Ilustrasi - Wisma Batamindo yang terletak di di Kawasan Industri Batamindo, Mukakuning, Batam. Foto/BX/IST

BatamXinwen, Batam – Empat Perusahaan Pemodal Asing (PMA), akan mulai beroperasional di Kawasan Industri Batamindo, Mukakuning, Batam.

Keempat perusahaan tersebut adalah Pegatron asal Taiwan, Maruho asal Jepang, Simatelex asal Hongkong, dan Sammyung dari Korea Selatan. Dimana keempat perusahaan ini masuk ke dalam kategori perusahaan, yang bergerak di bidang industri manufaktur dan elektronik.

Hal tersebut juga dibenarkan oleh General Manager Batamindo, Mook Soi Wah yang ditemui di kantor Badan Pengusahaan (BP) Batam, Rabu (20/2). Rencana investasi ke empat PMA tersebut, akan menanamkan investasi di Batam sebesar USD 50 juta atau setara Rp701,6 miliar.

“Ke empat perusahaan ini juga telah mengantongi Nomor Induk Berusaha (NIB), dan Izin Usaha Industri (IUI) melalui Online Single Service (OSS). Dari perkiraan kami, keempat perusahaan ini akan membutuhkan 1.300 tenaga kerja,” ujarnya.

Dari data yang diberikan oleh Mook Soi Wah, rincian investasi dari empat perusahaan tersebut adalah, Pegatron berinvestasi sebesar USD 40 juta, Maruho berinvestasi sebesar USD 1,6 juta, Samyung berinvestasi sebesar USD 4,5 juta, dan Simatelex berinvestasi sebesar USD 3,2 juta.

“Secara resmi gedung-gedung yang akan mereka sewa telah kami serahterimakan dan mereka saat ini sedang dalam proses renovasi yang memerlukan  kurang lebih 3 bulan dan diperkirakan April 2019 akan operasional secara bertahap,” lanjutnya.

Mook melanjutkan, adanya pemilihan Batam merupakan dampak dari perang dagang antara Amerika Serikat dan China. Ia menambahkan, selain keempat PMA ini ada juga perusahaan Supply Chain untuk perusahaan yang telah beroperasi di Kawasan Industri Batamindo. Seperti Sammyung yang memiliki Supply chainnya dari PT. Excelitas yang juga melakukan perluasan usaha tahun ini.

“Ini semua tidak terlepas dari dukungan semua pihak di Batam, mulai dari Lukita Dinarsyah Tuo (Kepala BP Batam sebelumnya), serta dilanjutkan di bawah kepemimpinan Kepala BP Batam saat ini Edi Putra Irawady yang juga sudah well informed dan beliau siap mengawal investasi, baik yang akan masuk maupun yang akan ekspansi,” terangnya.

Di tempat yang sama, Wakil Ketua Himpunan Kawasan Industri (HKI) Kepri Tjaw Hioeng juga menyatakan hal senada. Namun ia menegaskan, bahwa seluruh PMA akan tetap melirik Batam apabila iklim investasi khususnya di Free Trade Zone (FTZ) Batam tetap kondusif.

“Tetapi masih ada beberapa hal yang harus mendapatkan perhatian seperti infrastruktur pendukung atau jalan menuju kawasan industri yang perlu diperlebar. Jalan menuju ke Kawasan Industri Kabil juga perlu mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah. Karena sering banjir pada saat turun hujan dan sangat tidak memadai untuk ukuran jalan menuju kawasan industri. Kemudian jalan dari arah Batuaji menuju simpang Kepri Mal juga perlu diperlebar karena sering terjadi kemacetan,” paparnya.

Di samping itu, rasa aman dan nyaman dalam berinvestasi sangat diperlukan oleh para investor-investor itu. Menurut Tjaw Hioeng, debottle-neckling atau menghilangkan sumbatan-sumbatan  yang menghambat kinerja investasi seperti tata kelola upah. Di mana produktivitas pekerja yang menurun tetapi upah meningkat, soal ketrampilan, masalah regulasi yang kompleks, tidak harmonis dan tidak sinkronnya regulasi  antara Pemerintah Pusat dan Daerah serta biaya ekonomi tinggi wajib harus dilakukan.

Kemudian melanjutkan pembangunan infrastuktur dengan fokus menghubungkan pusat-pusat industri dan membangun industri supply chain dalam rangka menurunkan biaya logistik yang tinggi.

“Kehadiran Klinik berbasis online service submission (OSS) Garda pengawalan dan penyelesaian masalah amat dibutuhkan sehingga diharapkan tidak ada lagi hal-hal yang sifatnya “multi-tafsir” terhadap sebuah permasalahan yang timbul,” tutupnya.

Sementara Direktur Kawasan Industri Kabil Peter Vincent menyampaikan bahwa tahun ini beberapa perusahaan akan segera beroperasi. Seperti PT. Energo RPO, PT. Agri Energi Nusantara, PT. Petro Papua Energi, PT. Torrefaction Bioenergery Indonesia, PT. EC Research & Development dan satu anak perusahaan Djarum yakni PT. AEN juga akan memulai pembangunan.

“Kami melihat di industri minyak dan gas sudah mulai mendapatkan job dari dalam negeri dan luar negeri seperit Australia. Industri penunjang migas juga tengah bagus sehingga saya yakin pertumbuhan perekrutan tenaga kerja juga akan bagus seperti PT. SMOE, PT. Bredero Shaw dan lainnya,” ucapnya.

Sebelumnya PT. Excelitas juga diketahui sedang dalam proses expansi dengan penambahan investasi sebesar USD 5 juta dan tambahan tenaga kerja sebanyak 140 orang. Di samping itu, PT. Rubycon juga dalam proses ekspansi dengan tambahan nilai investasi sebesar 4 juta dolar amerika dan diperkirakan akan membutuhkan tambahan  tenaga kerja  sebanyak 250 orang.

“Dalam waktu dekat ini beberapa tenant seperti Ciba Vision, SIIX, NOK Asia Batam dan Infineon juga akan melakukan ekspansi,” tutupnya.(fat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here