Bekas Pelatih Manchester United (MU) Jose Mourinho. Foto/BX/IST

BatamXinwen – Mulai Selasa (18/12/2018), Jose Mourinho resmi menjadi pengangguran. Manchester United dan dirinya memutuskan untuk mengakhiri kerja sama yang terjalin sejak dua tahun silam.

Sebelum meramal pelabuhan Mourinho selanjutnya, ada baiknya menilik karakteristik tim yang pernah ditanganinya. Secara karakter, Mourinho bukanlah pelatih yang cukup telaten untuk membangun tim yang dalam masa pertumbuhan. Sejak meninggalkan FC Porto ke Chelsea 2004 silam, dia selalu bernaung ke kesebelasan-kesebelasan mapan.

Inter Milan, Real Madrid, dan Manchester United yang dibesut Mourinho setelahnya–adalah representasi klub mapan di masanya, setidaknya kuat secara sumber daya pemain dan finansial. Sampai di sini, kecil kemungkinan bagi Mourinho untuk menjadi arsitek klub ‘nanggung’ macam Atletico Madrid, Napoli, atau Borussia Dortmund.

Kans untuk menyeberang ke klub Inggris lain juga tak cukup terbuka lebar. Chelsea mulai mapan dengan Maurizio Sarri, Liverpool dengan Juergen Klopp-nya apalagi. Manchester City juga hampir tak mungkin. Merapat ke Arsenal dan Tottenham Hotspur juga tak mudah karena mulai settle dengan para arsiteknya.

Lantas, ke mana kira-kira The Special One akan melangkah? Nih, temukan jawabannya berikut ini.


Inter Milan

Besar peluang Mourinho untuk CLBK dengan Inter. Selain dari memori indah treble yang belum tergantikan, kredibilitas Luciano Spalletti juga sedang dipertanyakan.

Pelatih berkepala pelontos itu gagal membawa Inter lolos ke babak 16 besar Liga Champions. Memang kondisi Nerazzurri tak semewah dulu, akan tetapi kedatangan mantan CEO Juventus, Beppe Marotta, bisa mengembalikan Inter ke jalan yang benar–khususnya dalam berbelanja pemain.

Andai bukan Inter, AC Milan yang baru saja diakuisisi Elliott Management bisa menjadi pilihan ideal ketimbang Napoli, AS Roma, atau Juve. Tim yang disebut belakangan hampir mustahil mengingat hubungan Mourinho tak cukup bersahabat.


Bayern Muenchen

Bayern Muenchen memiliki hampir semua kriteria ideal Mourinho: mapan secara skuat serta finansial, dan juga dominan di pentas liga. Komposisi pemain Die Roten juga mendukung Mourinho untuk mengaplikasi pakem defensif. Toleh saja deretan nama besar macam Mats Hummels, Jerome Boateng, dan Manuel Neuer yang menghiasi skuat Bayern saat ini.

Terlebih taji Bayern di musim ini juga tak tajam-tajam amat di bawah arahan Niko Kovac. Thomas Mueller dan kawan-kawan cuma nangkring di urutan ketiga klasemen Bundesliga sementara, 9 angka lebih sedikit dari Dortmund yang bertengger di puncak.

Nah, kedatangan Mourinho ini bisa mengembalikan martabat Bayern. Yang jadi masalah, Bayern terbilang pelit soal belanja pemain. Nyatanya, masih Corentin Tolisso yang jadi pembelian terbesar mereka dengan banderol 43,5 juta euro, tak genap setengah dari mahar Pogba yang menyentuh angka 105 juta euro.


Paris Saint-Germain

Sebelas-dua belas dengan Bayern, Paris Saint-Germain (PSG) juga menjadi wadah ideal jika menilik rekam jejak klub-klub asuhannya. Nilai plusnya, Qatar Sports Investments (QSI) selaku pemilik PSG sudah lama menjalin hubungan dengan Mourinho.

Pada 2014 lalu QSI terbilang intens berkonsultasi dengan pelatih berusia 55 tahun itu sejak mengakuisisi PSG. Bahkan, mereka juga sempat mengatakan kepada Telefoot bahwa Mourinho merupakan pilihan utama hingga akhirnya Les Parisiens menjatuhkan pilihannya kepada Carlo Ancelotti 2011 lalu.

Di sisi lain, kecil kemungkinan PSG untuk melepas Thomas Tuchel. Selain kontraknya akan berkahir pada Juni 2020 mendatang, dia juga terbukti mampu dalam memadukan Neymar dan Kylian Mbappe secara bersamaan. Satu hal lagi, regenerasi pemain muda PSG yang sebelumnya pampat juga berhasil dilancarkan oleh Tuchel.


Real Madrid

Eksistensi Mourinho di Madrid adalah ironi. Berjubel sumber daya yang dimiliki El Real hanya dibayar dengan tiga gelar, La liga, Copa del Rey, dan Piala Super Spanyol.

Dari sana terbukti bahwa impresi Mourinho tak bagus-bagus amat di mata Madrid. Itu belum dihitung dengan tak akurnya Mourinho dengan para pemain penting Madrid kala itu, Sergio Ramos dan Iker Casillas.

Namun, bukannya Madrid tak butuh akan sosok pelatih berpengalaman. Mereka masih kelimpungan setelah ditinggal Zinedine Zidane. Keberadaan Santiago Solari memang cukup mengikis kekhawatiran, akan tetapi arsitek asal Argentina itu belum cukup teruji karena baru menghadapi lawan-lawan yang relatif mudah, belum lagi dengan kekalahan memalukan 0-3 dari CSKA Moskow di Liga Champions.(*)

Sumber : kumparan.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here