Batamxinwen, Batam – Johanes Kodrat adalah pihak swasta yang menjadi saksi fakta terkait kasus dugaan suap dan gratifikasi yang mendera Gubernur Kepulaun Riau (nonaktif) Nurdin Basirun.

Ia diduga merupakan perantara yang membantu Abu Bakar meminjamkan uang ke Kock Meng untuk mengurus izin prinsip di Kampung Tua Tanjungpiayu Laut, sehingga terjadi kasus suap yang menjerat Nurdin.

Namun, bagaimana sosok Johanes Kodrat pun kini masih misterius. Padahal sebelumnya, dia telah memenuhi panggilan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ke Gedung Merah Putih, Jakarta Selatan pada Selasa (6/8/219) lalu.

Menurut Juru Bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Febri Diansyah sebagaimana yang dihimpun, pemanggilan Johanes dan saksi lainnya itu bertujuan untuk kebutuhan penelusuran atas tersangka Nurdin Basirun.

Melihat hal itu Batamxinwen.com mencoba melakukan penelusuran di berbagai akun media sosial guna menemukan pria tersebut dan mencoba mengungkap siapa dia.

Hasilnya kami menemukan satu akun yang diduga adalah sosok ‘Johanes Kodrat’ di akun sosial media Facebook. Dimana dalam akun tersebut sosok pria berkacamata keturunan etnis Tionghoa sebagai pemiliknya.

Johanes Kodrat. Foto : FB

Untuk memastikan kebenarannya kami mencoba mengkonfirmasi data yang kami dapat kepada Abdul Rahman, Ketua RT 01, Kampung Tua Tanjungpiayu Laut. Menurut pengakuannya dia sudah dua kali bertemu Johanes Kodrat yang dijadwalkan diperiksa KPK bersama pengusaha Batam lainnya, Kock Meng, itu.

“Iya benar, itu orangnya,” kata Rahman ketika dilihatkan foto sosok yang diduga adalah Johanes Kodrat, Kamis (29/8).

Johanes Kodrat sendiri tampak akrab sekali dengan laut. Itu dapat dilihat dari banyak foto dan video di akun youtubenya sedang berlayar dan memancing ikan berukuran besar.

Selanjutnya, Abdul Rahman sendiri mengaku telah dua kali bertemu Johanes Kodrat serta Kock Meng, yang pada saat itu mengajaknya makan di sebuah restoran seafood di Tanjungpiayu Laut.

Dalam pertemuan itu pun kata Rahman, Kock Meng meminta dirinya menjelaskan kepada warga terkait lahannya di bibir pantai Tanjungpiayu Laut seluas 50 m2 x 85 m2 yang ditunda menjadi Kampung Tua oleh Pemko Batam karena bermasalah ikut terseret kasus Nurdin Basirun.

“Dia bilang ke saya, kalau warga tanya soal lahan bilang untuk buat restoran,” kata Rahman.

Untuk diketahui, KPK menetapkan Gubernur Kepulauan Riau Nurdin Basirun, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Edy Sofyan, Kapala Bidang Perikanan Tangkap Budi Hartono, dan pihak swasta bernama Abu Bakar sebagai tersangka.

KPK menjerat mereka dalam perkara suap izin prinsip dan lokasi pemanfaatan laut, proyek reklamasi di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil Kepri.

Uang suap sebesar 11 ribu dolar Singapura dan Rp 45 juta diberikan Abu Bakar untuk memuluskan izin pemanfaatan laut untuk melakukan reklamasi di Tanjung Piayu, Batam, yang dia ajukan kepada Pemerintah Provinsi.

Berdasarkan Informasi yang dihimpun Batamxinwen.com, dalam Izin Prinsip Pemanfaatan Ruang Laut yang dikeluarkan Gubernur Kepri, Nomor :120/0797/DKP/SET disebutkan; menindaklanjuti surat permohonan saudara ‘Kock Meng’ Nomor 018/Per-LAM Btm/2018 tanggal 1 Oktober 2018 dan nomor 019/Per-LAM Btm/2019 tanggal 3 April 2019.

Izin prinsip tersebut perihal permohonan Izin Prinsip Pemanfaatan Ruang Laut dengan tujuan untuk pengembangan kegiatan pariwisata dengan membangun rumah kelong di perairan pesisir dan laut Tanjungpiayu Laut, Batam dengan luas perairan 6,2 hektar.

Istri Abu Bakar, Suriana mengatakan bahwa yang mengenalkan Abu Bakar kepada Kock Meng adalah seorang pengusaha bernama Johanes Kodrat.

“Kata Istrinya, Abu Bakar bisa kenal sama Kock Meng melalui Johanes Kodrat, kalau beliau saya tau, dia memang yang punya lahan bersebelahan dengan lahan yang dibeli Kock Meng,” ungkap Rahman, Rabu (21/8) lalu. (Bintang)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here