Perahu-perahu nelayan di Pantai Terih, Kecamatan Nongsa, Kota Batam. Area tangkap ikan yang kian menyempit akibat reklamasi dikeluhkan sejumlah nelayan tradisional. Foto: BX/Bintang

Batamxinwen, Batam “Tuh!” ujar Hasim sambil menunjuk ke arah Pantai Ocarina yang berjarak tempuh hanya 10 menit dari kampungnya, Pantai Terih, Kecamatan Nongsa, Kota Batam.

“Dulu, di sana paling banyak ketam benjong, udang belanak. Sampai 100 kilogram kita dapat. Boleh tanya lah sama nelayan lain,” kata pria 58 tahun ini pada Batamxinwen.com, Minggu (4/8).

Minggu siang tadi langit sedikit redup. Hembusan angin terasa cukup kencang menghapus peluh setelah berjalan kaki menuju kedai kecil di atas pelantar kayu milik Hasim di pinggir pantai.

Rimbunan pohon mangrove melindungi kedai dari terik sinar matahari. Tangan Hasim cekatan meraih dua gelas kaca berisi teh manis. Suguhan sederhana dari seorang nelayan paruh baya.

“Kalau dulu bukan sombong, bawa ember jalan ke pinggir pantai saja penuh isi ikan. Sekarang, nyari seekor saja rasa mau mampus,” kata Hasim memulai obrolan.

Hasim mengenang, dulu, ketika laut di seputaran Batam belum disulap menjadi daratan oleh orang-orang yang ia sebut tak bertanggung jawab, melaut setengah hari saja ia bisa membawa pulang udang dan kepiting hingga 50 kilogram.

Saat itu, kata Hasim, kesulitan nelayan bukanlah menangkap ikan. Tapi sulit membawa pulang ikan hasil tangkapan. Kala itu Ikan, udang dan ketam melimpah.

Sulit membawa pulang hasil tangkapan menjadi cerita lama. Kini, ceritanya berganti tentang ulah para “penjahat berkerah” yang membuat pikiran nelayan seperti Hasim menjadi keruh. Sekeruh air laut yang diurug tanah hingga menjadi sebuah daratan yang luasnya berhektar-hektar. Reklamasi.

Reklamasi daratan umumnya dilakukan dengan tujuan perbaikan dan pemulihan kawasan berair yang rusak atau tak berguna menjadi lebih baik dan bermanfaat.

Namun sayang, nelayan seperti Hasim dan banyak nelayan lainnya hanya kebagian dampak negatif reklamasi seperti meningkatnya kekeruhan air, tercemarnya laut, genangan di kawasan pesisir, rusaknya habitat dan ekosistem laut, yang menyebabkan kurangnya mata pencaharian karena makin menyempitnya area tangkap ikan. Maanfat reklamasi hanya untuk mereka yang “berkerah”.

Nasib nelayan makin keruh seperti lautnya. Untuk menangkap ikan, nelayan harus melaut jauh ke tengah. Imbasnya pada kebutuhan bahan bakar. Parahnya, tak hanya dampak reklamasi yang membuat dapur nelayan nyaris tak mengepul. Aktivitas tambang pasir juga ikut andil memberi dampak negatif pada ekosistem laut dan kehidupan nelayan.

Sejumlah pulau tercatat mengalami kerusakan ekologis karena aktivitas tambang pasir yang cukup parah. Bahkan ada beberapa pulau yang nyaris tenggelam. Kerusakan ekologis paling anyar terungkap ketika Gugus Keamanan Laut Koarmada I menutup aktivitas sebuah perusahaan tambang pasir di Pulau Citlim, Karimun. Pulau Sebait dan Pulau Pandanan dilaporkan nyaris tenggelam karena pasirnya dikeruk.

Pasir hasil tambang ini juga banyak digunakan sebagai material reklamasi. Padahal, jika harus melakukan reklamasi, jelas diatur bahwa salah satu sumber material tanah reklamasi hanya boleh diambil dari lahan yang tandus dan tidak boleh sampai merusak lahan subur.

Masih jelas dalam ingatan Hasim, ketika perlahan ia menyaksikan alat-alat berat menimbun sekitar 200 hektar hutan mangrove di perairan Bengkong untuk direklamasi. Begitu juga nasib sekitar 200 hektar lebih hutan mangrove di pantai Ocarina.

Reklamasi tak hanya merampas hutan mangrove dan jernihnya laut beserta ekosistemnya.Tapi, juga merampas mata pencaharian nelayan seperti Hasim.

Hingga waktu akhirnya sampai pada titik di mana keresahan laut dan nelayan yang selama ini teraniaya oleh reklamasi yang sarat rasuah terjawab. Operasi Tangkap Tangan Komisi Pemberantasan Korupsi mengungkap suap dalam perizinan reklamasi di Batam. Mereka yang “berkerah” satu persatu mulai terseret dalam “keruh” nya dugaan korupsi.

“Batam ini memang harus maju. Tapi laut harus dijaga. Kalau bukan kita siapa lagi yang menjaga laut. Mereka hanya tahu uang saja, tapi, tidak tahu tentang kesedihan alam,” kata Hasim sambil menyalami Batamxinwen.com yang pamit pulang membawa sepenggal cerita keruhnya dampak reklamasi. (Bintang)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here