BatamXinwen, Batam – Berawal dari tawaran-menawar menggiurkan tentang penjaja seks komersial di media sosial, hingga berlanjut pada “bisikan” oleh seorang penghubung, BatamXinwen menyingkap sedikit tabir bisnis para pekerja seks komersial (PSK) yang memanfaatkan hotel sebagai tempat tinggal, sekaligus tempat bertransaksi seks.

BX/Istimewa, Ilustrasi PSK

Rata-rata hotel kelas melati. Fasilitasnya, pendingin udara, springbed, kamar mandi dilengkapi washtofel, closed dan shower, televisi, satu set meja dan kursi, rasanya sudah cukup nyaman dijadikan tempat tinggal. Apalagi seorang diri. Nyaman sekali.

Jika dimanfaatkan untuk bertransaksi seks? Cukup aman juga nyaman. Tidak tercium. Pria hidung belang yang akan bertransaksi seksual tidak akan terlihat masuk ke hotel berdua dengan seorang wanita.

BX/Istimewa, Ilustrasi PSK

Sang lelaki tinggal datang, tanpa check-in kamar terlebih dahulu. Tinggal datang, ketuk pintu kamar hotel, seorang wanita pekerja seks sudah menunggu.

Hitung punya hitung, bagi pria hidung belang, ini lebih irit. Karena si pria hanya membayar tarif seksnya saja tanpa harus mengeluarkan biaya lagi untuk sewa kamar hotel.

Berapa sih tarif yang dipatok untuk sekali transaksi singkat, atau yang kerap disebut short time?

“Short time Rp500 ribu. Ada yang Rp300 ribu,” kata seorang penghubung menawarkan wanita pekerja seks pada Batamxinwen, Jumat (18/5) malam.

“Kalau booking sampai pagi Rp 1,2 juta. Ada yang Rp800 ribu juga. Tengok aja dulu bang, kalau tak cocok bisa cancle,” lanjut pria yang sehari-hari bekerja sebagai tukang ojek yang jadi penghubung ini.

Sepakat. Si penghubung pun mengantarkan kami ke sebuah hotel melati di bilangan Pelita.

Setelah menghubungi si wanita, penghubung pun mengantar hingga ke pintu kamar di lantai dua.

Pintu diketuk. Seorang wanita berusia tiga puluhan tahun membuka pintu dan mempersilahkan masuk.

Setelah beberapa menit terlibat obrolan, dengan alasan ingin mencari pilihan lain.

BX/Istimewa, Ilustrasi PSK

Tentu dengan meninggalkan sedikit uang tips, Kami pun beranjak pergi.

BatamXinwen pun beralih menemui seorang wanita yang menjajakan dirinya di sebuah group facebook.

Setelah chat di facebook dan diberi nomor whatsapp, komunikasi pun berlanjut dengan janji bertemu.

Tak jauh beda dengan wanita pertama. Kami langsung menuju ke hotel di bilangan Batuampar.

Tarifnya tak beda jauh. Fasilitas hotelnya pun beda tipis saja. Dan, yang juga sama, bahwa keduanya sama-sama menjadikan hotel itu sebagai tempatnya tinggal dalam waktu lama, juga sebagai tempatnya bertransaksi seks.

“Paling sebulan sekali saya pulang ke rumah keluarga,” kata wanita bertubuh langsing yang menawarkan seks komersialnya malam itu.

BX/Istimewa, Ilustrasi PSK

Keberadaan pekerja seks long stay atau tinggal dalm waktu lama di hotel melati itu, secara bisnis tentu menguntungkan pihak hotel.

Selain itu, para penghubung yang kebanyakan tukang ojek atau supir taksi freelance, juga ikut kecipratan komisi dari setiap transaksi ‘lendir’ tersebut.

Jadi, rasanya tak bisa dipungkiri, dari sisi bisnis, keberadaan pekerja seks komersil yang memanfaatkan hotel itu, menjadi roda penggerak bisnis terselubung. (jkf)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here