

Turut hadir dalam kegiatan Stop Stunting yang ditaja Puskesmas Selatpanjang, antara lain Kepala Puskesmas Selatpanjang dr. Joko Santoro, Danramil Selatpanjang Mayor Inf. Irwan, Perwakilan Dinas Kesehatan, Para Dokter, Para Kades dan Lurah, kader posyandu, ibu hamil dan pemilik balita. (Defryanto)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here